Minggu, 02 Desember 2012

Black Confetti 8

Aku melihat ayah ibuku di ruangan besar sedang bercakap-cakap dengan anggota keluarga lain dari Aras yang belum sepenuhnya aku kenal. Sementara sebagian besar keluarga besar Aras yang lain berkumpul di tengah-tengah ruangan itu menciptakan kehebohan tersendiri, saling melemparkan bahan ejekan, dan menggoda Aras yang hanya cemberut menanggapi ocehan orang-orang terhadap dirinya.

"Cassandra!!" seru mama Aras ketika matanya menangkap pandanganku. Beliau mengahampiriku lalu memelukku erat. Sangat erat malah sampai aku tak bisa berkutik dalam pelukannya. Sedetik kemudian seluruh wanita keluarga besar Aras mengerubungiku, memelukku, mencium pipiku dan mencubitnya sebagai tanda bahwa aku memang benar-benar diterima di keluarga heboh ini. Sudut mataku memandang Aras, yang terduduk malas di atas sofa. Matanya terarah ke jendela, tak melihatku sama sekali. Ya! Memang apa yang kuharapkan sih?!

"Happy wedding ya sayang, makin cantik kamu.." ujar Tante Kiran, tante dari pihak mama Aras, sambil mencium pipiku yang ku balas dengan senyum terpaksa. 

"Aduuuh, pengantin baru udah pulang. Gimana nih honeymoon singkatnya? Lancar dong?" kini giliran Tante Putri yang menggodaku. Mereka semua tertawa-tawa bahagia mendengar pertanyaan konyol Tante Putri sementara aku, ya, mau bagaimana lagi, hanya senyum yang dapat ku berikan sebagai balasannya.

"Anak mama udah pulang nih, jadi tambah dewasa gini sih sayang. Berarti jago banget dong Aras mendewasakan kamu...."

Ruang keluarga itu semakin riuh rendah akibat tawa yang keluar dari orang-orang di sana akibat perkataan mamaku. Ku lihat Aras bangkit dari sofanya dan beranjak dari sana. 

Jadi aku di sini, di tengah-tengah ayah dan ibu beserta keluarga besar baruku yang sedang heboh membahas bagaimana honeymoon-ku dengan Aras, hanya senyum dan tawa ceria yang ku dengar di telinga. Aku berdiri di sini, dikelilingi wanita-wanita yang sangat senang menggodaku dengan jokes pernikahannya, menghadapi ini semua dan Aras menghilang entah kemana. Tidakkah seseorang yang menyadari kepergiannya? 

Aku merasa sendiri. 

Ini paradoks.

***

Mama mencium pipiku bergantian dengan papa yang mengacak-acak rambutku dengan sayang seperti aku masih berusia sepuluh tahun. Sementara itu di sebelahku, ada mama papa Aras yang sedang berbicara dengan dirinya. Sepertinya pembicaraan yang membosankan karena ekspresi wajah Aras dari tadi siang hingga bulan mulai menampakkan diri dan angin malam mulai menyapa tetap sama. Kemudian mama papa Aras menghampiriku, bergantian memelukku erat.

"Ras, jaga Cassandra sebaik-baiknya. Papa hanya pesan itu sama kamu."

"Iya Pa, demi Oma."

DEG! Hatiku tiba-tiba berdesir kencang saat Aras mengatakan 'iya'. Ada kesungguhan dalam nada dari perkataannya barusan. 

"Dan, kalian berdua, jaga rumah ini baik-baik selama Oma masih di rumah sakit ya. Kami semua percaya bahwa kalian bisa menjaga ini semua, dan menjaga hati Oma agar beliau dapat segera pulih dari penyakitnya ya sayang," mama Aras membelai lembut pipiku dilanjut dengan membelai pipi putra satu-satunya itu.

"Ya sudah kalau begitu, kami berempat pulang dulu, kalian baik-baik ya di sini dan jangan lupa, " mama memegang perutku lalu mengusap-usapnya sehalus mungkin. Aku tahu apa maksudnya dan ku temukan wajah Aras menegang seketika.

"Jangan lupa cucu ya sayang." Mama Aras ikut mengelus perutku, membuat otot-ototku mengejang seketika. Mereka mengharapkan kehadiran seorang cucu! Ini gila namanya! Ini bahkan tidak masuk perjanjian dengan Aras!

"A-aku kan masih terlalu muda ma, masih harus menyelesaikan kuliahku dulu, mungkin kami tunda dulu untuk hamil, ya kan Ras?" Tanyaku linglung sambil menatap mata Aras dan meminta persetujuan atas pernyataanku.

"Hm, iya ma. Mungkin setelah kuliah Cassandra selesai, kita akan memulai program itu."

Program gigimu Ras! Jangan harap deh!! Batinku sedikit sebal.
Ke dua mama-ku tersenyum, kemudian melepas tangannya dari atas perutku.

"Iya deh, mama ngerti. Tapi jangan kelamaan ya sayang, mama pengen cepet-cepet gendong cucu. Ya kan Teh Nansie?" 

Wajah Teh Nansie yang merupakan nama dari mama Aras berbinar cemerlang. Beliau dipanggil 'Teh' oleh mama dikarenakan umurnya yang jauh lebih tua dibanding mamaku. Ya mungkin bedanya sekitar sepuluh tahun, mengingat jarak umurku yang juga sama-sama jauh dengan anaknya.

"Iya Lis, teteh pengen cepet-cepet gendong. Pengen cepet-cepet jadi nini (nenek) dan aki (kakek) ya.."

Papa mamaku beserta papa mama Aras terkekeh pelan. 

"Ya sudah ibu-ibu, lebih baik kita tinggalkan anak-anak kita. Kayaknya mereka kecapekan seharian ini dirongrong terus sama kita-kita yang tua ini. Ayok kita pulang." ajak papa pada mama dan mama Aras, seakan beliau mengerti akan perasaanku sekarang yang campur aduk dan tak kuat lagi membahas masalah anak-cucu-gendong dan sebagainya ini.

