Minggu, 06 Januari 2013

Kamu, Pria Berkemeja Biru


Untuk...

Kamu, pria berkemeja biru yang duduk di sudut, wajahmu menunduk, fokus pada sebuah buku di tanganmu.

Kamu, pria yang sesekali melihat ke arah jendela, menikmati rinai hujan yang berderai di luar, jemarimu sesekali menyentuh kacanya, mencoba merasakan dinginnya pada kulitmu yang putih.

Kamu, pria yang sesekali tertawa, seakan menikmati bahan bacaanmu yang setumpuk di atas meja.

Kamu, pria yang sesekali menyesap minuman dalam cangkirmu perlahan, memejamkan matamu sedetik, menikmati rasanya dalam lidahmu.

Rabu, 02 Januari 2013

Black Confetti 10

Aku terbangun keesokan harinya di pelukan Aras. Tangannya melingkar di pinggangku dengan protektif sementara tubuhnya menempel erat di tubuhku. Aku menikmati semua sentuhannya dan tak ada niat sedikitpun untuk melepas pelukan Aras. Mungkin ini aneh. Bagaimana bisa aku merasa nyaman berada dalam dekapan tubuhnya padahal aku sangat membencinya. Aku membenci manusia yang terlelap di sampingku ini. Aku membenci segala bentuk kearogansian yang selalu ditunjukkannya kepadaku.

Aras bergerak dalam tidurnya kemudian perlahan-lahan membuka mata.

"Kedua kalinya kita tidur bareng, San.." sapa pria itu. Aku membalas tatapannya dan dalam sedetik sebuah ciuman kecil mendarat di bibirnya. Aras tersenyum kemudian memejamkan matanya lagi. Mengambil napas dalam-dalam, seakan-akan melihat ia berpikir keras apa arti ciumanku barusan. Belum pernah aku menciumnya dan ciuman itu ialah ciuman pertamaku untuk Aras.

"Kamu berani banget, San," kata Aras penuh teka-teki. 
"Berani apa?" tanyaku bingung.
"Cium aku seperti tadi," jawabnya.

Black Confetti 9

"Aku tidur di kamar sebelah," ujar Aras sambil memasang muka malasnya untuk ke sekian kalinya hari ini. 
"Setuju! Kalau kamu sampai masuk ke kamar aku, awas aja!" Ancamku. Aras melenggang masuk ke kamarnya, tak peduli ancamanku barusan. Oke, kalau cowok itu bisa bersikap sebegitu cueknya terhadapku, aku juga bisa!

Aku melangkah menuju kamar yang seharusnya menjadi kamar bagi kami berdua, namun mengingat keadaan kami yang menikah karena terpaksa, tanpa saling cinta, hanya benci yang menggelora, mana mungkin dan tidak akan mungkin aku mau sekamar dan tidur bareng dengannya (lagi)!

Kamar ini cukup luas untuk ditempati sendirian. Terdapat satu tempat tidur ukir jepara yang terbuat dari jati dan memiliki empat tiang yang terdapat kelambu putih di setiap sisinya. Wallpapernya sendiri bermotif floral berwarna pastel. Di kedua sisi tempat tidur terdapat nakas kecil yang juga terbuat dari jati. TV layar datar yang ditaruh menempel di dinding di hadapan tempat tidur satu-satunya yang terlihat modern di kamar ini. Ya, sebelumnya menurut penjelasan mama papa Aras tadi, kamar ini merupakan kamar Oma dan beliau menginginkan kami untuk tidur di sini.

Sebuah lemari yang diletakkan di sudut kamar mengusik perhatianku. Mau tak mau aku menghampiri dan melihat ke dalam isinya dan ya pakaianku lengkap di taruh di sana, bersisian dengan pakaian Aras. Pasti Bi Onah yang menaruh semua baju-baju ini di sana mengingat koper-koper yang tadi di bawanya. Aku mengambil sepasang piyama berwarna pink dari tumpukan pakaian dan mulai memakainya. Berjalan ke arah tempat tidur yang terlihat mengundang. Baru tubuhnya menyentuh seprai di tempat tidur, diriku langsung merasa kegerahan. Entah ini karena cuaca atau karena bahan seprainya yang memang panas yang jelas aku tidak bisa tidur dalam keadaan seperti ini dan pilihannya adalah membuka jendela kamar lebar-lebar atau menyalakan kipas angin, secara sedari tadi aku tidak melihat satu AC pun di dalam rumah ini. Namun, tiba-tiba perasaan paranoid melandaku jika aku harus membuka jendela kamar. Bagaimana kalau ada penjahat yang masuk ke dalam kamar? Pembunuh berdarah dingin? Atauuu pemerkosa???!!!

