Senin, 21 Oktober 2013

Cinta Krysan

Air matanya menetes perlahan menempa pipinya yang mulus. Dilihatnya seorang lelaki tampan dengan iris hijaunya yang dapat dikenali bahkan dari jarak sejauh ini. Perempuan itu menekan dada kirinya kuat-kuat, seakan dengan cara itu ia dapat mengurangi nyeri di sana. Hatinya serasa dicabik menjadi serpihan, perasaannya sungguh tak karuan, Batinnya sakit, raganya lelah, bahkan tak sanggup lagi ia untuk marah.

Lelaki itu tersenyum. Memberikan sepenuhnya perhatian yang dia miliki untuk sesosok wanita cantik yang duduk di hadapannya. Tangan mereka saling menggenggam erat dan tak sekali lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah sang wanita, hanya demi mengecup keningnya. Terkadang sederet gigi putihnya terlihat dan kedua lesung pipinya menyembul, tanda bahwa lelaki itu sedang tertawa. Entah menikmati lelucon apa yang sedang diutarakan wanita yang duduk di depannya.

Krysan mengatur napasnya yang tersengal, akibat air matanya yang kini mulai mengalir, membentuk aliran di kedua belah pipinya. Pemandangan yang menyayat hati. Pemandangan yang membuat dia serasa mati rasa, kebas terhadap cinta. Lelaki bermata hijau itu adalah kekasihnya, sejak lima tahun lalu sampai mungkin hingga saat ini. Ia sadar bahwa ia telah dikhianati. Dan sang wanita cantik yang kini tengah tersenyum dan memandang penuh cinta pada lelaki yang dicintainya, Krysan mengenalnya. Seperti dia mengenal dirinya sendiri.

Selama ini dia tak pernah menghiraukan perkataan orang mengenai lelaki dan sang wanita yang sudah ia kenal lama. Menepis segala bentuk rumor dan menghalau berita murahan yang menyebutkan adanya affair di antara mereka. Kali ini Krysan tak lagi dapat mengelak. Bukti nyata ada di hadapannya. Mungkin ia dulu buta, seperti apa yang dituduhkan orang-orang kepada dirinya. Ia buta karena cinta. Krysan terlalu buta dan menyangkal. Dan kini hanya tersisa penyesalan. Kenapa dia tidak percaya rumor yang beredar dahulu?

Suara dalam hatinya menyuruh Krysan untuk pulang, tak ada gunanya lagi melihat kemesraan yang ditunjukkan secara terang-terangan antara lelaki dan wanita itu. Bahkan mereka kini semakin berani mengumbar kemesraannya, saling bertukar pandang kasmaran dan suara tawa lembut yang keluar dari bibir mungil milik sang wanita. Mereka seakan lupa, bahwa kafe yang mereka tempati kini merupakan tempat pertama Krysan jatuh cinta. Pada lelaki bermata hijau yang duduk menyendiri di sudut, asyik dengan Inferno di tangannya.

Alih-alih melangkahkan kaki menuju stasiun terdekat untuk kembali ke flatnya dan meredakan sakit yang kini menyelibungi seluruh tubuhnya tanpa ampun, Krysan beranjak dari tempatnya berdiri menuju kafe itu. Mencoba menghadapi kenyataan dan menerimanya. Ia bukan seorang pengecut yang takut menghadapi kenyataan, sepahit apapun itu.

Tangannya gemetar ketika meraih handle pintu kaca. Sempat melihat pantulan dirinya di kaca tadi, tidak sepenuhnya buruk. Rambut warna mahogany-nya masih rapi, tergerai melapisi punggungnya yang tak mau tegak semenjak tadi. Hanya sedikit riasan saja di wajahnya yang luntur akibat air mata, dan dengan punggung tangan ia mengusap bekas air mata yang mengering di sana. Kedua sudut bibirnya terangkat naik, maksud ingin tersenyum dan terlihat setulus yang dibisanya, namun ternyata gagal. Bibirnya enggan untuk berkompromi lagi sekarang.

Hawa hangat langsung menyergapanya ketika Krysan sepenuhnya masuk ke dalam kafe itu, berbeda dengan udara dingin akhir musim gugur yang seakan menusuk tulangnya. Kali ini ia menghela napasnya dan menghitung sampai hatinya merasa siap dan melangkah ke arah dua insan yang masih saling menggenggam.

