Minggu, 26 Agustus 2012

Back To The Past [Assrianti]

Tiga
Pria dihadapanku tersenyum. Tangannya terbuka lebar siap menyambut kedatanganku. Ingatanku melambung jauh, terpental ke masa tiga tahun silam saat aku baru pertama kali menginjakkan kaki di kota yang terkenal dengan sebutan kota hujan.
            “Jasmine?” tanya sesosok pria gondrong di hadapanku waktu itu. Wajahnya sebenarnya tampan, tetapi penampilannya urakan sekali. “Ya itu aku, kamu Gesa?” ucapku balas bertanya. Pria itu mengangguk seraya tersenyum memamerkan sederetan gigi putihnya.
            Welcome to Bogor, Jasmine. Siap dengan tour kita hari ini?” ucapnya lagi dengan nada ceria.
            “Ya, tentu saja,” jawabku tak kalah ceria.
***
“Apa kabar Jasmine? Aku sedikit pangling melihat kamu,” sapa Gesa sumringah. 
“Aku baik Ges, kamu apa kabar? Tiga tahun nggak ketemu, banyak yang berubah dari kamu.” ucapku sedikit salah tingkah. Gesa tertawa. Kemudian belagak sibuk mengambil barang bawaanku yang dibawanya dengan tangan kanan, sementara di tangan kirinya ada tangan kecil yang sedari tadi menggantungkan dirinya pada Gesa.
***
Gesa menunjukan padaku indahnya kota hujan ini. Berpiknik ke Kebun Raya, melihat indahnya bunga bangkai, menjelaskan asal usul dibuatnya Istana Bogor. Gesa juga membawaku ke dunia fotografinya. Menjadikan aku sebagai model dadakannya. Gesa tentu saja bukan sekedar guide bagiku, dia adalah, entahlah, hubungan kami begitu dekat sampai Gesa menyatakan cintanya padaku sebelum aku menaiki kereta yang akan membawaku pergi meninggalkannya. Tetap tinggallah di sini Jasmine, aku mencintaimu.
***
Anak kecil itu merengek pelan, bosan karena mobil yang dikemudikan Gesa tidak berjalan akibat macet. Ingin diriku untuk membantu menenangkannya tapi rasa hati ini masih tak sanggup untuk melakukanya. Kami bukan menjadi dua lagi, tapi tiga, dengan kehadiran balita mungil ini yang harus aku terima.
***
Kereta yang akan membawaku pergi berangkat lima menit lagi. Aku bimbang, perasaanku bergejolak tak karuan. Masih teringat jelas kata-kataku tadi sebelum Gesa berbalik arah dan menghilang dari pandanganku. Maafkan aku Gesa. Aku tidak mencintaimu.
***
Aku meraih tangan mungil yang menggapai-gapai ke arah ayahnya. Sedetik kemudian penolakan itu muncul. Kali ini anak kecil itu tak lagi merengek, ia bahkan menangis kencang. Merasakan bahwa yang memeluknya kini bukan ayahnya, bukan pula ibunya yang tak pernah ia temui. Aku semakin mendekap erat anak itu dalam pelukan, mengusap-usap punggungnya lembut dan menyanyikan lagu nina bobo untuknya agar ia tertidur. Kenzou menurut. Pelan-pelan suara tangisannya mengecil lalu menghilang. Gerakan protes tubuhnya pun berhenti. Tubuh kecilnya tergolek tak berdaya di pangkuanku. Ku amati wajahnya yang lucu, mirip sekali dengan Gesa, tapi hidungnya, ah, aku yakin itu hidung ibunya.
            “Terima kasih Jasmine,” ujar Gesa tersenyum tulus ke arahku. Mobil benar-benar tak bisa berjalan, jadi dia bebas untuk menoleh ke arahku yang duduk di kursi belakang tanpa takut akan terjadi kecelakaan.
            “Aku akan berusaha Gesa, untukmu, untuk Kenzou, untuk kita, karena aku mencintaimu,” kataku. Gesa mengulurkan tangannya membelai wajahku, kemudian dengan segenap hati ia mencium keningku. Ditatapnya wajah Kenzou yang terlihat bak malaikat saat tertidur seperti ini.
            “Jasmine akan menjadi mama yang baik untukmu, aku percaya itu...”
***
Aku memutar arah tak jadi menaiki kereta. Ku berlari sekencang mungkin dan tambah kencang saat sosok yang ku kenal berjalan lunglai menuju pintu keluar. Tubuhku bertubrukan dengan punggungnya yang keras bagai batu granit. Dan memeluknya dari belakang dengan sepenuh hati.
            “Aku mencintaimu Gesa. Tunggu aku tiga tahun lagi...”
                                                                             ***

Selasa, 19 Juni 2012

Radio


"I'm at a payphone trying to call home, All of my change I spent on you, Where have the times gone, baby it's all wrong, Where are the plans we made for two? ..."

