"Bintang, jangan ngelihatin aku terus ah. Aku jadi malu," Naira tertunduk malu-malu namun rona pipinya yang sewarna lambang cinta itu tak dapat dipungkiri. Bintang tersenyum seraya mengacak rambut Naira pelan.
"Kamu lucu kalau lagi malu-malu begitu," balas Bintang kemudian.
Naira mendongak, menatap wajah Bintang yang kini menatapnya dengan tatapan, entahlah, sayang mungkin.
"Kamu hebat Nai, dengan kondisi seperti kamu tapi kamu bisa memperjuangkan hak kamu sebagai seorang manusia. Mungkin bagi sebagian orang di luar sana, profesi kamu ini hina, tapi siapa yang mau pada awalnya untuk seperti ini? Mereka hanya bisa menuduh tanpa memberikan solusi.."
Naira sekali lagi terpana pada pria tampan di hadapannya. Pria itu sebenarnya semangat Naira memperjuangkan keberadaan dirinya sebagai seorang manusia. Menjelaskan pada orangtua dan keluarganya akan keadaannya setelah bertahun lamanya mereka menolak menerima keadaan dirinya yang seperti ini. Akhirnya, perjuangan itu memberikan hasil juga, batin Naira pelan.
Ia menggenggam tangan Bintang kemudian mengecupnya pelan.
Tampilkan postingan dengan label #FF2in1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #FF2in1. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 April 2013
Rabu, 06 Maret 2013
Sinar Cinta
Sinar memandangi sosok di depannya. Matanya yang bulat membesar indah saat sosok di hadapannya tersebut bergerak, terseyum, tertawa. Bahkan Sinar pun ikut tertawa! Satu hal yang sangat jarang terjadi pada Sinar.
Sosok di hadapnnya, yang hanya dapat Sinar nikmati hanya dengan menjadi teman terdekatnya kini berbalik. Wajahnya berseri-seri penuh gairah kesenangan, mau tak mau, seperti terhipnotis, Sinar ikut tersenyum karenanya. Satu hal lagi yang Sinar jarang lakukan.
Apa cinta yang dapat membuat Sinar seperti ini?
Masih tersenyum, Sinar menghampiri Rian. Duduk di hadapan lelaki yang sudah menjadi temannya semenjak dua tahun lalu.
Sinar harus mengatakannya! Sekarang juga! Ia tidak akan menunggu lagi! Sinar memberanikan diri, memegang lengan Rian, ditatapnya Rian dengan penuh makna.
"Rian..." ujar Sinar dengan degup kencang jantung mengiringinya. Rian balas menatap Sinar, ada raut kebingungan di sana.
"Ya Sinar? Ada apa?" tanya Rian tanpa menaruh curiga sedikitpun.
Degup jantung Sinar semakin bertalu-talu. Bagaimanapun ia harus mengatakan ini pada Rian! Ia tak mau lagi kehilangan kesempatan. Tidak untuk kedua kalinya!
Sosok di hadapnnya, yang hanya dapat Sinar nikmati hanya dengan menjadi teman terdekatnya kini berbalik. Wajahnya berseri-seri penuh gairah kesenangan, mau tak mau, seperti terhipnotis, Sinar ikut tersenyum karenanya. Satu hal lagi yang Sinar jarang lakukan.
Apa cinta yang dapat membuat Sinar seperti ini?
Masih tersenyum, Sinar menghampiri Rian. Duduk di hadapan lelaki yang sudah menjadi temannya semenjak dua tahun lalu.
Sinar harus mengatakannya! Sekarang juga! Ia tidak akan menunggu lagi! Sinar memberanikan diri, memegang lengan Rian, ditatapnya Rian dengan penuh makna.
"Rian..." ujar Sinar dengan degup kencang jantung mengiringinya. Rian balas menatap Sinar, ada raut kebingungan di sana.
"Ya Sinar? Ada apa?" tanya Rian tanpa menaruh curiga sedikitpun.