"Ya sudah deh, mama pulang ya nak, baik-baik di dieu nya, (di sini ya,). Baik-baik sama Aras ya sayang. " Sekali lagi mama memelukku. Rasanya berat sekali melepas kepergian mama karena ini tandanya aku benar-benar seutuhnya terlepas dari pengawasan mama papaku. 

"Aku sayang mama, sayang papa." kataku berusaha menahan air mata agar tidak terjatuh. Mama papa mengangguk lalu mereka berbalik, berjalan menjauh dariku dan menghampiri mobil sedan hitam yang di parkir di luar gerbang diikuti mama papa Aras yang melangkah menjauh menghampiri sedan silver yang terparkir di belakangnya.

Sebuah klakson pertanda mobil-mobil itu kini telah meninggalkan rumah mengagetkanku sekaligus menyadarkanku bahwa aku benar-benar sendiri di sini. Berkutat dengan segala pernikahan yang penuh kebohongan yang mau tak mau harus aku lakukan. Demi mama, papa, dan demi Oma Mer yang masih  terbaring di rumah sakit. Aku tak mau megecewakan mereka walau harus mengorbankan perasaanku, mengingat perlakuan Aras yang sama sekali tak pernah ramah kepadaku.

Angin malam semakin berani menyergap tubuh dan kuputuskan untuk segera kembali ke dalam rumah, tak peduli dengan sosok Aras yang masih berdiri tegak di teras yang nyala lampunya remang-remang. Mulai detik ini kehidupanku akan dimulai. Mencoba membayangkan kalau hidupku akan berjalan seperti biasa, dari mulai bangun pagi, pergi kuliah, berkumpul bersama teman-teman, mengerjakan tugas kelompok, menulis skripsi, pergi ke perpustakaan, lalu pulang ke rumah. Ya, setidaknya tidak akan ada yang berubah tentang itu. Mungkin. 

***



Sabtu, 01 Desember 2012

Lari 5

Javas mengajakku berkelana melalui kisah-kisah masa kecilnya yang sangat membahagiakan. Tentang bagaimana ia dan teman-temannya mencuri mangga di rumah tetangganya, pengalaman pertamanya kabur dari rumah karena ayahnya menolak memberikan Javas mobil remote control, saat ia kehilangan Bruno, seekor golden retriever kecil miliknya saat ia berusia sepuluh tahun. Aku terkesima. Sejujurnya bukan karena cerita-ceritanya tetapi oleh wajahnya dan bibirnya yang mengeluarkan kata-kata itu dan sorot matanya. Begitu hidup, begitu membangkitkan emosi, dan membuatku lupa. Lupa tentang bagaimana aku dapat berada di sini dan kejadian-kejadian melelahkan yang melatarbelakanginya.

"Sorry, nggak biasanya aku bicara sepanjang ini sama orang yang baru ku kenal. Maaf kalau kamu merasa terganggu, Al." Javas menatap wajahku, seketika sorot matanya berubah dari yang begitu hidup dan ceria menjadi ragu dan sedikit malu-malu. Aku menggelengkan kepalaku, pertanda tidak setuju dengan pernyataannya barusan.

"Aku seneng denger cerita kamu Jav." Kataku sembari tersenyum.

Gelas di hadapan kami semuanya sudah kosong sejak satu jam yang lalu, namun tak seorangpun diantara kami berniat untuk mengisinya lagi. Jarum jam pun tak terasa sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aku harus pulang. Ya, kembali ke apartemen kecilku di pinggiran kota yang hanya sebulan sekali aku mengunjunginya, hanya untuk bersih-bersih, karena sebagian besar hariku selama dua tahun belakangan ini ku habiskan di apartemen mewah di pusat kota, apartemen yang diberikan Ar.

"Kamu mau pulang?" tanya Javas melihat diriku mulai gelisah duduk di tempatku. Gelisah karena aku sama sekali tidak mengenal daerah ini karena aku berlari dan berlari tak tentu arah menyusuri gang-gang kecil dan secara tiba-tiba berada di daerah ini. Dan yang paling utama aku sangat membutuhkan taxi untuk pulang karena aku tidak membawa kendaraan!

"Iya, udah jam satu dan kondisiku bener-bener kacau, so, thanks for everything Javas. Nice to meet you." Aku bangkit dari dudukku, kemudian berjalan, berencana untuk menelepon taxi atau menunggu taxi di pinggir jalan atau bahkan jalan kaki. Yang pasti aku harus segera pulang dan melupakan segala kejadian yang terjadi antara aku dan Ar sesegera mungkin.

"Alila!"

Aku berbalik dan melihat Javas masih berdiri di tempat kami. Tubuhnya menjulang tinggi, kepalanya hampir saja menyentuh lampu gantung yang berada tepat di atasnya.

"Aku antar kamu."

***

Audi hitam itu meluncur bebas di atas aspal. Kondisi jalanan yang sangat lengang membuat perjalanan kami terasa begitu cepat. Selama Javas mengendarai mobilnya, tak sekalipun kami bicara. Aku tidak tahu mengapa namun ada sesuatu yang aneh dengannya. Dengan caranya memegang kemudi atau raut wajahnya yang kelihatan tegang saat ia menemukanku sedang menatapnya.

Lima menit kemudian, audi berbelok ke daerah apartemenku dan tidak sampai semenit audi hitam itu benar-benar berhenti tepat di depan pintu lobi apartemen.

Kami sama-sama terdiam. Begitu cepatnya atmosfir berganti antara aku dengan Javas. 

"Jav..." aku menghentikan kalimatku karena Javas mendahuluiku menyelesaikan perkataannya.