GILA!

Aku beringsut ke atas kasur dan menarik selimut sampai ke ujung kepala. Keringat dingin bercampur gerah membaur menjadi satu. Kuputuskan untuk membuka piyama saja kalau cuaca sebegini panasnya, toh aku tidur sendiri juga bukan?

***

Mataku menerawang menatap langit-langit kamar, tak juga mau terpejam sejak dua jam yang lalu padahal kipas angin sudah kunyalakan sampai full, dan piyama pink yang tadi ku kenakan sudah ku buang jauh-jauh demi mengurangi panasnya cuaca malam ini, bahkan selimut pun sudah ku tendang entah kemana dan kondisiku sekarang, almost naked!

Brak!!!

Seketika pintu kamar terbuka dan membuatku gelagapan. Ya!! Aras berdiri di ambang pintu, melihatku lewat kedua bola mata cokelatnya tanpa berkedip. Secepat kilat aku meraih apapun yang ada di samping untuk menutupi tubuhku yang hanya berbalut underwear.

"Lo apa-apaan Ras!!" teriakku kencang. Aras yang sempat terdiam bego langsung menutup pintu di belakangnya dan setengah berlari ke arahku.

"Heh kamu mau ap.. ppppptttt," Aras menutup mulutku dengan telapak tangannya dan tak diragukan lagi dengan dirinya yang berada kurang dari satu meter di atasku dia dengan mudah melihat ke arah tubuhku. Aku meronta di bawahnya, mencengkram tangannya sekuat yang aku bisa namun tenagaku kalah kuat dibanding dirinya.

"Kamu, diem bisa nggak sih?! Dengerin aku ngomong!" Bentaknya sambil tangannya erat menutup mulutku dan tangan yang lain sibuk memegangi tanganku yang terus melakukan perlawanan terhadapnya. Bukannya berhenti, aku malah mengerahkan seluruh tenaga yang ku miliki untuk melawannya. Gila memang Aras, apa sih sebenarnya mau orang ini!

"Ck!" Wajah Aras mengeras, raut kekesalan jelas terpancar di sana. "Kalau aku ngelakuin ini, ini semua gara-gara kamu!"

Dalam waktu sedetik, wajah Aras berjarak beberapa senti saja dari wajahku dan tangannya terlepas dari mulutku, membiarkannya terbebas, memberi kesempatan padaku untuk memaki dirinya yang bersikap kurang ajar, namun Aras tak membiarkanku memiliki kesempatan untuk memakinya. Sesuatu yang hangat menempel di bibirku. Tubuhku kaku, diam, membeku.

***

" Nah kalau kayak gini kamu gampang disuruh diemnya," Aras tersenyum menatapku dan berguling ke samping, masih memegangi kedua tanganku takut-takut aku mulai meronta-ronta seperti kesetanan.
"Kamu sinting!" tuduhku dengan suara gemetar.
"Sebelum kamu nuduh aku sinting, mending kamu denger dulu penjelasanku, Cassandra," ia melepaskan kedua tanganku dan sempat ku lihat pandangan matanya yang turun ke bawah, dan ya terlambat sekarang untuk menutupi tubuhku toh Aras sudah menikmati pemandangan ini dari tadi. 
"Penjelasan apa?!" tanyaku sambil berusaha menutupi dadaku dengan kedua tangan. Aras sempat tertawa sebentar melihat tindakanku ini.
"Percuma, aku udah lihat jelas kok tadi, dan punya kamu nggak jelek-jelek banget kok."
Whattt?!! Apa maksudnya?! Oke, aku terima kalau dia sudah melihat tubuhku yang hampir naked ini, tapi empat kata terakhirnya itu membuatku murka!
"Oke, gini. Bi Onah dan Pa Ujang itu pembantu kesayangan Oma, dan mereka sudah hampir setengah hidupnya mengabdi ke keluarga kami. So, kalau mereka berdua tahu dan sadar kita berdua tidur pisah begini dan lapor sama mama papa apalagi Oma, bayangin aja apa akibatnya!"
Penjelasan Aras membuatku terhenyak. Apa yang ia katakan sepenuhnya benar, jika Bi Onah dan Pa Ujang tahu kalau aku dan Aras tidur pisah kamar, mama papa bisa murka dan Oma, aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.