Degup jantung Sinar semakin bertalu-talu. Bagaimanapun ia harus mengatakan ini pada Rian! Ia tak mau lagi kehilangan kesempatan. Tidak untuk kedua kalinya!
Rabu, 16 Januari 2013
Menunggumu
Kau akan menungguku bukan? Dan kembali bertemu. Di sini, tepat lima tahun lagi.
Aku menggenggam jemariku kuat-kuat sambil merapatkan mantel beludru berwarna merah pada tubuhku yang mulai menggigil kedinginan. Udara memang sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini dan hujan turun tiada henti sepanjang pagi tadi. Namun untung saja, ketika aku mulai melangkahkan kaki menuju stasiun, hujan mulai mereda, seakan memberi restu untukku berjalan. Untuk menemuimu. Di sini. Seperti yang kau janjikan lima tahun yang lalu.
Tiga jam berlalu. Orang silih berganti naik turun kereta di hadapanku. Katamu, kau akan sampai di stasiun pukul satu, namun sampai saat ini batang hidungmu tak terlihat juga. Aku mengabaikan perut yang keroncongan semenjak tadi. Terlalu antusias menunggu kedatanganmu. Lima tahun yang lalu kau pergi, melaksanakan kewajibanmu untuk membela negara di provinsi paling ujung barat Indonesia. Lima tahun diriku dilanda gelisah. Aku mendengar kabarmu hanya melalui berita di tv dan terkadang itu membuatku ketakutan. Setiap penyiar menyebutkan jatuhnya korban jiwa, hatiku remuk seketika. Membayangkan kalau itu dirimu. Aku sungguh tak sanggup. Aku terlalu mencintaimu.
Kamis, 08 November 2012
Josh
Josh menghampiri Keila yang berbaring di atas tempat tidurnya. Keila merengut dilemparnya Josh dengan salah satu bantalnya tapi sayang, Josh terlalu cekatan sehingga bantal itu tak mengenai tubuhnya.
"Kemana aja Josh?" tanya Keila malas. Ia beringsut duduk ketika Josh naik ke atas tempat tidurnya. Josh memalingkan wajahnya dari tatapan Keila.
"Nggak ada kamu seminggu ini, aku hampa Josh," ujar Keila seraya memeluk Josh. Josh menggeliat geli.
"Kamu tahu Josh, kamu penyemangat aku nomer satu, yang bikin aku betah di rumah, yang selalu bikin aku tertawa dengan tingkahmu yang lucu, atau lihat kamu makan aja aku udah gemes banget Joosshh!!"
Dikecupnya bibir Josh sekilas membuat Josh menggeliat lagi.
"Lihat Josh, seminggu kamu pergi, kamu kucel banget! Nggak mandi berapa lama sih kamu?" Keila menatap lekat-lekat wajah Josh. Matanya menatap Keila lama sekali.
"Tuh, lihat kan, kamu juga rindu aku Josh!!" Dipeluknya Josh sekali lagi.
"Jangan pernah tinggalin aku lagi ya Josh, nggak ada kamu, hidup aku nggak indah!"
Keila melangkah keluar dari tempat tidur, kemudian membawa Josh dalam pelukannya. Josh yang sedari tadi diam pun akhirnya bersuara.
Meong!!
"Kemana aja Josh?" tanya Keila malas. Ia beringsut duduk ketika Josh naik ke atas tempat tidurnya. Josh memalingkan wajahnya dari tatapan Keila.
"Nggak ada kamu seminggu ini, aku hampa Josh," ujar Keila seraya memeluk Josh. Josh menggeliat geli.
"Kamu tahu Josh, kamu penyemangat aku nomer satu, yang bikin aku betah di rumah, yang selalu bikin aku tertawa dengan tingkahmu yang lucu, atau lihat kamu makan aja aku udah gemes banget Joosshh!!"
Dikecupnya bibir Josh sekilas membuat Josh menggeliat lagi.