"Aku boleh mampir?"

Aku menyadari bahwa kondisiku sangat kacau sekarang dan aku benar-benar tidak mengerti mengapa Javas tidak merasa jijik terhadapku mengingat kondisiku yang semrawut seperti sekarang. Dan aku juga tidak mengerti mengapa aku mengatakan 'ya' saat dirinya meminta.

***

"Aku ganti baju dulu Jav," ujarku saat kami baru saja memasuki apartemen. Yah setidaknya kondisinya tidak terlalu buruk walau sudah dua minggu berlalu sejak terakhir kali aku membersihkan apartemen ini. Javas mengangguk, kemudian berjalan menuju jendela berukuran 3x3 meter yang mendominasi ruangan kecil apartemen ini. Pemandangannya sederhana, hanya pemandangan jalanan yang lengang di malam hari dan padat merayap di kala siang, namun ketika hujan dan air mulai membasahi jendela, menghadirkan suasana romantis yang tak pernah ku rasakan dimana pun. Dan kurasa itu adalah nilai lebihnya.

Aku masuk ke dalam kamar. Seperti kembali ke saat-saat dimana aku merasa bebas, merasa tak terkekang, tak ketakutan, dan merasa sendirian. Aku bahkan rindu untuk tidur di atas kasurku sendiri. Langkahku beralih menuju cermin ukuran 2x2 meter yang menyatu dengan lemari dan melihat bayanganku di sana. Kacau-balau! Bajuku kusut, wajahku merah, mataku bengkak, rambutku dicepol asalan. Tiba-tiba perasaan malu menjalar. Apa yang ada dipikiran Javas saat melihat kondisiku yang parah ini?! Cepat-cepat aku melangkah ke kamar mandi, tiga puluh menit untuk membuat diriku kembali normal. Yah, setidaknya mencoba untuk terlihat seperti manusia. 

***
"Maaf lama," ujarku setengah kaget melihat Javas masih asyik berdiri di samping jendela. Matanya menatapku secara intens, sebuah senyuman tersungging di bibirnya yang indah.

"Kamu mau minum? Sorry, tadi aku lupa nawarin." Mudah-mudahan Javas tidak meminta macam-macam karena terakhir yang aku ingat minuman yang ku punya hanya air putih.

"Nope. Aku suka banget sama konsep jendela ini Al." Javas melangkahkan kakinya dan menghampiriku yang memandanginya seperti orang bodoh. Terlebih karena apa yang ku kenakan sekarang. Piyama hangat berwarna pink yang sangat-amat kekanak-kanakan.

"Aku juga suka sama piyama kamu," ujarnya memamerkan senyumnya sekali lagi. Tiba-tiba saja aku merasa gerah dengan keberadaan Javas yang berdiri tak lebih dari satu meter di hadapanku. 

Berbagai pikiran muncul di dalam kepalaku tentang diriku dan Javas. Ia satu-satunya pria yang ku izinkan masuk ke dalam apartemen padahal aku baru mengenalnya tak lebih dari empat jam! Harus ku enyahkan cepat-cepat kegilaan ini!

"Hoaaaammm." Aku berpura-pura mengantuk, berharap Javas akan sengera mengerti dan pergi dari sini secepat mungkin. Sebetulnya itu bukan pura-pura. Terlalu banyak kejadian yang terjadi hari ini dan semuanya membuatku lelah dan ingin segera beristirahat di atas tempat tidur.

"Kamu ngantuk?" tanyanya. Aku mengangguk, setengah gembira karena akhirnya Javas sadar dan akan segera keluar dari sini. Bukan aku tak menyukainya, namun pesonya dirinya terlalu kuat. Dengan wajah aristokratnya yang sempurna di setiap lekukannya, warna bola matanya yang sehitam jelaga, dan tubuhnya yang ramping juga proporsional, siapa yang tega menolaknya? Javas benar-benar berbahaya bagi diriku yang rapuh seperti ini.

"Oke, aku antar kamu tidur."

Sejenak aku merasa was-was. Ia akan mengantarku tidur? Maksudnya? Ia bahkan tak mengatakan bahwa ia akan pulang dari sini secepat yang kuharapkan! Kakiku seakan terhipnotis oleh perintahnya sehingga kini aku sudah berada di atas tempat tidurku sendiri dan melihat Javas berdiri di sampingku, menyelimutiku hingga ke dagu. Tak ada niatan sama sekali untuk segera pergi. Kemudian ia melangkah pelan, mengitari tempat tidurku, lalu ia mulai merangkak naik ke sebelahku, membuat jantungku melompat saking kagetnya.

"Jav, apa yang kamu...''

"Sssshhhh.." Javas membungkamku dengan jari telunjuknya, secara tak langsung menyuruhku diam. 

"Aku tahu ini gila Al, tapi kamu benar-benar menghipnotis aku sejak saat kamu datang dengan wajahmu yang sayu ke kedai kopi tadi." Javas mengambil tanganku lalu mencium telapaknya. Tangannya yang lain ia rangkulkan ke pinggangku dan menarikku maju agar tubuh kami benar-benar semakin dekat. Ya, aku juga gila Jav, karena aku seperti tak berkutik meladeni segala permintaanmu.

Pertama-tama ia melingkarkan tangannya ke tubuhku, membuatku balas memeluknya dan menempatkan kepalaku ke dadanya yang terasa hangat. Detak jantungnya seperti irama musik tersendiri di telingaku dan ia menempatkan bibirnya di atas kepalaku. Jemarinya kemudian bergerak, membelai rambut panjangku yang tergerai bebas, ke punggungku, lalu berhenti kembali di pinggang. Jantungku berdetak dengan kecepatan ganda. Ada sesuatu yang aneh dengan interaksi tubuh kami. Ini tak biasa dan aku belum pernah merasakan ini dengan pria manapun kecuali Ar! Mungkin aku hanya rindu padanya karena malam ini tak ada Ar yang biasanya memelukku seperti ini. Perasaan itu kembali membuatku sedikit sedih.