Suara Adam Levine mengalun dari radio FM yang setiap pagi kudengarkan. Hanya suara radio dan penyiar yang asyik bercuap-cuap di udara yang selalu menemaniku membuat teh dan menyiapkan telur sapi setengah matang untuk dia.

Dia yang masih terlelap di kamarnya. Mungkin masih berselimut, dengan guling dan bantal-bantal besar yang berantakan di sekitarnya. 

"Don't worry there my honey, We might not have any money, But we've got our love to pay the bills..."


Suara Adam Levine tergantikan oleh Ingrid Michaelson. Seperti kemarin dan kemarin lalu kemarinnya lagi, radio yang selalu memutar lagu ini di menit ini, pas dengan waktuku menuangkan segelas orange jus ke dalam gelas tinggi untuknya. Dia yang masih terlelap dalam kamarnya.

Waktu menunjukkan pukul 07.00. Sudah saatnya dia dibangunkan. Hal ini adalah hal yang paling membuatku kikuk setengah mati. Bagaimana tidak? Aku dipaksa memasuki kamarnya, teritori pribadinya, yang bahkan sahabatnya sendiri tidak diperkenankan masuk ke dalamnya. Tapi dia menghendakiku untuk masuk, dan selalu menungguku untuk membuka tirai-tirai panjang yang menutup jendela kamarnya dan membiarkan sinar matahari masuk untuk menyinarinya. 

Entah harus kusebut ini keberuntungan atau kesialan karena setiap tanganku yang gemetar hebat ini membuka pintu kamarnya, melihatnya terlelap dengan raut wajah yang sangat damai, sangat berbeda saat ia kemudian membuka kedua kelopak matanya dan selalu menatapku dengan pandangan yang sama setiap harinya. Pandangan yang membuat perutku bergejolak tak karuan.

"Selamat pagi..." sapaku sambil tersenyum. Dua tirai besar telah kusingkapkan. Seketika sinar matahari yang masih lumayan bersahabat menerobos masuk, membuatku sedikit terpana ketika sinar itu membentur tubuhnya yang masih berbalut selimut. 

Aku mengitari sisi tempat tidurnya yang super besar, tak aneh bila kutemukan kemeja dan celana panjang yang sepertinya diletakkan sengaja di dekat nakas. Aku meraihnya, pakaiannya tetap wangi, tetap bersih walau terlihat agak kusut.

"Kamu mau turun untuk sarapan?" tanyaku. 
Kali ini ia menegakkan tubuhnya dan bersandar di tempat tidur. Tangannya menggapai kaca mata yang diletakkan di nakas.

"Sebenarnya aku masih mau tidur, tadi malam aku capek sekali," jawabnya sambil tersenyum.

"Kamu harus ke kantor kan? Aku nggak tanggung akibatnya kalau Mama sampai tahu kamu terlambat demi hobi tidur kamu ini,"

Pria itu tergelak.

Ia turun dari tempat tidurnya, masih mengenakan kaca mata, celana pendek hitam, dan kaos oblong putih yang menjadi kostum tidurnya selama ini.

"Kamu bikin sarapan apa?" tanyanya sambil berjalan ke luar dari kamar, membiarkan aku tertinggal di belakang untuk menutup pintu kamarnya.

"Hari ini hari Rabu kan? Aku cuma buat telur dan orange jus, kalau kamu mau yang lain nanti aku buatkan," jawabku sambil setengah berlari menuju ruang laundry dan menaruh pakaiannya ke dalam mesin cuci kemudian menghampirinya yang sedang meminum teh milikku.

"Aku bilang sarapan kamu orange jus dan telur kan? Kok kamu minum teh punyaku?" tanyaku sambil tersenyum.

"Memangnya nggak boleh?" Ia malah balik bertanya. Ah mana bisa aku melarang dia macam-macam.

"Tentu saja boleh, cuma aku nggak tahu aja kalau kamu suka teh. Sejak kapan? Tiga bulan aku di sini kamu selalu minum orange jus,"

"Sejak aku lihat kamu meniup teh panas di cangkir itu, setiap pagi saat aku meneguk orange jus dan kamu asyik sama cangkir kamu..."