"Lihat Josh, seminggu kamu pergi, kamu kucel banget! Nggak mandi berapa lama sih kamu?" Keila menatap lekat-lekat wajah Josh. Matanya menatap Keila lama sekali.
"Tuh, lihat kan, kamu juga rindu aku Josh!!" Dipeluknya Josh sekali lagi.
"Jangan pernah tinggalin aku lagi ya Josh, nggak ada kamu, hidup aku nggak indah!"
Keila melangkah keluar dari tempat tidur, kemudian membawa Josh dalam pelukannya. Josh yang sedari tadi diam pun akhirnya bersuara.
Meong!!
Jake
Karenina berjalan menuju altar dengan hati gelisah. Digenggamnya buket bunga itu kuat-kuat demi mengalihkan debar jantungnya yang teramat kencang. Di sisinya ia melihat Marco, tampak apik dengan setelan jas hitamnya. Ia memandang mata biru ayahnya itu, seakan meminta kepastian. Ayahnya tersenyum sambil mengangguk, kemudian melepas lengan putri semata wayangnya itu.
Jake memandang Karenina penuh cinta. Satu-satunya wanita yang mampu meleburkan segala asa dalam dadanya dan mau menerima kehidupan Jake yang serba berantakan.
Karenina tergugu. Ia mengecupnya sepenuh hati. Bulir air mata menetes satu persatu melewati pipinya yang lembut. Jake akan selalu ada dalam hatinya, dalam ingatannya, dan dalam bayangnya.
Pekat menyapa, Karenina bangkit dengan perasaan gelisah luar biasa setiap meninggalkan pemakaman ini, meninggalkan khayalan bahwa ia dapat menikah dengan Jake, dan ia mengecup nisan Jake sekali lagi sebelum ia melangkahkan kaki.
Senin, 05 November 2012
Al
"Kamu suka es krim?" tanya Adel sambil mengacungkan sebuah es krim cokelat ke arahku. Aku menggeleng.
"Kamu nggak suka?" tanyanya lagi seakan tak percaya. Memangnya kenapa sih dengan manusia dan es krim? Apa mereka harus selalu saling menyukai?
"Aku nggak suka Adel," jawabku jengah. Adel kembali menaruh es krimnya ke kantong plastik hitam kemudian menaruhnya tepat di hadapanku.
"Lima bulan kita pacaran aku seperti nggak kenal kamu Al, aku bahkan baru tahu kamu nggak suka es krim," ujarnya datar. Aku berpaling dari tatapannya dan pura-pura fokus mentatap jalanan lengang di sebelahku.
"Kamu nggak perlu tahu," kataku akhirnya. Adel mendesah pelan.
"Aku perlu tahu karena kamu pacarku Al, aku perlu tahu mana hal yang kamu suka, mana hal yang kamu nggak suka. Lima bulan ini yang aku rasain aku buta."
Aku mendelik. Gusar sekaligus kesal.
"Buta?" tanyaku bingung.
"Aku buta tentang kamu Al. Kamu nggak pernah membiarkan aku untuk mempelajarimu, membuatmu senang karena apa yang aku lakukan, membuatmu tersenyum atau tertawa walau sebentar."
Giliran aku yang mendesah.
"Lima bulan ini, justru waktu yang paling lama yang pernah aku berikan pada orang yang belajar tentang diriku, kamu tahu aku, kamu mengerti aku,"
"Mengerti kamu? Tentang apa Al? Kamu lihat sendiri kan hal sekecil es krim cokelat aja aku nggak tahu sama sekali,"
"Kamu tahu sekarang kan?"
Aku tersenyum menatap Adel yang mulai kesal. Aku meraih tangannya kemudian mengecup buku-buku jarinya.