Krysan berdiri di antara mereka dengan kikuk. Tak sepantasnya dia kikuk seperti ini, seharusnya wanita cantik inilah yang merasakan rasa gugup saat melihatnya. Namun kenyatannya, tidak sama sekali. Sang wanita cantik tersenyum sinis, semakin mengeratkan genggaman tangannya pada lelaki itu. Sementara sang lelaki merasa tak terganggu sama sekali.

Jantung Krysan seakan tercabut paksa dari tempatnya demi melihat reaksi dari kedua orang di hadapannya. Tak ada raut menyesal di wajah mereka. Tak ada yang memanggilnya, tak ada yang menyuruhnya duduk, tak ada yang memedulikannya. Air mata kembali turun di pipi Krysan. Dengan kedua matanya yang memburam akibat air mata, ia dapat melihat sang lelaki berkata yang segera ia mengerti dari gerak bibirnya. Akhirnya kamu mengetahuinya juga.

Kembali Krysan meremas dada kirinya, demi mengurang hentakan jantungnya yang semakin tak terkendali. Matanya menatap sang wanita yang kini berbicara padanya. Krysan tak sepenuhnya mengerti akibat gerak bibir wanita itu yang cepat dan tak mampu ditangkap oleh matanyaa. Krysan hanya menatap mereka bingung, mencoba memahami apa yang terjadi.

Sang lelaki menggeleng lemah. Lelah karena Krysan tak juga mengerti. Lelah karena perempuan yang rapuh namun terlihat cantik itu tak pernah memahami. Krysan tidak buta tentu saja untuk segera menyadari bahwa ada yang salah di antara dirinya dengan wanita cantik di hadapannya, yang sebenarnya bukan kesalahan. Lima tahun ia berusaha untuk menerima Krysan sepenuh hati, namun sosok Krysan yang selalu dibayang-bayangi Jasmine di belakangnya semakin menggeser posisi Krysan dalam hatinya, terlebih Jasmine selalu tahu apa yang diinginkannya. Kenapa Krysan bisa sebuta itu untuk baru menyadari sekarang? Batin pria itu. Ia hanya bisa membatin, toh jika dia berbicara pun belum tentu Krysan akan mengerti.

Lelaki itu bangkit dari duduknya setelah sebelumnya melepaskan genggamannya dengan Jasmine. Tubuhnya ia arahkan ke arah Krysan, memperpendek jarak di antara mereka agar Krysan dapat mengerti lebih baik apa yang ingin diucapkannya. Tak lagi ia menggunakan isyarat apapun, karena ia sudah lelah dengan semua ini. Ia lelah dengan hubungannya dengan Krysan.

Hanya satu kata yang dapat ditangkap oleh Krysan. Satu kata yang diucapkan lelaki itu tanpa adanya sorot rasa bersalah dan diucapkannya dengan sungguh-sungguh. Pulanglah. Satu kata yang dapat dimengertinya dan dapat dilihatnya dengan baik walau matanya masih buram, karena tak hentinya air mata keluar dari muaranya. Krysan sempat terdiam sejenak, tak menyangka bahwa seperti ini rasanya penolakan. Sejak dulu hingga lima tahun kemarin, ia cukup kebal dengan adanya penolakan dan tatapan iba dari orang sekitarnya, namun satu hari di lima tahun terakhir, ia merasakan bahwa ada manusia yang dapat menerimanya, seluruhnya, segala kekurangan dan kelebihannya. Membangun semangatnya yang porak-poranda, mengembalikan kepercayaannya. Dan hal itulah yang membuat Krysan berani mengatakan perasaannya pada lelaki bermata hijau itu. Cinta, yang diucapkannya dengan terbata dan susah payah.

Krysan berbalik, memunggungi lelaki yang dicintainya dan wanita cantik yang diakui sahabat terbaiknya selama ini. Ia berjalan dari kafe itu dengan bahu lunglai dan wajah yang tak berani ia tengadahkan. Kakinya terasa lemas untuk dipakai berjalan namun Krysan tak peduli lagi. Benar apa yang dikatakan lelaki tadi. Ia harus pulang, tempatnya memang bukan di sini. Pulanglah. Pulanglah.