Aku tersenyum, dia baik sekali. Aku suka caranya dalam memperlakukanku, atau yang lainnya. Ia tidak pernah membedakan.


"You'll always be part of me, i'm part of you, indefinitely, Boy don't you know you can't escape, ouh baby cause you're always be my baby..."


Kali ini suara indah Mariah Carey yang mengalun menyanyikan lagu favoritku. 

"Masih dengar lewat radio?" tanyanya disela-sela aktivitas sarapannya.

"Iya. Kenapa? Kamu sering banget tanya hal itu sama aku.."

"Heran aja, masih ada yang denger radio padahal..."

"Padahal eksistensinya di zaman ini sudah berkurang, begitu kan maksud kamu?"
Ia mengangguk, kemudian menatapku penuh minat dibalik kaca matanya. Menunggu argumenku. 

"Aku suka dengar radio, aku suka dengar penyiar yang cuap-cuap di sana. Kadang, ada pendengar yang sengaja telepon ke radio itu sekedar mengucapkan selamat pagi atau kirim-kirim salam. Kamu tahu itu nggak?" 

"Aku tahu itu, dan surprise kalau sekarang hal itu masih dilakukan orang,"
"Seharusnya kita berterimakasih sama orang-orang itu,,"

"Kenapa bisa begitu?"

"Coba kamu bayangkan, kalau nggak ada orang-orang itu, dunia radio kita akan semakin terpuruk dong. Bisa-bisa udah nggak ada yang mau dengar radio lagi gara-gara siarannya yang terlalu pasif dan lambat-lambat bisa aja siaran radionya ikutan hilang. Kalau begitu, aku mau dengar apa dong setiap pagi?"

Pertanyaanku retoris dan agak bercanda. Apa aku salah sehingga ia menatapku serius sekali? Kedua alis hitamnya terpaut, menimbulkan kerutan di tengah-tengah keningnya. 

"Aku salah bicara? Aku minta maaf,,," ujarku merasa tak enak. Ku lihat raut wajahnya berubah lagi.

"Kamu dengar aku aja.." balasnya cuek. Ia menegak orange jusnya hingga tandas.

"Dengar kamu tidur maksudnya?" Aku tertawa.

"Bukan. Dengar aku nyanyi setiap pagi, lagu favorit kamu, anggap aja aku radio,,"

Dadaku terasa sesak, bukan jawaban seperti itu yang aku harapkan keluar dari bibirnya. Ini membuat kepalaku sedikit pusing. Perasaan yang kutahan-tahan sejak pertama aku menginjakkan kaki di rumah ini dan memulai rutinitas dengan membangunkannya setiap pagi perlahan-lahan bermunculan. Tidak boleh ada perasaan ini. Perasaan yang dapat membuatku terhempas dan sakit hati karena kenyataan.

Ini bukan percakapan yang biasa antara seorang pembantu dengan majikannya. Ini terlalu indah. Tuhan, bolehkah aku mengatakan iya kepada pria dihadapanku ini?

"Kamu nggak mau?" tanyanya lagi dengan mimik paling serius yang pernah ku lihat.

"Iya. Aku mau. Mau sekali..." susah payah kerongkonganku mengeluarkan suara dan akhirnya jawaban itu yang aku berikan.

Ampuni aku yang lancang ini Tuhan, tak seharusnya perasaan ini tumbuh, karena aku tak layak. Pria ini terlalu baik, terlalu sempurna, terlalu jauh untuk ku gapai, tapi aku terlalu cinta.

Cinta itu perasaan paling jujur yang pernah ada. Dan kini, biarkan aku menikmatinya. Sebentar saja...

Bogor, 19 Juni 2012
08.22 AM

Kamis, 31 Mei 2012

Lari (4)



