Senin, 21 Oktober 2013

Cinta Krysan

Air matanya menetes perlahan menempa pipinya yang mulus. Dilihatnya seorang lelaki tampan dengan iris hijaunya yang dapat dikenali bahkan dari jarak sejauh ini. Perempuan itu menekan dada kirinya kuat-kuat, seakan dengan cara itu ia dapat mengurangi nyeri di sana. Hatinya serasa dicabik menjadi serpihan, perasaannya sungguh tak karuan, Batinnya sakit, raganya lelah, bahkan tak sanggup lagi ia untuk marah.

Lelaki itu tersenyum. Memberikan sepenuhnya perhatian yang dia miliki untuk sesosok wanita cantik yang duduk di hadapannya. Tangan mereka saling menggenggam erat dan tak sekali lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah sang wanita, hanya demi mengecup keningnya. Terkadang sederet gigi putihnya terlihat dan kedua lesung pipinya menyembul, tanda bahwa lelaki itu sedang tertawa. Entah menikmati lelucon apa yang sedang diutarakan wanita yang duduk di depannya.

Krysan mengatur napasnya yang tersengal, akibat air matanya yang kini mulai mengalir, membentuk aliran di kedua belah pipinya. Pemandangan yang menyayat hati. Pemandangan yang membuat dia serasa mati rasa, kebas terhadap cinta. Lelaki bermata hijau itu adalah kekasihnya, sejak lima tahun lalu sampai mungkin hingga saat ini. Ia sadar bahwa ia telah dikhianati. Dan sang wanita cantik yang kini tengah tersenyum dan memandang penuh cinta pada lelaki yang dicintainya, Krysan mengenalnya. Seperti dia mengenal dirinya sendiri.

Selama ini dia tak pernah menghiraukan perkataan orang mengenai lelaki dan sang wanita yang sudah ia kenal lama. Menepis segala bentuk rumor dan menghalau berita murahan yang menyebutkan adanya affair di antara mereka. Kali ini Krysan tak lagi dapat mengelak. Bukti nyata ada di hadapannya. Mungkin ia dulu buta, seperti apa yang dituduhkan orang-orang kepada dirinya. Ia buta karena cinta. Krysan terlalu buta dan menyangkal. Dan kini hanya tersisa penyesalan. Kenapa dia tidak percaya rumor yang beredar dahulu?

Suara dalam hatinya menyuruh Krysan untuk pulang, tak ada gunanya lagi melihat kemesraan yang ditunjukkan secara terang-terangan antara lelaki dan wanita itu. Bahkan mereka kini semakin berani mengumbar kemesraannya, saling bertukar pandang kasmaran dan suara tawa lembut yang keluar dari bibir mungil milik sang wanita. Mereka seakan lupa, bahwa kafe yang mereka tempati kini merupakan tempat pertama Krysan jatuh cinta. Pada lelaki bermata hijau yang duduk menyendiri di sudut, asyik dengan Inferno di tangannya.

Alih-alih melangkahkan kaki menuju stasiun terdekat untuk kembali ke flatnya dan meredakan sakit yang kini menyelibungi seluruh tubuhnya tanpa ampun, Krysan beranjak dari tempatnya berdiri menuju kafe itu. Mencoba menghadapi kenyataan dan menerimanya. Ia bukan seorang pengecut yang takut menghadapi kenyataan, sepahit apapun itu.

Tangannya gemetar ketika meraih handle pintu kaca. Sempat melihat pantulan dirinya di kaca tadi, tidak sepenuhnya buruk. Rambut warna mahogany-nya masih rapi, tergerai melapisi punggungnya yang tak mau tegak semenjak tadi. Hanya sedikit riasan saja di wajahnya yang luntur akibat air mata, dan dengan punggung tangan ia mengusap bekas air mata yang mengering di sana. Kedua sudut bibirnya terangkat naik, maksud ingin tersenyum dan terlihat setulus yang dibisanya, namun ternyata gagal. Bibirnya enggan untuk berkompromi lagi sekarang.

