Sabtu, 26 Januari 2013

Beautiful Goodbye

Kita berdua sama-sama menyadari bahwa sudah tumbuh asa dalam diri, seiring berjalannya hari. Antara aku dan kamu, melewatkan minggu demi minggu bersama, berdua.

Kita berdua sama-sama menyadari jika setitik demi setitik asa yang muncul itu kian lama semakin membesar, kamu yang memberanikan diri untuk maju, aku yang terdiam. Tak tahu harus berbuat apa.

Kita berdua sama-sama tahu bahwa ada diriku dalam bayangmu saat kau mulai mendengar playlist lagu Daughtry di ipod-mu, karena dulu, aku pernah mengatakannya padamu bahwa aku salah satu penggemar beratnya.
Mungkin,

Yang tidak kamu ketahui ialah ketika kamu memutuskan untuk mundur dan menjauh, aku berusaha sekuat tenaga untuk menggapaimu kembali.

Namun yang terjadi?

Kamis, 24 Januari 2013

Black Confetti 11

Satu bulan lamanya aku tidak berhubungan dengan Aras. Kami benar-benar seperti tidak saling mengenal. Perceraian memang sedikit berdampak buruk bagi kesehatanku. Selama dua minggu tubuhku terserang demam, dan akhir-akhir ini maag-ku sering sekali kambuh. Siapa yang bahagia saat dihadapkan dengan perceraian? Seperti kataku dulu bahwa yang paling menderita dengan perceraianku bukan diriku atau pun Aras, namun kedua orang tua kami. Aku menyadari bahwa disetiap senyuman yang terukir dari bibir mama, terselip doa agar aku dan Aras dapat kembali bersama.

Terkadang, ketika malam datang, saat diriku tidak dipenuhi oleh kegiatan kampus yang super padat, pikiranku melayang. Terbang ke saat-saat dimana aku masih menjadi seorang istri bagi Aras. Istri yang payah, yang tidak pernah membuat suaminya bahagia. Jujur saja, aku merasa gagal. Memang pada awalnya tak ada niatan sedikitpun untuk menjadi istri sebenar-benarnya bagi Aras dan awalnya pun tak ada keinginan untuk menjalankan pernikahan ini. Namun seiring waktu bergulir, darah dalam tubuhku mulai berdesir. Saat Aras menatapku lewat sorot matanya yang tajam, saat ia memelukku kencang, saat ia menciumku, bahkan saat kami saling memunggungi, saling membenci. 

Aku tak dapat membohongi lagi, bahwa aku telah mencintai.

Rabu, 16 Januari 2013

Menunggumu

Kau akan menungguku bukan? Dan kembali bertemu. Di sini, tepat lima tahun lagi.

Aku menggenggam jemariku kuat-kuat sambil merapatkan mantel beludru berwarna merah pada tubuhku yang mulai menggigil kedinginan. Udara memang sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini dan hujan turun tiada henti sepanjang pagi tadi. Namun untung saja, ketika aku mulai melangkahkan kaki menuju stasiun, hujan mulai mereda, seakan memberi restu untukku berjalan. Untuk menemuimu. Di sini. Seperti yang kau janjikan lima tahun yang lalu.

Tiga jam berlalu. Orang silih berganti naik turun kereta di hadapanku. Katamu, kau akan sampai di stasiun pukul satu, namun sampai saat ini batang hidungmu tak terlihat juga. Aku mengabaikan perut yang keroncongan semenjak tadi. Terlalu antusias menunggu kedatanganmu. Lima tahun yang lalu kau pergi, melaksanakan kewajibanmu untuk membela negara di provinsi paling ujung barat Indonesia. Lima tahun diriku dilanda gelisah. Aku mendengar kabarmu hanya melalui berita di tv dan terkadang itu membuatku ketakutan. Setiap penyiar menyebutkan jatuhnya korban jiwa, hatiku remuk seketika. Membayangkan kalau itu dirimu. Aku sungguh tak sanggup. Aku terlalu mencintaimu.

Minggu, 06 Januari 2013

Kamu, Pria Berkemeja Biru


Untuk...

Kamu, pria berkemeja biru yang duduk di sudut, wajahmu menunduk, fokus pada sebuah buku di tanganmu.

Kamu, pria yang sesekali melihat ke arah jendela, menikmati rinai hujan yang berderai di luar, jemarimu sesekali menyentuh kacanya, mencoba merasakan dinginnya pada kulitmu yang putih.

Kamu, pria yang sesekali tertawa, seakan menikmati bahan bacaanmu yang setumpuk di atas meja.

Kamu, pria yang sesekali menyesap minuman dalam cangkirmu perlahan, memejamkan matamu sedetik, menikmati rasanya dalam lidahmu.

Rabu, 02 Januari 2013

Black Confetti 10

Aku terbangun keesokan harinya di pelukan Aras. Tangannya melingkar di pinggangku dengan protektif sementara tubuhnya menempel erat di tubuhku. Aku menikmati semua sentuhannya dan tak ada niat sedikitpun untuk melepas pelukan Aras. Mungkin ini aneh. Bagaimana bisa aku merasa nyaman berada dalam dekapan tubuhnya padahal aku sangat membencinya. Aku membenci manusia yang terlelap di sampingku ini. Aku membenci segala bentuk kearogansian yang selalu ditunjukkannya kepadaku.

Aras bergerak dalam tidurnya kemudian perlahan-lahan membuka mata.

"Kedua kalinya kita tidur bareng, San.." sapa pria itu. Aku membalas tatapannya dan dalam sedetik sebuah ciuman kecil mendarat di bibirnya. Aras tersenyum kemudian memejamkan matanya lagi. Mengambil napas dalam-dalam, seakan-akan melihat ia berpikir keras apa arti ciumanku barusan. Belum pernah aku menciumnya dan ciuman itu ialah ciuman pertamaku untuk Aras.

"Kamu berani banget, San," kata Aras penuh teka-teki. 
"Berani apa?" tanyaku bingung.
"Cium aku seperti tadi," jawabnya.