Pangkal kakiku terasa nyeri sekali. Aku menunduk untuk menjangkaunya sehingga dapat mengurutnya pelan-pelan. Setidaknya ini adalah cara agar sakit dan nyeriku dapat sedikit hilang dan cara agar orang-orang di sekitarku tidak menatapku heran, seperti aku ini makhluk dari dimensi astral. Aku sadar, wajahku mungkin sangat-amat-tidak enak dilihat. Dengan mata bengkak, hidung merah, riasan wajah yang entah melebar kemana, baju yang kusut, ditambah rambut yang awut-awutan. Aku mungkin bukan terlihat seperti makhluk astral, tapi orang gila, yang lebih gilanya lagi berani memasuki tempat seramai ini.
Tempat ini masih sama ketika aku memperhatikannya sejak tadi. Ramai oleh pengunjung yang sibuk dengan gelas kertas plus kepulan asap wangi aroma kopi yang tersebar di penjuru ruangan. Aku memilih duduk di kursi kayu minimalis yang terletak persis di samping jendela. Di sebelahnya taman bunga kecil nan cantik terhampar, mawar-mawarnya terlihat anggun akibat bantuan lampu tamannya yang temaram sama seperti di ruangan ini. Ku dongakkan kepala, sedikit takut sekaligus malu karena keadaan wajahku sekarang, dan apa yang kulihat benar-benar membuat hatiku sedikit lega.
Tidak ada yang memperhatikanku, tidak ada yang menatapku heran, tidak ada yang berbisik-bisik sambil mendelik ke arahku, tidak ada yang aneh, mungkin tidak ada juga yang menyadari kehadiranku saat ini.
“Heran ya?” tanya sebuah suara mengagetkanku. Otomatis kepalaku langsung mencari sumber suara tersebut. Dia di depanku.
“Baru pertama kali ke sini kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. Ia tersenyum, kedua lesung pipinya muncul.
“Kenalin, saya Javas Kastara.” Lelaki itu mengangsurkan tangannya. Sempat terpana beberapa detik, akhirnya aku menyambut ulurannya. Merasakan genggamannya yang begitu hangat dan akrab. Seperti kawan lama padahal aku baru bertemu dengannya di sini.
“Aku, Alila,” balasku kikuk. Tubuhku tiba-tiba menggigil. Termakan habis oleh angin malam yang menembus lapisan kaca di sampingku. Hangatnya cafe ini sedikit demi sedikit kian terkikis, terlebih dengan sesosok makhluk yang sedari tadi diam memandangiku. 
“Kamu mau pesan apa?” tanyanya setelah diam kami yang begitu lama. Bibirnya membentuk senyuman. Aku tergeragap karena terlalu fokus memperhatikan wajahnya yang anehnya dapat menghangatkan. Ini terlalu cepat Al. Kau tidak bisa untuk…
“So, Alila?”
Oh aku benar-benar malu sekarang.
“Espresso. Double Espresso.” jawabku tergugu. Lagi-lagi ia tersenyum sambil bangkit berdiri menuju counter.
***
Coffee Shop yang entah-apa-namanya yang tak sengaja kudatangi ini, memang berbeda dari nuansa cafe kebanyakan. Konsep ruangannya seakan membuatmu terpelanting jauh menembus waktu. Jauh dari kemodern-an, dari segala tetek bengek teknologi zaman sekarang, dari tante-tante centil yang terkikik penuh gosip di sudut ruangan, dari segerombolan anak remaja yang berdandan dewasa meminta menjadi pusat perhatian.
Ruangannya tidak begitu besar, hanya cukup untuk sepuluh pasang kursi kayu yang di tata monoton di bagian kiri dan kanan ruangan persegi, dan satu set sofa cokelat di bagian sudut. Uniknya cafe ini selain mengusung tema vintage indoor, tetapi ada juga kursi-kursi yang di tata apik di luar ruangan. Di letakkan di samping lampu taman cantik, di sebelah bougenville putih yang berbunga, di dekat kolam ikan koi dengan air terjun buatan yang terdengar bergemericik menenangkan.
Setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing. Ada yang bercengkrama santai dengan lawan bicaranya, ada yang duduk termenung di sudut taman sendirian, ada yang serius membaca buku. Semua orang seperti asyik dengan dunianya, tidak ada mata yang jelalatan mencari seuntai gosip yang siap untuk disebarkan sesama golongan. 
“Semua orang punya dunianya masing-masing.” Sebuah suara mengagetkanku. Dua gelas kertas kopi diletakkannya di atas meja kayu bundar yang memisahkan kami. Asapnya menyatu, membaui indra penciumanku. Nyaman sekali.
“Itu alasan aku senang dengan tempat ini,” lanjutnya sambil menyesap kopinya dalam dan nikmat.
“Kenapa kamu pesan espresso?” tanyanya. Ia serius memandangiku. Menanti jawaban yang seperti menarik baginya untuk tahu.
“Espresso itu masih murni. Asli dan pahit.” jawabku seadanya. Aku mulai menyesap cairan hitam pekat itu. Double espresso yang pahit, sekaligus manis, penuh sensasi, menghangatkan, dan memberikan kenyamanan. Andai ia tahu alasan yang sebenarnya. Ararya memberikan kepahitan itu sekaligus rasa manis yang terkecap buih demi buih. Ia yang memilih, bukan aku. Tapi tidak mungkin aku mengatakan hal sejujur ini kepada orang yang baru dikenal bukan?
“Aku pesan espresso juga, seperti kamu. Penasaran dengan sensasi-nya,” ujarnya. Matanya lurus menghunjam mataku.
“Sensasi?” tanyaku bingung.
“Melihat kamu datang ke sini, dengan keadaan seperti itu, aku nggak heran kamu pesan espresso. Bukan maksudku untuk ikut campur urusan kamu atau apa, tapi, kamu yang menggerakkan kaki ini untuk melangkah mendekat ke arahmu,” Javas tertawa kecil. 
“Bukan gayaku untuk tiba-tiba datang seperti penganggu dan berkenalan denganmu seperti remaja laki-laki yang sedang puber, tapi kamu begitu magnetis. Membuatku penasaran yang akan mati jika kubunuh sendiri dengan memesan espresso sama sepertimu, dan meminumnya dengan menatap wajahmu.” Kembali ia menyesap espressonya. Otakku sedang lambat diajak berpikir macam-macam. Dan sel-selnya menolak untuk menginterpretasikan makna ucapan Javas barusan.
“Maaf, tapi aku nggak mengerti,” kataku jujur.
“Ini masalah hati bukan?” tanyanya telak. Oh yang benar saja, baru saja aku berkenalan dengan orang ini dan ia sudah bertanya macam-macam kepadaku.
“Itu bukan urusanmu!” jawabku ketus. Ku arahkan wajahku ke taman mawar samping jendela. Enggan menatap lelaki ini.
“Memang bukan, tapi yang seperti aku ucapkan tadi. Kamu begitu magnetis. Menarikku ke dalam pusaranmu dan membuatku berkubang disitu. Kamu satu-satunya yang membuatku meninggalkan sofa yang selalu ku tempati saat aku mengunjungi cafe ini dan memilih duduk di sini. Jangan tanya apa alasannya, karena aku sendiri tidak mengetahuinya.” Ia menandaskan espressonya. Terdiam cukup lama. Aku sendiri anehnya tidak merasa terganggu dengan keberadaannya dan tidak ada niatan sedikitpun untuk mengenyahkan bayangannya dari hadapanku. 
Sejujurnya aku terpesona. Sedari awal ia mendekatiku mengajak berkenalan. Wajahnya dipahat indah oleh Sang Pencipta. Siapa yang tega menolak? Ia salah kalau menganggap aku begitu magnetis bagi dirinya. Karena sebenarnya ia sumber magnetnya. Menarik setiap pasang mata untuk terus menatap replika Dewa Yunani yang tekun memandangi wajahku dalam kosong katanya. Aku seharusnya sadar, semua di cafe ini memang tidak saling memperhatikan satu sama lain karena semua sibuk dengan dunianya masing-masing, tetapi ketika Javas beringsut dari tempat duduknya untuk memesankan espresso di counter, tidak ada sepasang matapun yang lewat tak menatapnya. Entah tatapan apa yang mereka lontarkan, antara heran sekaligus terpukau? 
***