Hawa hangat langsung menyergapanya ketika Krysan sepenuhnya masuk ke dalam kafe itu, berbeda dengan udara dingin akhir musim gugur yang seakan menusuk tulangnya. Kali ini ia menghela napasnya dan menghitung sampai hatinya merasa siap dan melangkah ke arah dua insan yang masih saling menggenggam.

Krysan berdiri di antara mereka dengan kikuk. Tak sepantasnya dia kikuk seperti ini, seharusnya wanita cantik inilah yang merasakan rasa gugup saat melihatnya. Namun kenyatannya, tidak sama sekali. Sang wanita cantik tersenyum sinis, semakin mengeratkan genggaman tangannya pada lelaki itu. Sementara sang lelaki merasa tak terganggu sama sekali.

Jantung Krysan seakan tercabut paksa dari tempatnya demi melihat reaksi dari kedua orang di hadapannya. Tak ada raut menyesal di wajah mereka. Tak ada yang memanggilnya, tak ada yang menyuruhnya duduk, tak ada yang memedulikannya. Air mata kembali turun di pipi Krysan. Dengan kedua matanya yang memburam akibat air mata, ia dapat melihat sang lelaki berkata yang segera ia mengerti dari gerak bibirnya. Akhirnya kamu mengetahuinya juga.

Kembali Krysan meremas dada kirinya, demi mengurang hentakan jantungnya yang semakin tak terkendali. Matanya menatap sang wanita yang kini berbicara padanya. Krysan tak sepenuhnya mengerti akibat gerak bibir wanita itu yang cepat dan tak mampu ditangkap oleh matanyaa. Krysan hanya menatap mereka bingung, mencoba memahami apa yang terjadi.

Sang lelaki menggeleng lemah. Lelah karena Krysan tak juga mengerti. Lelah karena perempuan yang rapuh namun terlihat cantik itu tak pernah memahami. Krysan tidak buta tentu saja untuk segera menyadari bahwa ada yang salah di antara dirinya dengan wanita cantik di hadapannya, yang sebenarnya bukan kesalahan. Lima tahun ia berusaha untuk menerima Krysan sepenuh hati, namun sosok Krysan yang selalu dibayang-bayangi Jasmine di belakangnya semakin menggeser posisi Krysan dalam hatinya, terlebih Jasmine selalu tahu apa yang diinginkannya. Kenapa Krysan bisa sebuta itu untuk baru menyadari sekarang? Batin pria itu. Ia hanya bisa membatin, toh jika dia berbicara pun belum tentu Krysan akan mengerti.

Lelaki itu bangkit dari duduknya setelah sebelumnya melepaskan genggamannya dengan Jasmine. Tubuhnya ia arahkan ke arah Krysan, memperpendek jarak di antara mereka agar Krysan dapat mengerti lebih baik apa yang ingin diucapkannya. Tak lagi ia menggunakan isyarat apapun, karena ia sudah lelah dengan semua ini. Ia lelah dengan hubungannya dengan Krysan.

Hanya satu kata yang dapat ditangkap oleh Krysan. Satu kata yang diucapkan lelaki itu tanpa adanya sorot rasa bersalah dan diucapkannya dengan sungguh-sungguh. Pulanglah. Satu kata yang dapat dimengertinya dan dapat dilihatnya dengan baik walau matanya masih buram, karena tak hentinya air mata keluar dari muaranya. Krysan sempat terdiam sejenak, tak menyangka bahwa seperti ini rasanya penolakan. Sejak dulu hingga lima tahun kemarin, ia cukup kebal dengan adanya penolakan dan tatapan iba dari orang sekitarnya, namun satu hari di lima tahun terakhir, ia merasakan bahwa ada manusia yang dapat menerimanya, seluruhnya, segala kekurangan dan kelebihannya. Membangun semangatnya yang porak-poranda, mengembalikan kepercayaannya. Dan hal itulah yang membuat Krysan berani mengatakan perasaannya pada lelaki bermata hijau itu. Cinta, yang diucapkannya dengan terbata dan susah payah.