"Terus, kamu mau tidur di sini?" tanyaku waspada. Aras mengangguk.
"Iya, aku mau tidur di sini, berdua. Sama kamu."

***

Tangan Aras lagi-lagi memelukku. Ini yang aneh dari Aras. Beberapa jam yang lalu dia bersikap jahat terhadapku, bahkan tidak pernah mengacuhkanku, namun, saat ini tubuhnya berjarak sangat teramat dekat denganku. Hembusan napasnya yang halus sesekali menggelitik hidung. Aku tak pernah bisa menjelaskan bagaimana sebenarnya hubunganku dengan Aras. Kadang kita seperti anjing dan kucing namun terkadang kita seperti amplop dan lemnya. Oke, ini memang perumpamaan yang sangat jadul, tapi di satu sisi aku sangat membenci Aras atas sikapnya, namun di sisi lain aku menyukainya. Ini gila, ya aku tahu. Bahkan lebih gila lagi kalau aku masih menggunakan underwear ketika dia memelukku seerat sekarang.


***

"Morning," suara seseorang membangunkanku. Aras tersenyum kemudian mencium bibirku sekilas.
"Aku nggak ngerti sama kamu." ucapku tanpa tedeng aling-aling. Kedua alis hitam Aras bertaut, lalu menatapku serius.
"Nggak ngerti gimana?" tanyanya.
"You said that you hate me, but look at we now Ras. You kissed me! You hug me so tight like this. Ini apa? Semua ini apa?"
"Aku juga nggak ngerti San. Sedetik aku benci kamu, sedetik kemudian aku ..."
"Aku apa?!"
"Aku nggak tahu San! Detik pertama aku pengen banget usir kamu dari hadapanku, tapi detik berikutnya aku pengen banget meluk kamu."
Aku terdiam. Kami berdua sama-sama terdiam. Bagai kata-kata kuno, batas antara cinta dan benci hanya sebesar satu desahan napas. Tipis.

Aku melirik ke arah tubuhku yang ternyata tanpa ku sadar ada selimut yang membalut tubuhku. Entah sejak kapan namun aku tahu, Aras pasti yang melakukannya.

"Sampai kapan kita ngelakuin sandiwara ini Ras? Sampai kapan?!" tanyaku putus asa. Aras mencium puncak kepalaku kemudian berkata, "Sampai Oma sembuh, San. Aku pun nggak tahu kapan."
"Nunggu Oma sembuh itu lama Ras, nggak akan bisa sebulan atau dua bulan! Kamu tahu sendiri dokter bilang apa tentang penyakit Oma dan kesembuhannya gimana. Butuh waktu bertahun-tahun Ras, untuk Oma bisa sembuh total, dan aku takut kalau aku nggak sanggup..."

"Sanggup apa San?" Aras semakin erat memelukku. 

"Sanggup untuk membenci kamu.." jawabku setelah diam yang cukup lama.

***

Minggu, 02 Desember 2012

Black Confetti 8

Aku melihat ayah ibuku di ruangan besar sedang bercakap-cakap dengan anggota keluarga lain dari Aras yang belum sepenuhnya aku kenal. Sementara sebagian besar keluarga besar Aras yang lain berkumpul di tengah-tengah ruangan itu menciptakan kehebohan tersendiri, saling melemparkan bahan ejekan, dan menggoda Aras yang hanya cemberut menanggapi ocehan orang-orang terhadap dirinya.

"Cassandra!!" seru mama Aras ketika matanya menangkap pandanganku. Beliau mengahampiriku lalu memelukku erat. Sangat erat malah sampai aku tak bisa berkutik dalam pelukannya. Sedetik kemudian seluruh wanita keluarga besar Aras mengerubungiku, memelukku, mencium pipiku dan mencubitnya sebagai tanda bahwa aku memang benar-benar diterima di keluarga heboh ini. Sudut mataku memandang Aras, yang terduduk malas di atas sofa. Matanya terarah ke jendela, tak melihatku sama sekali. Ya! Memang apa yang kuharapkan sih?!