***


Malam mulai merangkak naik sementara Krysan masih bergelung di atas sofa empuk berwarna gading. Masih menangis walau tanpa suara. Masih merasakan perih akibat penolakan dari kedua manusia yang dicintainya selama ini. Namun suara bel berbunyi yang berasal dari depan flatnya memaksanya untuk bangun. Dan betapa terkejutnya ketika ia melihat lelaki bermata hijau yang dicintainya berdiri di sana. Memunculkan harapan demi harapan yang tadi sempat terkubur dalam-dalam. Namun raut wajah lelaki itu menampakkan rasa yang dikiranya tak akan pernah memancar dari wajah lelaki itu. Rasa iba dan kasihan.

Ia menggenggam tangan Krysan yang rapuh, yang selalu membuat debar jantung Krysan menghentak bertalu-talu. Tak sampai sedetik, lelaki itu melepaskan genggamannya. Sebagai gantinya ia memberikan Krysan sepucuk surat beramplop biru muda, warna kesukaannya. Dahinya tertaut, tak mengerti dan mencoba mencari kejelasan di mata hijau yang kini tengah memandangnya. Bibir lelaki itu bergerak, mengucapkan sesuatu yang dapat Krysan mengerti dan memangkas habis harapan-harapan yang tadi sempat timbul. Maaf. Dan lelaki itupun pergi dari hadapannya.

Sekuat tenaga Krysan mencoba untuk tetap berdiri walau rasanya ia tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dengan gemetar Krysan menutup pintu flatnya dan kembali meringkuk di atas sofa. Sebuah surat. Penjelasan. Lelaki itu lelah menjelaskan dan berharap dengan sepucuk surat Krysan dapat mengerti.


Dear Krysan,
Aku minta maaf karena meninggalkanmu seperti ini. Kau begitu cantik dan luar biasa, namun aku menyadari bahwa itu saja tak cukup untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia. Kamu sempat hadirkan cinta. Yang pada awalnya kurasa itu untukmu, namun dengan berjalannya waktu ternyata cinta yang telah kau tanamkan dalam diriku, harus kubagi dengan orang lain. Aku harus memilih Krysan, dan aku minta maaf, aku memilih orang lain.

Terimakasih karena berkat dirimu aku merasa memiliki semangat dan mensyukuri kehidupanku.Terimakasih karena dengan dirimu di sisiku, mengembalikan satu rasa yang dulu sempat tiada. Semoga kau segera menemukan kebahagiaanmu.

Yang Selalu Menyanyangimu,


Andrew Garlich


Air mata membasahi surat tersebut, membuat huruf-hurufnya mengabur dan tak dapat dibaca lagi. Namun Krysan rasa itu sudah tidak perlu. Cintanya sudah habis untuk lelaki bermata hijau itu dan rasanya ia tak sanggup lagi untuk mencintai. Krysan menyadari bahwa lelaki itu pasti lelah berkomunikasi dengan wanita seperti dirinya, yang tidak sempurna bila dibandingkan dengan Jasmine, sahabatnya. Mungkin Andrew lelah dengan bahasa isyarat yang selalu ia gunakan ketika mengobrol dengan Krysan dan maksud pembicaraan yang kadang telat dicerna akibat keterbatasannya. Krysan sadar sepenuhnya dan ia harus belajar merelakan. Cintanya bukan untuknya.


***

Senin, 10 Juni 2013

Resensi: CoupL(ov)e by Rhein Fathia


CoupL(ov)e bercerita mengenai sebuah pernikahan antar sepasang sahabat, Halya dan Raka. Pernikahan yang membuat kehidupan mereka jauh-jauh-jauuuuuuh berbeda dari sebelumnya. Banyak kemelut terjadi, banyak duka dan benci, banyak tangis dan nestapa, namun ada juga canda, bahagia, dan tawa. Penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya? Alasan apa yang mendasari mereka berdua untuk sepakat menjadi suami istri? Baca novelnya untuk tahu kisah lengkapnya :))