Black Confetti (3)

Aku keluar dari kamar mandi, masih dengan handuk yang menggelung rambutku yang basah. Tadi aku mengambil sehelai t-shirt gombrong Rolling Stone dan celana piyama garis biru muda. Mungkin hanya aku satu-satunya —koreksi, hanya kami satu-satunya pasangan di dunia ini yang melewatkan malam pertama dengan baju tidur yang sama sekali tidak ada seksi-seksinya. Apa yang pria lihat dari seorang perempuan usia 20 tahun yang menggunakan t-shirt gombrong butut dan celana piyama? Jawabannya adalah tentu saja tidak ada. Dan ini sangat menguntungkanku tentunya, karena malam ini harus kuhabiskan dalam satu ruangan berdua saja dengan pria itu, yang aku takutkan kalau dia berani-berani menyentuhku.
Setelah kebaya beserta pernak-pernik pernikahan lain sudah ku taruh di tempat yang semestinya, aku beranjak naik ke atas kasur king-size itu. Rasanya damai sekali setelah seharian ini berdiri menyalami orang-orang, tersenyum dibuat-buat, dan berlaku sok mesra seperti istri-istri kebanyakan. Akhirnya, drama menjijikkan itu kuakhiri juga. Aku menarik selimut hingga ke dada, ku turunkan temperatur AC di kamar hingga minimum. Selalu menyukai momen seperti ini ketika suasana dingin mengusik, kau pasti punya sehelai selimut yang tetap menghangatkanmu bukan? Ini asyik, apalagi di dalam suite mahal yang seharusnya menjadi tempat-bikin-aku-jadi-ngidam-satu-bulan-ke depan. Tentu saja itu hal paling konyol yang pernah ku dengar. Usiaku baru 20 tahun, aku masih berstatus mahasiswi ekonomi di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Bogor, ngidam-ngidam apalagi punya anak masih jauh dari pikiranku saat ini.
Tempat tidurku bergoyang, refleks aku membuka mata, kaget sekaligus penasaran makhluk kurang ajar mana yang mengganggu istirahatku. Oh yeah, Mr. Bengis itu tidur tepat di sebelahku. Oh, tunggu, APAAAA!!!! Si Sadis tidur di sebelahku??
“AAAAAAAAAAAAA!!!!” sontak aku berteriak ketakutan sambil menarik selimut itu hingga ke dagu, mataku ku arahkan pada manusia yang berada tepat di sebelahku.
“SHUT UP!!! Berisik sekali kamu. Aku mau istirahat, bisa kalau nggak ada drama-drama dulu? Oh apa kamu mengharapkan ‘itu’?” tanyanya dengan wajah yang sukses membuatku ingin sekali menonjoknya saat itu juga.
“Kamu kenapa di tempat tidurku?! Turun!!!!” perintahku kalut. Tentu saja aku tidak bisa membiarkan manusia ini tidur di sebelahku dengan keadaan, keadaan seperti sekarang ini. Oke, aku masih menggunakan baju dan celana. Tapi dibalik itu semua? Ya Tuhaaan, aku mual membayangkan sewaktu-waktu aku tidur, selimut ini akan tersingkap, dan tubuh kami yang kian mendekat daaaaaaaaaaaan HOEKSSS!!
Pria itu menekuk wajahnya. Raut sebal 1000% jelas tercetak.
“Maksudmu aku harus tidur di sofa?” Pertanyaannya retoris.
“Gila! Kamu pikir aku apa sampai rela biarkan kamu menikmati kenyamanan ini sendiri dan aku yang harus mengalah demi perempuan liar seperti kamu?! Kalau kamu nggak suka aku tidur di sini, kamu saja yang turun. Tidur di sofa!!” bentaknya kasar. Pria ini memang brengsek, sangat brengsek. Makhluk macam apa yang aku nikahi ini ya Tuhaaan..
“Maksud kamu aku yang mengalah demi cowok tua kurang ajar yang seenaknya tidur di sini?!! Kamu lupa sama perjanjian kita?!” aku semakin merapatkan selimut itu ke tubuhku. Tidak sudi kalau sampai manusia gila ini melihat sesuatu yang bukan-bukan dari tubuhku.