"Happy wedding ya sayang, makin cantik kamu.." ujar Tante Kiran, tante dari pihak mama Aras, sambil mencium pipiku yang ku balas dengan senyum terpaksa. 

"Aduuuh, pengantin baru udah pulang. Gimana nih honeymoon singkatnya? Lancar dong?" kini giliran Tante Putri yang menggodaku. Mereka semua tertawa-tawa bahagia mendengar pertanyaan konyol Tante Putri sementara aku, ya, mau bagaimana lagi, hanya senyum yang dapat ku berikan sebagai balasannya.

"Anak mama udah pulang nih, jadi tambah dewasa gini sih sayang. Berarti jago banget dong Aras mendewasakan kamu...."

Ruang keluarga itu semakin riuh rendah akibat tawa yang keluar dari orang-orang di sana akibat perkataan mamaku. Ku lihat Aras bangkit dari sofanya dan beranjak dari sana. 

Jadi aku di sini, di tengah-tengah ayah dan ibu beserta keluarga besar baruku yang sedang heboh membahas bagaimana honeymoon-ku dengan Aras, hanya senyum dan tawa ceria yang ku dengar di telinga. Aku berdiri di sini, dikelilingi wanita-wanita yang sangat senang menggodaku dengan jokes pernikahannya, menghadapi ini semua dan Aras menghilang entah kemana. Tidakkah seseorang yang menyadari kepergiannya? 

Aku merasa sendiri. 

Ini paradoks.

***

Mama mencium pipiku bergantian dengan papa yang mengacak-acak rambutku dengan sayang seperti aku masih berusia sepuluh tahun. Sementara itu di sebelahku, ada mama papa Aras yang sedang berbicara dengan dirinya. Sepertinya pembicaraan yang membosankan karena ekspresi wajah Aras dari tadi siang hingga bulan mulai menampakkan diri dan angin malam mulai menyapa tetap sama. Kemudian mama papa Aras menghampiriku, bergantian memelukku erat.

"Ras, jaga Cassandra sebaik-baiknya. Papa hanya pesan itu sama kamu."

"Iya Pa, demi Oma."

DEG! Hatiku tiba-tiba berdesir kencang saat Aras mengatakan 'iya'. Ada kesungguhan dalam nada dari perkataannya barusan. 

"Dan, kalian berdua, jaga rumah ini baik-baik selama Oma masih di rumah sakit ya. Kami semua percaya bahwa kalian bisa menjaga ini semua, dan menjaga hati Oma agar beliau dapat segera pulih dari penyakitnya ya sayang," mama Aras membelai lembut pipiku dilanjut dengan membelai pipi putra satu-satunya itu.

"Ya sudah kalau begitu, kami berempat pulang dulu, kalian baik-baik ya di sini dan jangan lupa, " mama memegang perutku lalu mengusap-usapnya sehalus mungkin. Aku tahu apa maksudnya dan ku temukan wajah Aras menegang seketika.

"Jangan lupa cucu ya sayang." Mama Aras ikut mengelus perutku, membuat otot-ototku mengejang seketika. Mereka mengharapkan kehadiran seorang cucu! Ini gila namanya! Ini bahkan tidak masuk perjanjian dengan Aras!

"A-aku kan masih terlalu muda ma, masih harus menyelesaikan kuliahku dulu, mungkin kami tunda dulu untuk hamil, ya kan Ras?" Tanyaku linglung sambil menatap mata Aras dan meminta persetujuan atas pernyataanku.

"Hm, iya ma. Mungkin setelah kuliah Cassandra selesai, kita akan memulai program itu."

Program gigimu Ras! Jangan harap deh!! Batinku sedikit sebal.
Ke dua mama-ku tersenyum, kemudian melepas tangannya dari atas perutku.

"Iya deh, mama ngerti. Tapi jangan kelamaan ya sayang, mama pengen cepet-cepet gendong cucu. Ya kan Teh Nansie?" 

Wajah Teh Nansie yang merupakan nama dari mama Aras berbinar cemerlang. Beliau dipanggil 'Teh' oleh mama dikarenakan umurnya yang jauh lebih tua dibanding mamaku. Ya mungkin bedanya sekitar sepuluh tahun, mengingat jarak umurku yang juga sama-sama jauh dengan anaknya.

"Iya Lis, teteh pengen cepet-cepet gendong. Pengen cepet-cepet jadi nini (nenek) dan aki (kakek) ya.."