Novel dengan setting Bandung-Jakarta ini beralur maju-mundur. Pembaca akan mengetahui secara gamblang bagaimana kisah awal persahabatan Halya dan Raka sampai kehidupan pasca pernikahannya. Awalnya saya merasa bahwa alur cerita mengalir sangat pelan, namun di tengah, saya terpompa untuk membaca lembar demi lembarnya. Dalam kisah yang ditulis, kadang saya merasa ikut capek, sedih, kesal akibat ulah tokoh di dalamnya. Rhein saya akui sangat pandai sekali memainkan emosi pembaca, khususnya saya yang sensitif jika terdapat kisah yang menguras emosi dan jiwa raga. Tak jarang saya pun tertawa-tawa ketika saya seolah-olah mengenal sosok Halya yang lucu dengan tingkah kekanakannya yang diimbangi sosok Raka di dalamnya. Saya pun mengakui bahwa sosok Raka adalah sosok yang sangat-amat cocok bila dijadikan 'mantu idaman setiap orangtua' dikarenakan Raka akan membuat wanita melting akan setiap kelakuannya, minus kelakuan untuk mengenang romansa masa lalu bersama seseorang bernama Rina. Cih! Ini part yang paling saya sebal. Bagaimana mungkin dia tega bermain perasaan dengan Halya, istrinya, yang secara tidak langsung dikatakan ber'selingkuh' tepat di depan wajah istrinya sendiri, sementara Halya yang terjebak masa lalunya bersama Gilang, membuat Raka cemburu! Oh come on Raka! Otakmu ditaruh di mana sampai tega menaruh rasa cemburumu pada Gilang?!

Satu lagi yang saya suka dari novel ini selain permainan emosinya, adalah kepribadian Halya yang ditulis apik oleh Rhein. Saya seakan-akan menjadi sosok Halya karena saya ikut merasakan kesedihannya, penderitaannya akan Gilang, dan cinta untuk Raka! Berbicara tentang Gilang, andai saja Gilang itu tidak....... (ups, baca sendiri ya :p) saya sangat suka caranya mencintai Halya, begitu menyentuh! Sempat merasa iri juga sih dalam hati dengan Halya, karena cinta Gilang sangat luar biasa dan penuh kejutan.

Rhein memberikan satu gambaran mengenai cinta murni antar sepasang sahabat. Bagi yang skeptis mengenai persahabatan antara lelaki dan wanita di mana keukeuh bahwa pasti selalu ada cinta yang terselip di dalamnya selain rasa persahabatan, wajib membaca novel ini! Jujur saja saya terhanyut oleh kisah yang ditawarkan, tentang cinta itu bisa dipupuk, bisa bersemi, jika sepasang manusia saling mengusahakan, dan itulah yang terjadi dalam kisah Halya dan Raka walaupun pada awalnya mereka hanya bersahabat, namun saat mereka berusaha dan memiliki tekad, mereka pun saling jatuh cinta. 

Oh iya, ada part di mana Rhein mengisahkan tokoh-tokohnya menjadi mahasiswa tingkat akhir. Saya ikut merasakan, bagaimana killer-nya dosen, bagaimana susahnya menyusun skripsi, bagaimana rasanya akan menghadapi sidang. Kiamat! Saya benar-benar merasa diingatkan kembali pada kejadian 2 minggu lalu saat saya sidang! Oh My God! Saya banget tuh yang panik-panik sinting dan bernangis-nangis ria sebelum sidang! *nangis lagi*

Jujur tidak banyak kekurangan yang saya temukan dalam novel ini selain bagian yang sedikit aneh saat diceritakan Halya sedang reuni dengan teman-teman blogger-nya yang salah satunya bernama Angie. Diceritakan sebelumnya Halya sudah pernah mengirimkan fotonya bersama Gilang pada Angie, dan ketika Angie bertemu dengan Raka dia menyangka bahwa itu Gilang. Di sini saya bingung, entah Angie yang lupa wajah Gilang atau Gilang dan Raka berwajah mirip hingga dia sampai salah menyebut nama Raka menjadi Gilang, sehingga muncul sedikit api cemburu yang sebenarnya membawa hubungan Raka dan Halya ke step selanjutnya ;p

Satu hal yang saya tangkap dan paling mengena di hati adalah kata-kata Raka pada Halya, Love and relationship are work. Ada usaha di sana melalui beragam cara. Sedikit memberi harapan pada fakir asmara bahwa akan ada cinta bila ada usaha, bukan hanya cinta itu dapat kita rasakan lewat tatapan pertama saja, namun proses menuju sesuatu yang bernama cinta itulah yang membawa kita pada cinta yang seutuhnya.