"Mungkin aku memang pendiam, pria paling pendiam yang pernah kamu kenal. Tapi Del, aku memang begini. Aku bingung harus memberitahu kamu dari mana tentang hal-hal yang aku benci atau aku suka. Aku nggak ngerti caranya Del, maka dari itu, aku mohon, kamu jangan berhenti untuk belajar tentang aku yah seperti aku yang nggak akan berhenti belajar tentangmu walau mungkin belajar tentang aku itu butuh waktu yang lama dan sulit, jangan menyerah yah Del. Aku butuh kamu,"
Adel terdiam. Wajahnya serius sekali menatap wajahku.
"Ya, kita berjuang sama-sama ya Al, saling mempelajari, saling mengerti." kata Adel akhirnya.
Aku menyentuh pipinya dengan ujung jariku.
Aku tahu dia mencintaiku dan aku tak perlu kata-kata I Love You untuk membuktikannya.
"Kamu nggak suka?" tanyanya lagi seakan tak percaya. Memangnya kenapa sih dengan manusia dan es krim? Apa mereka harus selalu saling menyukai?
"Aku nggak suka Adel," jawabku jengah. Adel kembali menaruh es krimnya ke kantong plastik hitam kemudian menaruhnya tepat di hadapanku.
"Lima bulan kita pacaran aku seperti nggak kenal kamu Al, aku bahkan baru tahu kamu nggak suka es krim," ujarnya datar. Aku berpaling dari tatapannya dan pura-pura fokus mentatap jalanan lengang di sebelahku.
"Kamu nggak perlu tahu," kataku akhirnya. Adel mendesah pelan.
"Aku perlu tahu karena kamu pacarku Al, aku perlu tahu mana hal yang kamu suka, mana hal yang kamu nggak suka. Lima bulan ini yang aku rasain aku buta."
Aku mendelik. Gusar sekaligus kesal.
"Buta?" tanyaku bingung.
"Aku buta tentang kamu Al. Kamu nggak pernah membiarkan aku untuk mempelajarimu, membuatmu senang karena apa yang aku lakukan, membuatmu tersenyum atau tertawa walau sebentar."
Giliran aku yang mendesah.
"Lima bulan ini, justru waktu yang paling lama yang pernah aku berikan pada orang yang belajar tentang diriku, kamu tahu aku, kamu mengerti aku,"
"Mengerti kamu? Tentang apa Al? Kamu lihat sendiri kan hal sekecil es krim cokelat aja aku nggak tahu sama sekali,"
"Kamu tahu sekarang kan?"
Aku tersenyum menatap Adel yang mulai kesal. Aku meraih tangannya kemudian mengecup buku-buku jarinya.
"Mungkin aku memang pendiam, pria paling pendiam yang pernah kamu kenal. Tapi Del, aku memang begini. Aku bingung harus memberitahu kamu dari mana tentang hal-hal yang aku benci atau aku suka. Aku nggak ngerti caranya Del, maka dari itu, aku mohon, kamu jangan berhenti untuk belajar tentang aku yah seperti aku yang nggak akan berhenti belajar tentangmu walau mungkin belajar tentang aku itu butuh waktu yang lama dan sulit, jangan menyerah yah Del. Aku butuh kamu,"
Adel terdiam. Wajahnya serius sekali menatap wajahku.
"Ya, kita berjuang sama-sama ya Al, saling mempelajari, saling mengerti." kata Adel akhirnya.
Aku menyentuh pipinya dengan ujung jariku.
Aku tahu dia mencintaiku dan aku tak perlu kata-kata I Love You untuk membuktikannya.
Sabtu, 03 November 2012
Lima Tahun
Coraline membuka payungnya walaupun hujan masih rintik. Ia menegakkan bahunya, mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya yang terserak dan ia mulai melangkah. Melewati kerumunan manusia lain yang sibuk menutupi kepala dengan tangan atau dengan benda apapun yang dapat menahan gururan air yang intensitasnya kini mulai meningkat.
Tangannya gemetar menahan beban air yang menghunjam payungnya, namun sebenarnya bukan itu. Dadanya masih sesak dengan kejadian tadi. Lima belas menit yang memorak-porandakan harga diri dan kepercayaannya selama lima tahun. Ya, ironis memang. Lima tahun yang hanya dibayar dengan lima belas menit.