Tanganku mulai bergerak, menyentuh wajah Javas. Menikmati wajah tampannya dengan jarak sedekat ini, merasakan hembusan napasnya yang terasa hangat di telapak tanganku yang dingin. Menyentuh lekukan bibirnya yang indah dan entah dorongan dari mana, aku menciumnya!

Napas kami beradu, bergerak seirama dalam ritmenya. Aku merasakan suatu keanehan lagi. Perasaanku seperti melambung dan.. Bahagia? Entahlah, yang jelas aku sangat menikmatinya. Benar-benar menikmatinya.

Perlahan-lahan jemari Javas bergerak turun, menyentuh kulit perutku lalu bergerak naik di balik piyama kekanak-kanakanku. Sejenak bibir kami terlepas. Matanya mencari persetujuanku. Dan kutemukan diriku berkata 'ya' untuk ke sekian kali atas permintaannya.

***

Rabu, 21 November 2012

Maafkan Aku

Terdiam menyaksikanmu menangis dalam pilu.
Penuh haru, membelenggumu dalam kabut kelabu.
Menemukanmu sedang memeluk erat tubuhmu yang rapuh.
Tertunduk dengan gerak turun naik bahumu.

Maafkan aku yang hanya bisa terdiam.
Maafkan aku yang tak melakukan apapun untuk menenangkan.
Seperti yang biasa kau lakukan.
Menggenggam jemariku di saat jatuhku yang dalam.

Andai tanganku dapat menyentuhmu,
Andai dekapanku dapat menghangatkanmu,
Andai raga ini masih menyatu dengan tubuhku,
Aku akan melakukan itu.

Maafkan aku.

Selasa, 20 November 2012

La Côte d'Azur


Selasa minggu pertama bulan ke lima.

Cinta datang karena terbiasa.

Suatu ungkapan klise yang Bonita sering dengar. Satu ungkapan yang hanya lewat sekilas di telinganya, yang ia anggap sebagai angin lewat yang tak perlu dihiraukannya sama sekali. Mungkin Bonita tidak peduli, atau mungkin dia hanya berpura-pura. Ia sendiri bukan orang yang skeptis dengan cinta. Sebaliknya, ia sangat percaya. Lebih dari percaya kepada dirinya sendiri malah, namun yang ia tidak percayai, mengapa cinta yang tidak percaya padanya.

Ungkapan itu kini berputar dalam kejernihan pikiran Bonita. Membuat arus tersendiri yang menenggelamkan pikiran-pikiran lain yang tersangkut dalam otaknya dan mengambangkan satu kata itu. Cinta datang karena terbiasa. Cinta datang karena terbiasa. Kali ini Bonita mengucapkannya berulang-ulang dalam sendu suara dan lelah penantiannya. Mengucapkannya layaknya ia mengucap mantra.

***

Selasa minggu pertama bulan pertama.

Gerimis mulai membasahi bumi. Meneduhkan derita setiap makhluk yang lelah akan sinar mentari yang terpaksa diserapnya dalam-dalam selama seminggu ini. Wangi tanah dan dedaunan mengusik indra penciuman Ganendra. Ditahannya langkah kaki dan dibiarkannya dirinya menikmati sensasi gerimis ini. Biar rintik yang mengusik, tak peduli dengan kewajiban yang menunggunya di balik pintu kaca sana. Ganendra menikmatinya. Benar-benar menikmatinya.

Sementara di balik pintu kaca, seorang wanita dengan secangkir jasmine tea di tangan kanannya sedang menikmati. Bukan kecapan jasmine yang melekat dalam lidahnya, namun ia menikmati pemandangan yang berada di balik jendela kaca besar yang memisahkan mata dengan sosok lelaki berkemeja hitam yang sedang berdiri, menikmati terpaan angin dan sentuhan air di tubuhnya dalam senyuman yang terkembang di bibirnya yang tipis. Ia menikmati pemandangan yang terhampar di hadapannya. Benar-benar menikmatinya.

***

Bonita tidak pernah menyangka kalau menunggu itu sebegini membosankannya. Sudah habis dilahapnya majalah wanita yang dibelinya tadi di depan La Côte d'Azur, sebuah kedai kopi modern yang terletak di samping taman kecil tengah kota. Dua jam sudah ia hanya duduk-duduk di sini, menyesap pelan-pelan secangkir macchiato yang mengirimkan sensasi menentramkan sekaligus membuatnya bertambah gundah. Semakin sedikit cairan espresso dalam cangkirnya, semakin menjelaskan bahwa yang ditunggunya tak kunjung datang juga. Dua jam berlalu, satu setengah cangkir macchiato habis disesapnya.

Ditaruhnya cangkir kedua yang masih menyisakan setengah espresso di dalamnya. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di sudut mata. Seorang lelaki bertubuh tegap dan berparas tampan berdiri dengan nyamannya di tengah gerimis. Membiarkan air hujan membasahi tubuhnya pelan-pelan, membuat kemeja hitamnya melekat erat pada tubuhnya yang indah. Bonita terpana. Ia benar-benar menikmati pemandangan di depannya. Benar-benar menikmatinya.