Untuk novel yang menguras energi, air mata, dan emosi serta memberikan tawa, bahagia, saya beri empat bintang! Terus berkarya ya Rhein, saya akan tunggu novel menguras emosi dan saya akan tunggu emosi saya dijungkir-balikkan lagi olehmu :P :P


Semoga Rhein selalu sukses dan tidak habis ide untuk menuang imajinasinya dalam untaian kata.

Well, siapa yang siap berusaha untuk menemukan dan berjuang demi cinta di sini? Saya akan mengacung paling pertama!

Minggu, 09 Juni 2013

Baby Bianca Part I

"Bi, lo nggak mau punya anak?" tanya Kiara untuk keseribu kalinya sampai-sampai Bianca jengah.
"Mulai deh... Kenapa sih nanya itu mulu?" tanya Bianca jutek. Jemari lentiknya meraih kotak berbentuk persegi panjang yang terletak di atas meja.
"Ssst! Itu punya gue!" sembur Kiara kesal sambil merebut kotak rokok itu dari tangan Bianca.
"Lo tuh apa-apaan sih Ki? Kayak nenek-nenek lo ah pake larang-larang gue!"
"Lo gila? Kalau mulut lo ngisep ginian terus, kapan lo punya anaknya hah?"

Bianca menghela napasnya. Kiara benar-benar sudah kelewatan. Sudah cukup selama ini Bianca bersabar dan diam seperti orang tuli kalau-kalau Kiara mulai mengoceh mengenai kehamilan dan segala tetek bengeknya, dan apa yang dilakukan perempuan itu sekarang? Melarang-larangnya seperti ini, bahkan Marco tidak pernah melarangnya sekalipun!

"Gue bisa beli rokok gue sendiri!" kata Bianca tegas sambil mengangkat pantatnya dari sofa empuk di sebuah kafe yang sering didatanginya bersama Kiara.

Sabtu, 11 Mei 2013

Pura-pura

Aku tidak pernah menyangka jika aku akan bertemu denganmu di sini. Di tempat di mana tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya akan melihatmu, tersenyum menatapku. Senyum yang selama ini jarang kulihat.

Aku berpura sibuk dengan temanku, bercanda, tertawa, berpura-pura seakan tak melihatmu ada. Namun kau harus tahu, sudut mataku menangkap sosokmu yang langsung tersimpan dalam memori tanpa harus kuperintah. Aku tahu kau memperhatikan segala gerak-gerikku, tapi, kau hanya bergeming. Seakan dengan melihatku saja sudah cukup untukmu.

Kamis, 09 Mei 2013

Karena Cinta, Memang Harus Menunggu

We're not lovers, but more than friends,
Put a flame to every single word you ever said
No more crying to get me through
I’ll keep dancing till the morning with somebody new

Penggalan lirik dari Carly Rae Jepsen sedikit membuat konsentrasiku buyar. Kenapa sih aku harus mendengarkan lagu ini di saat seperti ini? Di saat hubunganku dengan Gio sedang buruk-buruknya?! Di saat ada perasaan lain yang merasukiku dan membuatku kesetanan dan berakibat tiga hari yang lalu aku bersikap menyebalkan kepada Gio yang ternyata dibalas dengan sama menyebalkannya?

Oke, oke. Sikapku tiga hari lalu memang sangat childish. Mendadak bisu dan tuli saat aku tahu bahwa ternyata sudah satu bulan dia mendekati Samantha dan dia tidak memberitahuku. Dia anggap apa aku ini? Oh please Gio, i wanna tell you this: kita udah temenan lama banget. Mungkin sejak kamu masih pakai popok dan aku ada di dalam rahim Mama, kita udah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi sepasang sahabat. Dan sebagai seorang sahabat kamu, kenapa kamu nggak cerita kalau kamu sedang dekat dengan Samantha? Yeah, kedengarannya memang menyedihkan. Toh Gio sebelumnya selalu cerita apapun, baik-buruk, kehidupannya padaku tanpa terkecuali. Namun, kali ini berbeda. Kalau kemarin hanya Anita, Marsha, Kiran, atau Mona dan sederet wanita lain yang aku tidak hapal namanya yang ada dalam kisah percintaannya, kenapa kali ini harus Samantha?!