Coraline terdiam. Di tengah pusaran arus manusia lalulalang di sekitarnya. Membuat sedikit kemacetan di tengah pedestrian. Ada yang tak bisa dibendungnya. Coraline membuka tamengnya, memperlihatkan kerapuhannya. Ia menangis dalam diam, dalam rinai hujan yang kian menderu deras, memanfaatkan keadaan agar ia tak bisa mendengar tangisnya sendiri karena itu memilukan.
Lima tahun lalu saat Dion memintanya. Ia berlutut dengan rasa gemetar, memandang mata azzura Coraline yang sendu yang ditatapnya dengan segenap cinta yang ia miliki saat itu. Dion meminta Coraline menjadi pendamping hidupnya, perempuan yang bisa ia lihat saat ia akan menutup mata di malam hari dan membuka mata pada pagi harinya, perempuan yang ia yakini dapat membuatnya merasa utuh.
Coraline bergeming menatap mata hitam Dion yang memandangnya penuh cinta, memancarkan sejuta pengharapan bagi hubungan mereka. Dion masih menatapnya. Bergelimang rasa kasih dan cinta. Namun yang dikatakan Coraline akhirnya, membuat Dion menunduk.
Aku butuh waktu. Lima tahun.
Lima tahun seperti yang telah mereka sepakati, Coraline yang sudah siap, menemuinya di sudut jalan pertama mereka saling mengenal lalu jatuh cinta, sudut jalan tempat Dion melamarnya.
Lima tahun yang mengubah segalanya.
Ada Dion di sana, masih tampan seperti biasa, menggandeng seorang balita yang diakuinya anaknya.
Coraline membuang payungnya. Membiarkan hujan menghapus segalanya. Segala keterlambatannya.
Tangannya gemetar menahan beban air yang menghunjam payungnya, namun sebenarnya bukan itu. Dadanya masih sesak dengan kejadian tadi. Lima belas menit yang memorak-porandakan harga diri dan kepercayaannya selama lima tahun. Ya, ironis memang. Lima tahun yang hanya dibayar dengan lima belas menit.
Coraline terdiam. Di tengah pusaran arus manusia lalulalang di sekitarnya. Membuat sedikit kemacetan di tengah pedestrian. Ada yang tak bisa dibendungnya. Coraline membuka tamengnya, memperlihatkan kerapuhannya. Ia menangis dalam diam, dalam rinai hujan yang kian menderu deras, memanfaatkan keadaan agar ia tak bisa mendengar tangisnya sendiri karena itu memilukan.
Lima tahun lalu saat Dion memintanya. Ia berlutut dengan rasa gemetar, memandang mata azzura Coraline yang sendu yang ditatapnya dengan segenap cinta yang ia miliki saat itu. Dion meminta Coraline menjadi pendamping hidupnya, perempuan yang bisa ia lihat saat ia akan menutup mata di malam hari dan membuka mata pada pagi harinya, perempuan yang ia yakini dapat membuatnya merasa utuh.
Coraline bergeming menatap mata hitam Dion yang memandangnya penuh cinta, memancarkan sejuta pengharapan bagi hubungan mereka. Dion masih menatapnya. Bergelimang rasa kasih dan cinta. Namun yang dikatakan Coraline akhirnya, membuat Dion menunduk.
Aku butuh waktu. Lima tahun.
Lima tahun seperti yang telah mereka sepakati, Coraline yang sudah siap, menemuinya di sudut jalan pertama mereka saling mengenal lalu jatuh cinta, sudut jalan tempat Dion melamarnya.
Lima tahun yang mengubah segalanya.
Ada Dion di sana, masih tampan seperti biasa, menggandeng seorang balita yang diakuinya anaknya.
Coraline membuang payungnya. Membiarkan hujan menghapus segalanya. Segala keterlambatannya.
Langganan:
Postingan (Atom)