***
Ganendra menghentikan aksi dramatisnya yang ternyata tanpa ia sadari menyita perhatian banyak orang di sekitarnya. Gerimis mulai menangis kencang. Dilangkahkan kakinya yang panjang ke arah La Côte d'Azur. Tangannya terulur ke arah rambutnya dengan gaya mengacak-acak, berharap sisa air gerimis tadi ikut hilang akibat gerakannya barusan. Tangannya yang basah membuka pintu kaca di hadapannya. Seketika matanya tertumbuk pada sepasang mata cokelat yang sedang memandangnya dalam hening. Ganendra masih berdiri di pintu masuk, tangannya masih memegang handle pintu kaca itu sementara matanya membaca mata cokelat yang masih memperhatikannya. Mereka saling menatap dalam beberapa detik. Di detik kemudian Ganendra terpaksa melepaskan matanya pada mata cokelat itu karena beberapa pengunjung La Côte d'Azur hendak ke luar dan menghalangi jarak pandang matanya. Di detik berikutnya lagi, mata cokelat yang memandanginya telah menghilang. Wanita berjaket jeans lusuh itu kembali menatap cangkir minuman dalam genggaman tangannya. Ganendra sempat ingin menghampiri meja wanita berjaket jeans lusuh itu sebelum ia menyadari ada cangkir lain yang terletak bersisian dengan cangkir yang barusan perempuan itu genggam. Pandangannya teralihkan pada sesosok wanita berambut panjang yang tersenyum teduh ke arahnya, memandangnya penuh sayang, semakin meremukkan niatnya untuk menghampiri sang wanita yang kini menatap derai hujan yang menerpa jendela kaca di samping tempat duduknya.

***

Selasa minggu ke empat bulan ke dua.

Bonita masih tidak mengerti mengapa setiap pukul lima sore di hari Selasa, ia selalu melangkahkan kaki menuju kedai kopi modern di tengah kota padahal sudah dua bulan pertemuan dengan klien yang meminta di desain-kan kebaya untuk hari pernikahannya hanya dikarenakan setiap Selasa, pria itu selalu berada di sana. Sebenarnya hati Bonita masih berharap kalau pria berkemeja hitam itu mau menghampirinya. Ia merasa bahwa pria itu ialah pusat permasalahan hatinya dua bulan belakangan. Setiap Selasa, tak henti dalam setiap hembusan napas dan langkah kakinya ia selalu berdoa pada Tuhan akan seseorang yang menggenggam tangannya dan menariknya dari sini. Seperti yang selalu pria itu lakukan ketika mata mereka sengaja bertemu, menarik Bonita dalam pusaran kejernihan matanya yang memabukkan.

Dua bulan ia merasakan bahwa ia telah jatuh cinta. Hanya pada pandangan pertama yang tak disengaja, kemudian pandangan-pandangan berikutnya yang tercipta karena naluri alamiahnya. Pria itu tak pernah menolak tatapan Bonita. Ia selalu membalas tatapannya, selama beberapa detik kemudian sang pria kembali fokus memandang wanita berambut panjang di hadapannya. Sesosok wanita yang tak pernah terlihat jelas oleh Bonita karena wanita itu duduk membelakanginya.

Cinta datang karena terbiasa. Begitu kata Kirana, salah satu staf di butik yang dimilikinya yang sudah Bonita anggap sebagai adiknya sendiri. Kamu datang, kamu melihat, lalu kamu jadikan semua itu sebagai kebiasaan yang akhirnya tanpa kamu sadari membuatmu merasa wajib melakukan itu tanpa ada tekanan maupun paksaan. Kamu jatuh cinta, Bonita. Begitu kata Kirana. Tak perlu Kirana memberitahunya, karena Bonita sudah menyadari itu sejak ia melihat pria itu menikmati gerimisnya.

Bonita terbiasa melihat pria itu bercengkrama dengan wanita di hadapannya setiap Selasa, selama satu jam lamanya. Ia terbiasa melihat bagaimana tatapan mata pria itu yang menguar sayang setiap ia memandang wanita itu di sofa yang selalu mereka duduki di pinggir jendela kaca besar. Bonita meyakini kalau cintanya pada pria yang bahkan ia tak ketahui namanya bertumbuh semakin besar tanpa ia sadari. Seketika harapannya muncul, menumbuhkan bunga dalam padang hatinya yang gersang, namun seketika itu pula harapannya musnah. Ada suatu batas kasat mata yang menghalangi jalan cintanya. Ia percaya pada cinta, namun cinta belum memercayakan rasa itu untuk dimilikinya. Bahkan cinta pun memiliki rasanya sendiri yang membingungkan.

***

Di hari Selasa minggu ketiga bulan ke empat, Bonita masih setia mendatangi La Côte d'Azur, nama kedai kopi modern itu yang diambil dari nama pantai indah di Perancis. Seperti biasa, ia selalu datang satu jam lebih awal dari kedatangan pria itu dan wanitanya yang selalu ditatapnya dengan penuh cinta dan sayang, tatapan yang sama seperti yang Bonita berikan pada pria itu selama beberapa detik mereka sempatkan saling memandang. Hanya memandang, dalam diam.

Seperti biasa, Bonita selalu memesan macchiato, minuman kopi favoritnya sejak bertahun-tahun. Satu jam berlalu sebelum kedatangan sang pria, satu cangkir macchiato telah habis disesapnya. Dan ketika pria itu datang, secangkir macchiato baru, kembali menemani dirinya yang duduk sendirian namun kenyataannya kini berkebalikan.

Selasa ini sangat berbeda. Langit tak menampakkan bahwa ia bersedih sore ini dan siap menumpahkan kesedihannya seperti awal mulai ia menginjakkan kaki ke kedai kopi ini. Waktu sudah menunjukkan pukul lima dan kehadiran pria maupun wanita itu pun tak terlihat sama sekali. Sedikit hati Bonita teriris memikirkan kemungkinan bahwa ia tak akan bisa melihat pria itu lagi. Setengah jam berlalu namun pria itu tak kunjung datang. Bonita duduk dalam gelisah, matanya terus memandangi pintu kaca La Côte d'Azur, mengharapkan pria itu datang seperti empat bulan yang selalu ia lakukan, namun sampai macchiato dalam cangkir kedua Bonita tandas, pria itu masih tak menampakkan batang hidungnya.