Papa mamaku beserta papa mama Aras terkekeh pelan. 

"Ya sudah ibu-ibu, lebih baik kita tinggalkan anak-anak kita. Kayaknya mereka kecapekan seharian ini dirongrong terus sama kita-kita yang tua ini. Ayok kita pulang." ajak papa pada mama dan mama Aras, seakan beliau mengerti akan perasaanku sekarang yang campur aduk dan tak kuat lagi membahas masalah anak-cucu-gendong dan sebagainya ini.

"Ya sudah deh, mama pulang ya nak, baik-baik di dieu nya, (di sini ya,). Baik-baik sama Aras ya sayang. " Sekali lagi mama memelukku. Rasanya berat sekali melepas kepergian mama karena ini tandanya aku benar-benar seutuhnya terlepas dari pengawasan mama papaku. 

"Aku sayang mama, sayang papa." kataku berusaha menahan air mata agar tidak terjatuh. Mama papa mengangguk lalu mereka berbalik, berjalan menjauh dariku dan menghampiri mobil sedan hitam yang di parkir di luar gerbang diikuti mama papa Aras yang melangkah menjauh menghampiri sedan silver yang terparkir di belakangnya.

Sebuah klakson pertanda mobil-mobil itu kini telah meninggalkan rumah mengagetkanku sekaligus menyadarkanku bahwa aku benar-benar sendiri di sini. Berkutat dengan segala pernikahan yang penuh kebohongan yang mau tak mau harus aku lakukan. Demi mama, papa, dan demi Oma Mer yang masih  terbaring di rumah sakit. Aku tak mau megecewakan mereka walau harus mengorbankan perasaanku, mengingat perlakuan Aras yang sama sekali tak pernah ramah kepadaku.

Angin malam semakin berani menyergap tubuh dan kuputuskan untuk segera kembali ke dalam rumah, tak peduli dengan sosok Aras yang masih berdiri tegak di teras yang nyala lampunya remang-remang. Mulai detik ini kehidupanku akan dimulai. Mencoba membayangkan kalau hidupku akan berjalan seperti biasa, dari mulai bangun pagi, pergi kuliah, berkumpul bersama teman-teman, mengerjakan tugas kelompok, menulis skripsi, pergi ke perpustakaan, lalu pulang ke rumah. Ya, setidaknya tidak akan ada yang berubah tentang itu. Mungkin. 

***



Sabtu, 01 Desember 2012

Lari 5

Javas mengajakku berkelana melalui kisah-kisah masa kecilnya yang sangat membahagiakan. Tentang bagaimana ia dan teman-temannya mencuri mangga di rumah tetangganya, pengalaman pertamanya kabur dari rumah karena ayahnya menolak memberikan Javas mobil remote control, saat ia kehilangan Bruno, seekor golden retriever kecil miliknya saat ia berusia sepuluh tahun. Aku terkesima. Sejujurnya bukan karena cerita-ceritanya tetapi oleh wajahnya dan bibirnya yang mengeluarkan kata-kata itu dan sorot matanya. Begitu hidup, begitu membangkitkan emosi, dan membuatku lupa. Lupa tentang bagaimana aku dapat berada di sini dan kejadian-kejadian melelahkan yang melatarbelakanginya.

"Sorry, nggak biasanya aku bicara sepanjang ini sama orang yang baru ku kenal. Maaf kalau kamu merasa terganggu, Al." Javas menatap wajahku, seketika sorot matanya berubah dari yang begitu hidup dan ceria menjadi ragu dan sedikit malu-malu. Aku menggelengkan kepalaku, pertanda tidak setuju dengan pernyataannya barusan.

"Aku seneng denger cerita kamu Jav." Kataku sembari tersenyum.

Gelas di hadapan kami semuanya sudah kosong sejak satu jam yang lalu, namun tak seorangpun diantara kami berniat untuk mengisinya lagi. Jarum jam pun tak terasa sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aku harus pulang. Ya, kembali ke apartemen kecilku di pinggiran kota yang hanya sebulan sekali aku mengunjunginya, hanya untuk bersih-bersih, karena sebagian besar hariku selama dua tahun belakangan ini ku habiskan di apartemen mewah di pusat kota, apartemen yang diberikan Ar.