“Cowok tua?!!” kata pria disampingku yang sedang menyarangkan mata cokelat bengisnya ke arahku. Ia gusar, tindakannya membuatku ketakutan. Ia menggeser tubuhnya yang kekar dan besar ke arahku. Oh yeah, bagus sekali Cassandra, kau membangunkan singa, oh bukan, raja singa kelaparan yang sedang tidur. Ia kini akan memakanmu dalam hitungan detik!
“Mau apaaaaa????” teriakku frustasi, masih memegangi selimutku erat-erat. Tuhan, tolong hambamu dari singa kelaparan yang kini menatap garang ke arahku dalam jarak tak sampai setengah meter ini. Oke, singa ini ternyata wangi juga, aroma rokok dan aftershavenya. AAAAHH hentikan pikiran tolol itu sekarang juga, Cassandra!!
“Sekarang, pilihan ada di tangan kamu. Terima tidur di sini bareng aku, atau kamu tidur di sofa, atau kamu boleh tidur di sini sendirian, tapi kamu…” pria itu semakin mendekatiku. Brengsek, brengsek, brengsek!!! Umpatku dalam hati, tentu saja.
“OKAY!! Aku yang tidur di sofa! Puas kamu?!! Cowok tua sadis yang hobinya nyiksa orang?!!” semburku tepat di depan wajahnya yang terlihat puas. 
“Terserah mulut kamu mau bicara apa, aku ngantuk. Dan cepet sana pindah ke sofa!” perintahnya. Ia kembali menjauh, pindah ke sisi satunya lagi. Sebenarnya ukuran tempat tidur ini sangat besar, terlalu besar jika ditempati sendirian. Tapi kalau akau harus satu tempat tidur dengan makhluk sadis ini, tempat tidur sebesar ini pun rasanya seperti kandang tikus.
Cepat-cepat aku turun dari tempat tidur, mengambil sesuatu dari koper, dan langsung melesat menuju kamar mandi.
Setidaknya aku harus melindungi aset-asetku saat sofa yang bakal menjadi teman tidur setiaku di suite ini. Ya setidaknya sampai besok pagi dan kembali ke rumah. Errr tunggu, RUMAH???!! Kepalaku berdenyut lagi.
***
Sinar matahari tak tahu diri menerobos saja ke arahku yang tertidur menyedihkan di atas sofa. Mr. Sadis itu rupanya tidak mengunci pintu balkon semalam, sehingga sinar matahari puas sekali menyinari wajahku. Pelan-pelan aku bangkit, sedikit pusing karena efek memikirkan rumah after we got marriedsemalam.
Ku lihat tempat tidur itu sedikit berantakan, singa itu nampaknya pergi entah kemana meninggalkan aku yang kesakitan akibat tidur di sofa. Singa jahat. Oh, memang ada singa baik?!
Ku lihat bayanganku di cermin. Cukup jelek. Oh shit, umurku yang 20 tahun terlihat lebih tua 15 tahun akibat sehari menikah dengan manusia singa itu. Oke, tenang Cassandra, ini tidak akan lama. Penderitaan ini akan segera berakhir.
Sesuatu di dalam perutku meronta, meminta jatah. Aku melirik jam wekker di nakas. Jelas saja matahari begitu terik karena ini sudah hampir jam sebelas siang. Waktu sarapan jelas-jelas sudah lewat, dan aku sangaaaat lapar sekarang! Manusia sadis itu bahkan tidak membangunkanku setidaknya untuk mengisi perut yang hampir 24 jam hanya kuisi dengan kue-kue kecil yang tugasnya hanya sebagai pengganjal.
Okay, mungkin aku tidak perlu membuang-buang waktu dengan memesan makanan terlebih dahulu, toh pada akhirnya aku akan pulang juga. Ya walau sebetulnya sayang sekali tidak menggunakan suite ini selama tiga hari, sesuai paket wedding yang dipilih kemarin.
Aku membereskan semua peralatanku dari make-up, baju-baju, lingerie cantik nan seksi yang terlihat memuakkan itu, dan kebaya yang aku gunakan kemarin. Harusnya langsung ku buang saja semua ini. Terlalu memorable, dan aku benci sekali dengan memori yang terkandung di dalamnya.
Lima menit kemudian aku sudah siap pulang, dengan koper di tangan kiriku dan kebaya cantik merah marun di tangan kanan. 
Oh yeah, aku baru ingat sesuatu.
Aku belum mandi. 
Kembali ku bongkar isi koperku.
***