***
Selasa minggu ke empat bulan ke empat.

Bonita menunggunya seperti biasa. Lagi-lagi ia harus kecewa. Macchiato-nya tandas tanpa kehadiran pria itu di hadapannya. Ia rindu. Rindu tatapannya. Ia rindu menatap pria itu dengan cintanya yang berkobar tanpa berkeinginan untuk terpadamkan walau ia tahu, cintanya akan bertepuk sebelah tangan.

***
Selasa minggu pertama bulan ke lima.

Bonita hampir lelah menunggunya. Sudah dua minggu pria itu tak kunjung menampakkan diri di kedai kopi ini. Berbagai pikiran berkecamuk dalam otaknya. Setiap sel masing-masing dalam otaknya memberikan satu kemungkinan alasan mengapa sang pria tak kunjung datang. Bonita tidak memercayainya. Ia tak ingin berspekulasi. Tak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan pria itu tak kunjung datang. Ia hanya menunggu. Hanya menunggu dalam diam. Ia menantinya dalam keputusasaan.
Cinta datang karena terbiasa. Cinta datang karena terbiasa. Ia meyakininya, namun akanah cinta juga secepat itu pergi ketika rangkaian kehidupan mulai berjalan tak biasa? 

Cinta datang karena terbiasa. Kali ini Bonita mengucapkannya berulang-ulang dalam sendu suara dan lelah penantiannya. Mengucapkannya layaknya ia mengucap mantra.

Dan seperti minggu-minggu sebelumnya, sang pria tak juga memberikan tatapan.

***
Selasa minggu ke dua bulan ke lima.

Bonita siap kali ini. Siap dengan kemungkinan terburuk apapun karena ia mulai berspekulasi. Memikirkan penyebab sang pria yang tak lagi mengunjungi La Côte d'Azur. Sudah hampir satu bulan. Sudah hampir lelah karena penantian. Bonita kini berjanji, bahwa jika hari ini sang pria benar-benar tak lagi memunculkan diri, akan disudahinya penantian. Penantian akan cintanya yang tak juga terbalaskan.

"So, kalau ternyata cowok itu akhirnya datang, lo mau ngelakuin apa Ta? Diam duduk di kursi lo kayak biasa? Nggak ada perjuangan sama sekali? Katanya lo cinta."

Bonita hanya tersenyum memandang Karina yang nampak kesal karena sikap Bonita yang hanya menunggu dan tak ada usaha untuk membangun suatu hubungan yang lebih dekat dengan pria itu.

"Rin, aku sadar siapa yang dia tatap dengan penuh cinta. Itu bukan aku, tapi cewek yang selalu duduk di hadapannya yang duduk membelakangi aku. Aku hanya ingin menatapnya Rin, seperti minggu-minggu kemarin. Setidaknya walau perasaanku tak terbalas, dengan dia aku merasakan cinta. Itu aja, cukup buatku."

***
Perlahan-lahan rinai hujan mulai turun satu-satu. Mengaburkan segerombolan manusia yang berkumpul di tengah-tengah taman kota yang sedang duduk santai menikmati senja dengan bercengkrama dengan orang-orang yang dikasihinya atau membuat sang penyendiri harus berlari menemukan tempat lainnya untuk meneruskan kegiatan melamunnya. Dalam diam Bonita menikmati pemandangan di depannya walau terhalang derai air hujan yang kini semakin lebat yang mengaburkan pandangannya karena terpaan air itu membasahi jendela besar di sampingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh dan ia baru menghabiskan setengah cangkir macchiato. Ia masih menunggu, hatinya masih menanti, seseorang yang mengisi tatapannya membuka pintu kaca kedai ini seperti hari Selasa pertama Bonita menatapnya.

***
Setengah jam berlalu dari pukul lima tiga puluh. Bonita enggan beranjak dari tempat duduknya menuju counter, memesan kembali secangkir macchiato seperti minggu-minggu sebelumnya yang selalu ia lakukan. Alasannya karena ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa, jika cangkir ke dua macchiato tandas, itu merupakan batas terakhir penantiannya.

Dalam hati Bonita menghitung angka satu sampai sepuluh. Mencoba menentramkan hatinya yang dilanda keresahan luar biasa. Ini akan segera berakhir. Penantian akan cintanya akan segera berakhir malam ini juga.

Tepat hitungan ke sepuluh, Bonita mulai bangkit dari tempat duduknya hendak berjalan menuju counter namun sesuatu memaku langkahnya. Jemarinya saling ia tautkan satu sama lain dan jantungnya berdegup kencang dan semakin kencang tak beraturan. Seseorang telah mengalihkan perhatiannya karena tatapan matanya kembali terkunci. Pada satu titik yang ia sebut dengan cinta.

Pria itu masih berdiri di sana. Rambut dan tubuhnya setengah basah akibat diguyur hujan di luar. Ia masih berdiri di dekat pintu masuk dengan tangannya masih menempel pada handle pintu. Tatapannya terkunci pada satu titik berjarak lima meter di hadapannya. Matanya masih memandang pemilik mata cokelat itu. Ada kerinduan yang tersemat di dalam tatapannya yang ia coba hantarkan pada satu sosok yang terpaku di hadapannya. Wanita itu masih berada di sana. Berada di kursi yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Sudut matanya menangkap bahwa hanya ada satu cangkir di atas mejanya dan wanita itu sepertinya hendak pergi. Ia ingin menghampiri wanita itu dan mengatakan jangan pernah pergi karena ia terlalu rindu. Rindu melihat tatapan indah lewat bulu mata lentiknya yang nyata ditujukan kepadanya.

Wanita lain yang sedang menyesap jasmine tea menatap sang pria yang berdiri di pintu masuk dan dengan jelas melihatnya bahwa ia sedang menatap wanita itu. Wanita yang setiap Selasa duduk di kursi yang sama yang selalu memperhatikan mereka berdua atau mungkin hanya memperhatikan sang pria saja. Wanita itu tahu benar apa arti tatapan mata keduanya. Kerinduan.