Krysan berbalik, memunggungi lelaki yang dicintainya dan wanita cantik yang diakui sahabat terbaiknya selama ini. Ia berjalan dari kafe itu dengan bahu lunglai dan wajah yang tak berani ia tengadahkan. Kakinya terasa lemas untuk dipakai berjalan namun Krysan tak peduli lagi. Benar apa yang dikatakan lelaki tadi. Ia harus pulang, tempatnya memang bukan di sini. Pulanglah. Pulanglah.


***


Malam mulai merangkak naik sementara Krysan masih bergelung di atas sofa empuk berwarna gading. Masih menangis walau tanpa suara. Masih merasakan perih akibat penolakan dari kedua manusia yang dicintainya selama ini. Namun suara bel berbunyi yang berasal dari depan flatnya memaksanya untuk bangun. Dan betapa terkejutnya ketika ia melihat lelaki bermata hijau yang dicintainya berdiri di sana. Memunculkan harapan demi harapan yang tadi sempat terkubur dalam-dalam. Namun raut wajah lelaki itu menampakkan rasa yang dikiranya tak akan pernah memancar dari wajah lelaki itu. Rasa iba dan kasihan.

Ia menggenggam tangan Krysan yang rapuh, yang selalu membuat debar jantung Krysan menghentak bertalu-talu. Tak sampai sedetik, lelaki itu melepaskan genggamannya. Sebagai gantinya ia memberikan Krysan sepucuk surat beramplop biru muda, warna kesukaannya. Dahinya tertaut, tak mengerti dan mencoba mencari kejelasan di mata hijau yang kini tengah memandangnya. Bibir lelaki itu bergerak, mengucapkan sesuatu yang dapat Krysan mengerti dan memangkas habis harapan-harapan yang tadi sempat timbul. Maaf. Dan lelaki itupun pergi dari hadapannya.

Sekuat tenaga Krysan mencoba untuk tetap berdiri walau rasanya ia tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dengan gemetar Krysan menutup pintu flatnya dan kembali meringkuk di atas sofa. Sebuah surat. Penjelasan. Lelaki itu lelah menjelaskan dan berharap dengan sepucuk surat Krysan dapat mengerti.


Dear Krysan,
Aku minta maaf karena meninggalkanmu seperti ini. Kau begitu cantik dan luar biasa, namun aku menyadari bahwa itu saja tak cukup untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia. Kamu sempat hadirkan cinta. Yang pada awalnya kurasa itu untukmu, namun dengan berjalannya waktu ternyata cinta yang telah kau tanamkan dalam diriku, harus kubagi dengan orang lain. Aku harus memilih Krysan, dan aku minta maaf, aku memilih orang lain.

Terimakasih karena berkat dirimu aku merasa memiliki semangat dan mensyukuri kehidupanku.Terimakasih karena dengan dirimu di sisiku, mengembalikan satu rasa yang dulu sempat tiada. Semoga kau segera menemukan kebahagiaanmu.

Yang Selalu Menyanyangimu,


Andrew Garlich


Air mata membasahi surat tersebut, membuat huruf-hurufnya mengabur dan tak dapat dibaca lagi. Namun Krysan rasa itu sudah tidak perlu. Cintanya sudah habis untuk lelaki bermata hijau itu dan rasanya ia tak sanggup lagi untuk mencintai. Krysan menyadari bahwa lelaki itu pasti lelah berkomunikasi dengan wanita seperti dirinya, yang tidak sempurna bila dibandingkan dengan Jasmine, sahabatnya. Mungkin Andrew lelah dengan bahasa isyarat yang selalu ia gunakan ketika mengobrol dengan Krysan dan maksud pembicaraan yang kadang telat dicerna akibat keterbatasannya. Krysan sadar sepenuhnya dan ia harus belajar merelakan. Cintanya bukan untuknya.


***