Black Confetti (2)

Suite ini sebenarnya cukup untuk ditempati sepuluh orang. Tapi disini, hanya ada aku dan pria yang enggan menatapku semenjak acara tadi. Berdua dalam suite yang di desain seromantis mungkin untuk sebuah malam pertama. 
Pria itu berdiri memunggungiku, melepas jas formalnya, menarik dasi berwarna emas yang mengikat lehernya, dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Sementara aku, duduk di atas kasur king-size masih memakai kebaya, dengan rambut tercepol sempurna. Make-up ku pun tidak ada yang keluar jalur. Masih sama seperti jam-jam memuakkan sebelumnya. Pria itu melangkah dari tempat berdirinya, masih tidak melihatku, dan masuk ke dalam kamar mandi. Suara shower yang dikucurkan terdengar dari tempatku sekarang.
Pelan-pelan aku bangkit menuju meja rias. Peralatan make up-ku tersimpan rapi di sana. Tanganku menggapai cairan pembersih muka, menuangnya sedikit ke atas kapas lalu mulai menyapukannya ke seluruh wajahku yang kusut. Siapa yang bahagia? Jelas bukan aku atau pria yang ada di dalam kamar mandi saat ini. Kami berdua saling tak terima, menuduh kalau ada satu oknum diantara kami yang sengaja mengatur ini semua, dan bibit benci itu mulai tumbuh subur. Terlebih di mata cokelatnya yang seakan-akan ingin mengulitiku hidup-hidup.
Make up tebal yang setia melapisi wajahku sejak tadi pagi kini hilang sudah. Wajah kusut itu semakin terlihat jelas. Ingin rasanya aku berteriak dan menangis. Ini keterlaluan, pemaksaan, dan aku benci jika disudutkan! Aku di sini yang selalu tertuduh, oleh pria bermata sadis itu. 
Sesuatu bergetar di atas meja bundar di tengah ruangan. Berkedap-kedip tak sabar. Penasaran aku mengahampirinya. Handphone pria itu, dengan nama Sara tercetak jelas di sana. Sara Calling. Layarnya semakin berkedap-kedip tak sabar. Ingin aku membantingnya saat itu juga.
***
Pria itu keluar dari kamar mandi. Aroma aftershavenya menguar, memberi esensi menggelitik di indra penciumanku. Ya, setidaknya pilihan aromanya tidak membuatku mual tetapi agak sedikit pusing, tetapi bukan jenis pusing penyakit, melihatnya keluar dengan rambut basah sehabis keramas dan kaos oblong putih dan celana pendek.
Aku mulai menyisiri rambut kusutku perlahan-lahan. Terlalu lama dalam balutan hair-spray membuat rambutku kusut seperti jala. Masih menatap cermin di hadapanku, melihat lewat sana, pria itu mengambil handphonenya yang sejak tiga puluh menit tadi terus bergetar dan berkedap-kedip -ingin ku banting-. Menyentuh layarnya dan menempelkan benda itu ke telinganya. Masih tak menyadari atau berpura-pura tak menyadari keberadaanku.
Air mukanya yang bengis hilang, berganti menjadi sesosok pria manis yang terlihat menyebalkan -di mataku-. Suaranya begitu halus terdengar. Cinta itu masih ada, tentu saja, bodoh!! terlihat jelas dari gerakan tubuhnya dan nada suaranya yang semakin terdengar sangat kasmaran. 
“Ya, Sara. Aku minta maaf, tadi aku mandi.”
Oh ya, si bodoh sadis itu memang sedang mandi Sara.
“Oh aku mandi sendiri, nggak akan mungkin aku mau, Sayang,” ia tertawa.
Brengsek, pasti Sara bertanya apa ia mandi bersamaku atau tidak. Tentu saja ITU TIDAK AKAN PERNAH BODOH!!! 
Aku menyikat rambutku sambil bernafsu. Marah.
“Maaf Sayang, Mama Papa pasti mengawasi aku, jadi nggak mungkin kalau aku menemuimu malam ini. Aku janji besok, Sayang. Bersabar ya,” katanya penuh cinta. 
“Kamu tenang aja Sara, ini akan segera berakhir. Setelah itu, aku akan selalu ada di dekatmu. Nggak akan kemana-mana.” Senyumnya terburai lagi.
“Iya Sara, I love you too. I do,”
Pria itu menyimpan kembali handphonenya. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku dari cermin dan mulai sibuk menyikat rambutku yang sudah mulai terlihat normal.
“Kamu lihatin aku terus?!” tanyanya galak. Oh tidaaak, ternyata dia juga memperhatikanku tadi.
“Oh ya? Geer banget kamu!” sungutku tak mau kalah dengan kegalakannya. 
“Aku belum buta untuk tidak melihat kamu dengan pose muka menyebalkanmu itu ketika kamu melihat aku menelepon tadi,” kali ini pria itu menatapku. Bengis dan benci. Ya apalagi? Memangnya aku mengaharapkan pria itu menatapku penuh cinta seperti ketika ia menelepon tadi? OH YANG BENAR SAJA!!
“Aku sibuk beresin rambut dari cepolan sialan itu, jadi buang tuh khayalan kamu. Kayak aku sudi aja mau memperhatikanmu!” balasku tak kalah bengis. Memangnya dia saja yang bisa ber-bengis-bengis ria terhadapku? AKU JUGA BISA, asal kau tahu saja wahai Mr. Bengis nan sadis.
“Nggak ada gunanya aku bicara hal ini sama kamu. Buang-buang waktu!” Pria itu ke luar, menuju balkon. Mengeluarkan sebatang rokok putih dari dalam kantong celana pendeknya dan menyalakan api. Ia menghirup batang kanker itu dalam-dalam.
Aku beringsut dari kursi di meja rias. Mengambil handuk dan beberapa pakaian normal dari sejuta lingerie yang disiapkan orang tua kami di dalam koper. Lebih baik aku bakar saja lingerie ini nanti daripada membuatku semakin mual. Kakiku melangkah ke kamar mandi, bekas pakai pria itu. Ku nyalakan air hangat dalam bath tub, menunggunya sampai setengah terisi, menuangkan sabun ke dalamnya, menyalakan aroma terapi. Enyah saja aroma aftershave yang membuat kepalaku pusing.
***