Rabu, 24 April 2013

Tentang Naira

"Bintang, jangan ngelihatin aku terus ah. Aku jadi malu," Naira tertunduk malu-malu namun rona pipinya yang sewarna lambang cinta itu tak dapat dipungkiri. Bintang tersenyum seraya mengacak rambut Naira pelan.

"Kamu lucu kalau lagi malu-malu begitu," balas Bintang kemudian.

Naira mendongak, menatap wajah Bintang yang kini menatapnya dengan tatapan, entahlah, sayang mungkin.

"Kamu hebat Nai, dengan kondisi seperti kamu tapi kamu bisa memperjuangkan hak kamu sebagai seorang manusia. Mungkin bagi sebagian orang di luar sana, profesi kamu ini hina, tapi siapa yang mau pada awalnya untuk seperti ini? Mereka hanya bisa menuduh tanpa memberikan solusi.."

Naira sekali lagi terpana pada pria tampan di hadapannya. Pria itu sebenarnya semangat Naira memperjuangkan keberadaan dirinya sebagai seorang manusia. Menjelaskan pada orangtua dan keluarganya akan keadaannya setelah bertahun lamanya mereka menolak menerima keadaan dirinya yang seperti ini. Akhirnya, perjuangan itu memberikan hasil juga, batin Naira pelan.

Ia menggenggam tangan Bintang kemudian mengecupnya pelan.

Kamis, 18 April 2013

Purbasari kepada Anom yang menunggu Arjuna [Dari Karma, Aku Belajar Cinta]

Aku percaya apa itu karma.

Setelah hari ini dia muncul, tepat di hadapan muka. Memamerkan kekuatannya, seakan-akan alam pun tunduk dengannya. 

*** 
Katakan aku wanita aneh sedunia. Aku tidak pernah percaya apa itu cinta. 
Katakan aku wanita paling bodoh sedunia. Aku tidak mau mengenal apa itu cinta.
Katakan aku wanita paling berpura-pura sedunia. Aku tidak pernah berpura-pura tak menginginkan cinta.
Buatku, cinta itu sesak, pedih, penuh air mata. Siapa butuh itu?
Tak peduli dengan hukum keseimbangan yang mengatakan setiap insan butuh satu rasa yang menyelaraskan langkah hidupnya dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dengan alam, dengan Tuhan.

*** 

Dan karma itu akhirnya muncul juga. 

Aku jatuh cinta. Pertama kalinya dengan pria berkaca mata berbingkai tipis itu. Duniaku berputar, semerbak harum bunga memenuhi indra penciumanku, rasa berdebar tak dapat kuenyahkan begitu saja dari dalam dadaku, ya.. Jatuh cinta ternyata tidak buruk-buruk juga ternyata.

Kamis, 28 Maret 2013

Book Review: Remember Dhaka by Dy Lunaly


Judul Buku : Remember Dhaka
Penulis : Dy Lunaly
Penyunting : Ikhdah Henny
Penerbit : Bentang Belia
Jumlah Halaman : 212 hlm
Harga : Rp 37.000,-
ISBN : 978-602-9397-64-2


Di antara dunia baruku yang absurd, aku menemukanmu.
Di antara semerawutnya kota ini, kamu datang seperti peri.
Kurasa, kamu jadi alasan terbesarku bisa dan mau bertahan di sini.
Dhaka, tak pernah sekali pun tepikir olehku sebelumnya.
Bersama kamu, aku bisa menemukan diriku.
Karena kamu, kota ini jauh lebih hidup di mataku.
Jadi, tetaplah di sini.
Tetaplah indah seperti peri.