***
Bonita
Sebuah suara yang nyaring mengagetkanku. Mengganggu tatapanku pada dirinya yang ku rindu. Ada nama yang tersemat dalam teriakan nyaring itu. Ganendra. Itukah namanya?

Ganendra
Conchita memanggil namaku dengan amat kencang. Mengganggu tatapan mataku yang menatap mata cokelat wanita itu. Sedetik tatapanku teralihkan dari mata cokelat itu ke arah Conchita yang kini memotong pendek rambut panjangnya. Detik berikutnya kuputuskan untuk menatap wanita bermata cokelat itu dan ternyata dia masih menatapku!

Bonita
Ternnyata wanita itu yang memanggil namanya. Wanita yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya yang selalu menemani pria itu namun bedanya sekarang wanita itu telah memangkas rambut panjangnya sehingga aku agak pangling mengenalinya. Mataku seakan tak bisa berhenti memandang pria itu, pria yang mungkin saja bernama Ganendra. Tak ku duga ia kembali menatapku. Rasa senang, sedih, rindu, seakan bercampur menjadi satu. Ku harap dia mengetahuinya karena aku telah mengirimkan semua rasa itu lewat tatapan mataku. Dan, ya! Dia mengetahuinya.

Ganendra
Tatapannya kini seperti mengandung bermilyar makna. Anehnya aku merasakan sesuatu yang menghangatkan hatiku.

Bonita
Entah keberanian dari mana aku melangkah dari tempatku berdiri dan menghampirinya. Ya! Menghampiri pria itu!

Ganendra
Wanita itu menghampiriku. Bodoh kalau aku diam saja seperti patung di sini!

Bonita
Dia melangkah. Entah kepada wanita itu atau ia...

Ganendra
Hai.
Satu kata bodoh yang aku ucapkan pada wanita bermata cokelat itu. Sebenarnya aku ingin saja mengatakan bahwa aku merindukan dirinya, tapi apakah itu cukup normal dikatakan pada orang yang baru saja berkenalan? Ah, bahkan berkenalan pun belum!

Bonita
Aku merindukanmu.
Ya, katakan kalau aku gila tapi aku benar-benar mengatakan ini pada dirinya!

Ganendra
Ia berkata bahwa ia merindukanku? Bagaimana bisa kami memiliki perasaan yang sama?!
Ya, aku juga! Sorry tapi adikku sedang duduk di sana menunggu. Kalau kamu mau kamu bisa gabung.
Kataku akhirnya.

Bonita
What?!! Ternyata itu adiknya?! Oh Tuhan terima kasih. Terima kasih banyak.


Bonita menggeleng namun bibirnya tak henti untuk terus tersenyum. Sejenak pria itu menatap Bonita heran.
Temui aku besok pagi di sini tepat pukul sepuluh. Have fun with your sister ya.

***
Bonita melenggang lega dan nyatanya ia keluar dari La Côte d'Azur. Meninggalkan cangkir macchiato yang sudah tandas dan tak jadi kembali ke counter untuk memesan cangkir keduanya.

Ia tahu, ia telah mengambil risiko yang begitu besar. Bisa saja tadi ia ikut bergabung dengan Ganendra dan adiknya dan mempermudah suatu hubungan yang hanya terjalin lewat tatapan mata namun ia tidak melakukan itu. Ia sengaja memberi pilihan bagi Ganendra dan bagi dirinya sendiri.

Jika benar Ganendra adalah seseorang yang dipilihkan Tuhan untuk dirinya, Rabu akan jadi hari terindah dalam hidupnya.

***

Minggu, 18 November 2012

Black Confetti 7

Aku terbangun keesokan harinya dengan dia masih di sampingku. Matanya bersinar saat menyapa tatapan mataku yang setengah mengantuk setengah heran karena melihatnya masih di sini.
"Morning sleepyhead," sapanya sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya, membentuk satu senyuman miring yang sanggup membuat rasa kantukku hilang seketika. Ia berbaring miring, menggunakan siku kanannya untuk menopang kepalanya demi memandangiku seperti ini.
"Morning," jawabku dengan suasana hati yang campur aduk.
"Sarapan di sini atau mau turun ke bawah San?" tanyanya lagi.
WAW!! Apa yang terjadi sama Aras sih sampai dia berubah menjadi begitu peduli dan perhatian seperti ini?! This is not so him! Kerasukan mungkin? Ah, ya bisa saja.
"Cassandra? Hello.. Kok bengong?"
Aku menatap wajahnya benar-benar. Sedetik  kemudian aku bangun dan menegakkan punggungku.
"Kamu kenapa sih Ras? Sakit atau apa? Nggak biasanya bersikap ramah tamah gini! Bilang deh apa mau kamu?!" Tuduhku tanpa tedeng aling-aling. Aras yang ditanya ikut bangun dan memandang heran ke arah wajahku lalu tertawa terbahak-bahak.
"Apa ketawa-tawa?" sahutku jutek.
"So young, fresh, labil, and cute. You're so cute Cassandra, don't you know that?"
"Iya dan kamu kayak om-om senang!" tutupku sambil melemparkan bantal ke arah wajahnya dan melenggang ke kamar mandi. I wanna go home. NOW!

***

Air yang menerpa wajahku membuatku bergidik. Sengaja aku memilih air dingin untuk membasuh seluruh tubuh sekaligus pikirankui dari kejadian gila yang ku lalui akhir-akhir ini. Dari mulai kisah perjodohan yang dramatis, pernikahan, bulan madu singkat, kabur-kaburan, sampai di malam kemarin. Pelukan Aras masih melekat di tubuhku. Aku tak mungkin melupakan itu, merasakan dekapannya dan suhu tubuhnya yang mendekap erat tubuhku, menularkan kehangatannya, mendengarkan detak jantungnya dan naik turun diafragmanya di punggungku. Oh sial! Kenapa otakku dipenuhi oleh bayangannya! 