"Kamu mau pulang?" tanya Javas melihat diriku mulai gelisah duduk di tempatku. Gelisah karena aku sama sekali tidak mengenal daerah ini karena aku berlari dan berlari tak tentu arah menyusuri gang-gang kecil dan secara tiba-tiba berada di daerah ini. Dan yang paling utama aku sangat membutuhkan taxi untuk pulang karena aku tidak membawa kendaraan!

"Iya, udah jam satu dan kondisiku bener-bener kacau, so, thanks for everything Javas. Nice to meet you." Aku bangkit dari dudukku, kemudian berjalan, berencana untuk menelepon taxi atau menunggu taxi di pinggir jalan atau bahkan jalan kaki. Yang pasti aku harus segera pulang dan melupakan segala kejadian yang terjadi antara aku dan Ar sesegera mungkin.

"Alila!"

Aku berbalik dan melihat Javas masih berdiri di tempat kami. Tubuhnya menjulang tinggi, kepalanya hampir saja menyentuh lampu gantung yang berada tepat di atasnya.

"Aku antar kamu."

***

Audi hitam itu meluncur bebas di atas aspal. Kondisi jalanan yang sangat lengang membuat perjalanan kami terasa begitu cepat. Selama Javas mengendarai mobilnya, tak sekalipun kami bicara. Aku tidak tahu mengapa namun ada sesuatu yang aneh dengannya. Dengan caranya memegang kemudi atau raut wajahnya yang kelihatan tegang saat ia menemukanku sedang menatapnya.

Lima menit kemudian, audi berbelok ke daerah apartemenku dan tidak sampai semenit audi hitam itu benar-benar berhenti tepat di depan pintu lobi apartemen.

Kami sama-sama terdiam. Begitu cepatnya atmosfir berganti antara aku dengan Javas. 

"Jav..." aku menghentikan kalimatku karena Javas mendahuluiku menyelesaikan perkataannya.

"Aku boleh mampir?"

Aku menyadari bahwa kondisiku sangat kacau sekarang dan aku benar-benar tidak mengerti mengapa Javas tidak merasa jijik terhadapku mengingat kondisiku yang semrawut seperti sekarang. Dan aku juga tidak mengerti mengapa aku mengatakan 'ya' saat dirinya meminta.

***

"Aku ganti baju dulu Jav," ujarku saat kami baru saja memasuki apartemen. Yah setidaknya kondisinya tidak terlalu buruk walau sudah dua minggu berlalu sejak terakhir kali aku membersihkan apartemen ini. Javas mengangguk, kemudian berjalan menuju jendela berukuran 3x3 meter yang mendominasi ruangan kecil apartemen ini. Pemandangannya sederhana, hanya pemandangan jalanan yang lengang di malam hari dan padat merayap di kala siang, namun ketika hujan dan air mulai membasahi jendela, menghadirkan suasana romantis yang tak pernah ku rasakan dimana pun. Dan kurasa itu adalah nilai lebihnya.

Aku masuk ke dalam kamar. Seperti kembali ke saat-saat dimana aku merasa bebas, merasa tak terkekang, tak ketakutan, dan merasa sendirian. Aku bahkan rindu untuk tidur di atas kasurku sendiri. Langkahku beralih menuju cermin ukuran 2x2 meter yang menyatu dengan lemari dan melihat bayanganku di sana. Kacau-balau! Bajuku kusut, wajahku merah, mataku bengkak, rambutku dicepol asalan. Tiba-tiba perasaan malu menjalar. Apa yang ada dipikiran Javas saat melihat kondisiku yang parah ini?! Cepat-cepat aku melangkah ke kamar mandi, tiga puluh menit untuk membuat diriku kembali normal. Yah, setidaknya mencoba untuk terlihat seperti manusia. 

***
"Maaf lama," ujarku setengah kaget melihat Javas masih asyik berdiri di samping jendela. Matanya menatapku secara intens, sebuah senyuman tersungging di bibirnya yang indah.

"Kamu mau minum? Sorry, tadi aku lupa nawarin." Mudah-mudahan Javas tidak meminta macam-macam karena terakhir yang aku ingat minuman yang ku punya hanya air putih.

"Nope. Aku suka banget sama konsep jendela ini Al." Javas melangkahkan kakinya dan menghampiriku yang memandanginya seperti orang bodoh. Terlebih karena apa yang ku kenakan sekarang. Piyama hangat berwarna pink yang sangat-amat kekanak-kanakan.