Kire!*

Kalimat-kalimat yang dicetak miring tersebut merupakan kalimat yang terdapat di belakang novel Remember Dhaka karangan penulis muda Dy Lunaly. Remember Dhaka merupakan novel keduanya setelah novel pertamanya yang berjudul My Daddy ODHA juga diterbitkan oleh Bentang Belia dan novel terbarunya yang berjudul NY Over Heels yang lagi-lagi diterbitkan oleh Bentang Belia di bulan Maret ini. 

Well, balik lagi ke Remember Dhaka di mana cerita bermula dari seorang cowok, high quality, baru banget lulus SMA bernama Arjuna Indra Alamsjah yang hobinya party dan hura-hura, memiliki sifat suka seenaknya dan keras kepala ini tiba-tiba berada di Dhaka! Hah? Dhaka? Dimana tuh?! *buka atlas (versi tradisional)* *buka google maps (anak jaman sekarang)* :p

Sebuah pertanyaan besar, kenapa Arjuna, yang biasa dipanggil Juna ini bisa tiba-tiba ada di kota antah berantah itu? Apa alasannya cowok yang nggak bisa hidup susah alias hidup serba mudah, sangat berkecukupan, bisa mendapatkan apa saja yang dia mau, harus tinggal di kota yang merupakan ibukota dari negara Bangladesh ini selama satu bulan?

Sabtu, 16 Maret 2013

Sacramento Chapter 2



"Halo Mbak Prue..." sapa seorang petugas kebersihan saat Prue melangkahkan kaki menuju ruangannya di Sacramento. Prue mengangguk sambil memberikan senyum cerah ceria ramahnya. Hari masih pagi dan Sacramento baru mulai buka pada pukul 10.00, which is tiga jam lagi. Tidak biasanya Prue datang sepagi ini namun ia merasa mati gaya jika berlama-lama diam di rumah kecilnya yang terletak di kawasan Rawa Mangun. Sendirian. Itu sebenarnya penyebab mengapa Prue jarang sekali berada di rumah dan memilih menghabiskan sebagian besar waktunya di Sacramento. Di sini ia memiliki sahabat, teman, sekaligus tamu-tamu pengunjung cafe yang membuat hidupnya menjadi lebih bersemangat dan merasa diperhatikan oleh para pegawai yang merangkap sebagai teman-teman terdekatnya di kota metropolitan ini.

Prue merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Semua keluarganya tinggal di Bandung kecuali kakak laki-lakinya yang kini menetap bersama istrinya di India. Mereka berdua adalah pasangan dokter bedah yang mendedikasikan hidupnya demi merawat pasien-pasien tidak mampu yang membutuhkan pertolongan mereka di salah satu rumah sakit di India. Dan Prue memilih mandiri di kota ini, sendiri pada awalnya namun akhirnya ia bertemu dengan Marco saat laki-laki itu tak sengaja melakukan pertemuan bisnis dengan kliennya di Sacramento, dua tahun lalu.

Prue segera meletakkan tote bag-nya di atas meja dan tiba-tiba saja aura cafe ini mengingatkannya akan sesuatu. Ah... Bukan. Bukan sesuatu tapi... seseorang. Seseorang yang datang kemarin sore ke cafe ini, memanggil pelayan dengan raut wajah sebal. Seseorang yang membuat Prue mendatangi mejanya dan menawarkan lighter ketika ia mengetahui apa yang sedang pria itu cari di dalam tas dan kantong pakaiannya. Sebuah lighter yang mengantarkan Prue pada obrolan singkat dengan pria itu yang mau tak mau membuat dirinya merasa aneh oleh kelakuannya sendiri. 

Namanya Dion. 

Rabu, 06 Maret 2013

Sinar Cinta

Sinar memandangi sosok di depannya. Matanya yang bulat membesar indah saat sosok di hadapannya tersebut bergerak, terseyum, tertawa. Bahkan Sinar pun ikut tertawa! Satu hal yang sangat jarang terjadi pada Sinar.

Sosok di hadapnnya, yang hanya dapat Sinar nikmati hanya dengan menjadi teman terdekatnya kini berbalik. Wajahnya berseri-seri penuh gairah kesenangan, mau tak mau, seperti terhipnotis, Sinar ikut tersenyum karenanya. Satu hal lagi yang Sinar jarang lakukan.