Tanganku menutup keran shower kemudian meraih salah satu dari tumpukan handuk yang ditaruh di atas meja marmer cantik di sudut kamar mandi. 
Oh Shit!
Sial kuadrat! Aku lupa membawa baju bersih yang akan ku kenakan! Piyama beserta underwear yang ku kenakan tadi basah seluruhnya terkena percikan-percikan air saat mandi tadi dan mengenakan pakaian itu ke luar pun bukan ide yang baik. Ya terpaksa aku harus mengenakan handuk ini ke luar kamar mandi atau aku bakal mati kedinginan di sini.

Pelan-pelan ku buka handle pintu kamar mandi dan melongokkan kepala ke arah kamar, aman! Aras tidak ada di sana. Saat beberapa langkah lagi menuju koper, dimana seluruh pakaianku sudah tersimpan rapi siap untuk di bawa pulang, saat itulah sebuah dehaman keras mengagetkanku, membuatku memegang ujung handuk yang melingkar erat di tubuhku kuat-kuat. Ternyata Aras di sana, berdiri di balkon dengan pakaian semalam, rambutnya masih berantakan dan semakin berantakan karena dipermainkan angin. Tubuhnya menjulang dan terlihat sangat santai walau matahari berusaha menganggunya dengan sinarnya yang menyilaukan.

"Hello sweetheart," katanya kemudian. Ia beranjak dari tempatnya berdiri lalu menghampiriku. 
"Kamu nyari apa? Mau aku bantu?" tanyanya dengan senyumnya yang khas.
"Nggak usah sok baik deh Ras, " aku menantang matanya. "Dan nggak usah ngelihatin aku dengan tatapan mesum kamu itu! Mending, kamu cepet-cepet mandi karena aku mau pulang sekarang juga!"
Aras tertawa mengejek lalu memandangku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kalau kamu berpikir aku bakal tergoda cuma gara-gara tubuh kamu ini, you're wrong honey! Kamu nggak seberapa." ujarnya kemudian menghilang dari pandanganku. Setiap tubuhku gemetar. Hatiku terasa panas, sakit, entah karena apa. 
You're wrong honey. Kamu nggak seberapa.
Entah mengapa, kata-katanya yang diucapkannya kali ini, tanpa tendensi, terdengar begitu menyakitkan menusuk hati. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak ada air mata yang terbuang percuma di sini.

***

Tepat pukul satu siang, Audi hitam yang menjemput dan mengantarkan kami dari hotel menuju rumah, tiba di depan pintu pagar setinggi satu meter yang terbuat dari besi yang terpilin yang di cat putih tulang. Semua nampak terlihat sederhana. Rumah bergaya klasik kolonial satu lantai khas tahun 60-an memiliki halaman luas yang ditata apik. Walau terlihat asri dan nyaman tentu saja ini bukan rumah orang tuaku. Kemana sebenarnya Aras membawaku?

"Welcome home," katanya datar. Wajahnya menatap lurus ke depan. Selama satu jam perjalanan ia pun tak pernah melirikku. Ia fokus pada gadget di tangannya atau pura-pura tertarik dengan kemacetan di jalan.
Mobil Audi pun masuk ke halaman setelah pintu besi tadi di buka oleh seorang wanita paruh baya yang memakai kebaya dan rambutnya dicepol seadanya. Pintu pagar di belakangku kembali tertutup. Sang wanita paruh baya menghampiri mobil kami dan membukakan pintu untukku. Senyumnya terkembang tulus.

"Wilujeng siang Neng Sandra, mangga," katanya padaku. Pria yang mengendarai mobil ini pun langsung ke luar dan mengeluarkan barang-barangku dari dalam bagasi. Loh?!!
Aku melirik ke arah Aras yang nampak tak peduli dan langsung saja menyambar lengannya ketika ku lihat ia hendak membuka pintu mobil di sampingnya.

"Aku mau pulang," desisku tajam. Aras melirikku malas.
"Ini udah di rumah," balasnya tak acuh.
"Aras, aku masih hapal benar rumah orang tuaku di mana, dan ini, jelas bukan tempat tinggalku. Jadi, antar aku ke rumah orang tuaku sekarang juga!"
Ia menarik lengannya dari cengkramanku secara paksa lalu membuka pintu mobil dan meninggalkanku sendirian.
Sedetik kemudian aku ingin menangis, benar-benar ingin menangis, tak mampu rasanya lagi membendung perasaan dongkolku yang semakin hari semakin menggebu. Bayangkan saja dalam waktu 3 hari sejak hari pernikahanku, hati dan perasaanku rasanya luluh lantak, hancur berantakan. 

"Neng?" Tanya sebuah suara yang tiba-tiba saja membuatku mengurungkan niatku untuk menangis di sini. Aku menoleh ke arahnya, berusaha untuk tersenyum semanis mungkin.
"Neng Sandra sudah ditunggu sama keluarga di dalam, ayo Ibu, saya antar ke dalam," ujarnya di samping pintu mobilku yang terbuka dengan logat Sunda yang kental.
Aku seperti kehilangan orientasi. Kepalaku rasanya mau pecah saja.
"Tunggu, ini rumah siapa?" tanyaku linglung.
"Eh, memang tadi Den Aras nggak bilang?" Aku menggeleng, frustasi,
"Ini rumah Oma Mer, Neng Sandra. Semua keluarga sudah berkumpul di dalam menyambut manten baru, termasuk bapa sama ibu Neng Sandra juga sudah ada di dalam, ayo masuk Neng, saya antar."

Kepalaku benar-benar meledak.

***