"Aku juga suka sama piyama kamu," ujarnya memamerkan senyumnya sekali lagi. Tiba-tiba saja aku merasa gerah dengan keberadaan Javas yang berdiri tak lebih dari satu meter di hadapanku. 

Berbagai pikiran muncul di dalam kepalaku tentang diriku dan Javas. Ia satu-satunya pria yang ku izinkan masuk ke dalam apartemen padahal aku baru mengenalnya tak lebih dari empat jam! Harus ku enyahkan cepat-cepat kegilaan ini!

"Hoaaaammm." Aku berpura-pura mengantuk, berharap Javas akan sengera mengerti dan pergi dari sini secepat mungkin. Sebetulnya itu bukan pura-pura. Terlalu banyak kejadian yang terjadi hari ini dan semuanya membuatku lelah dan ingin segera beristirahat di atas tempat tidur.

"Kamu ngantuk?" tanyanya. Aku mengangguk, setengah gembira karena akhirnya Javas sadar dan akan segera keluar dari sini. Bukan aku tak menyukainya, namun pesonya dirinya terlalu kuat. Dengan wajah aristokratnya yang sempurna di setiap lekukannya, warna bola matanya yang sehitam jelaga, dan tubuhnya yang ramping juga proporsional, siapa yang tega menolaknya? Javas benar-benar berbahaya bagi diriku yang rapuh seperti ini.

"Oke, aku antar kamu tidur."

Sejenak aku merasa was-was. Ia akan mengantarku tidur? Maksudnya? Ia bahkan tak mengatakan bahwa ia akan pulang dari sini secepat yang kuharapkan! Kakiku seakan terhipnotis oleh perintahnya sehingga kini aku sudah berada di atas tempat tidurku sendiri dan melihat Javas berdiri di sampingku, menyelimutiku hingga ke dagu. Tak ada niatan sama sekali untuk segera pergi. Kemudian ia melangkah pelan, mengitari tempat tidurku, lalu ia mulai merangkak naik ke sebelahku, membuat jantungku melompat saking kagetnya.

"Jav, apa yang kamu...''

"Sssshhhh.." Javas membungkamku dengan jari telunjuknya, secara tak langsung menyuruhku diam. 

"Aku tahu ini gila Al, tapi kamu benar-benar menghipnotis aku sejak saat kamu datang dengan wajahmu yang sayu ke kedai kopi tadi." Javas mengambil tanganku lalu mencium telapaknya. Tangannya yang lain ia rangkulkan ke pinggangku dan menarikku maju agar tubuh kami benar-benar semakin dekat. Ya, aku juga gila Jav, karena aku seperti tak berkutik meladeni segala permintaanmu.

Pertama-tama ia melingkarkan tangannya ke tubuhku, membuatku balas memeluknya dan menempatkan kepalaku ke dadanya yang terasa hangat. Detak jantungnya seperti irama musik tersendiri di telingaku dan ia menempatkan bibirnya di atas kepalaku. Jemarinya kemudian bergerak, membelai rambut panjangku yang tergerai bebas, ke punggungku, lalu berhenti kembali di pinggang. Jantungku berdetak dengan kecepatan ganda. Ada sesuatu yang aneh dengan interaksi tubuh kami. Ini tak biasa dan aku belum pernah merasakan ini dengan pria manapun kecuali Ar! Mungkin aku hanya rindu padanya karena malam ini tak ada Ar yang biasanya memelukku seperti ini. Perasaan itu kembali membuatku sedikit sedih.

Tanganku mulai bergerak, menyentuh wajah Javas. Menikmati wajah tampannya dengan jarak sedekat ini, merasakan hembusan napasnya yang terasa hangat di telapak tanganku yang dingin. Menyentuh lekukan bibirnya yang indah dan entah dorongan dari mana, aku menciumnya!

Napas kami beradu, bergerak seirama dalam ritmenya. Aku merasakan suatu keanehan lagi. Perasaanku seperti melambung dan.. Bahagia? Entahlah, yang jelas aku sangat menikmatinya. Benar-benar menikmatinya.

Perlahan-lahan jemari Javas bergerak turun, menyentuh kulit perutku lalu bergerak naik di balik piyama kekanak-kanakanku. Sejenak bibir kami terlepas. Matanya mencari persetujuanku. Dan kutemukan diriku berkata 'ya' untuk ke sekian kali atas permintaannya.

***