Apa cinta yang dapat membuat Sinar seperti ini?

Masih tersenyum, Sinar menghampiri Rian. Duduk di hadapan lelaki yang sudah menjadi temannya semenjak dua tahun lalu.

Sinar harus mengatakannya! Sekarang juga! Ia tidak akan menunggu lagi! Sinar memberanikan diri, memegang lengan Rian, ditatapnya Rian dengan penuh makna.

"Rian..." ujar Sinar dengan degup kencang jantung mengiringinya. Rian balas menatap Sinar, ada raut kebingungan di sana.

"Ya Sinar? Ada apa?" tanya Rian tanpa menaruh curiga sedikitpun.

Degup jantung Sinar semakin bertalu-talu. Bagaimanapun ia harus mengatakan ini pada Rian! Ia tak mau lagi kehilangan kesempatan. Tidak untuk kedua kalinya!

Senin, 25 Februari 2013

It's (not) Love Letter To You

Bogor, 25 Februari 2013

Biarkan aku yang mencintamu..

Aku tak ingin membebanimu dengan perasaanku. Sungguh. Aku hanya ingin kamu tahu, perasaanku yang sejujurnya padamu. Aku tak ingin menjadi seorang pembohong. Tentu kamu ingat kan janji kita lima tahun lalu? Sebuah janji yang menghantarkan kita pada satu keadaan yang harus kita tepati seumur hidup.

Persahabatan sejati.

Aku menyanggupi, awalnya. Namun kehadiranmu di hidupku sungguh keterlaluan. Perhatianmu, kasihmu, pedulimu, kesigapanmu membantuku dalam hal apapun. Bukan maksudku, bukan  inginku untuk mengingkari janji kita. Jika aku boleh menjadi seorang yang egois, kamulah penyebabnya.

Setiap Tempat Punya Cerita [Assrianti]


Pandansari, Aku Jatuh Cinta!!



Baru banget gue buka satu folder di laptop yang selama ini jarang kesentuh. Udah berbulan-bulan mungkin, gue aja sampai lupa punya folder itu. Isinya semua tentang foto-foto Kuliah Kerja Praktik (KKP) (semacam KKN) gue di Desa Wisata Pandansari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, bulan Juli-September lalu. Jujur aja, liat foto-foto itu kayak gue terjun lagi ke masa-masa gue KKP. Gimana gue dan anggota kelompok bahu membahu buat ngerjain program-program kita, ngobrol bareng-bareng di kamar, gosip, antri-mengantri kamar mandi, hidup tanpa tv dan internet berkecukupan.

Jadi ceritanya gue memutuskan buat ikut KKP ini dan banyak banget yang nanya, apa alasan gue buat ikut KKP, padahal kalo di jurusan gue tuh KKP sifatnya optional, alias boleh dipilih boleh enggak. Well, alasan gue sebenernya gini. Gue kuliah udah hampir empat tahun-an, gak pernah ikut-ikut fieldtrip ke luar daerah, jalan-jalan, (iya gue tau, kasian ya gue :”( ), dan pas dosen bilang bahwa tahun ini departemen gue bakal ngadain KKP, gue super excited. KAPAN LAGI GUE BISA JALAN-JALAN KE DAERAH ANTAH BERANTAH DAN EHM, sekaligus PENGABDIAN MASYARAKAT? Haha. Gue putuskan saat itu, gue akan ikut KKP.

Minggu, 24 Februari 2013

Sacramento Chapter 1

Apa lagi sih yang Prue inginkan dalam hidup ini?

Prue Jasmine Rahadian. Perempuan mapan berusia 27 tahun, pemilik Sacramento Cafe and Library, berwajah campuran antara Kanada, Indonesia, dan China, berambut cokelat perunggu, berkulit putih, tinggi semampai, dan yang jelas (ini yang paling penting!) tunangannya sekarang ialah Marco Hegaz. Siapa yang tidak kenal lelaki tampan berdarah Spanyol itu? Hampir semua orang di negara ini mengetahui keberadaannya sebagai salah seorang putra pengusaha nomor satu Indonesia yang menjalankan usahanya di bidang properti dan perumahan elite sekaligus pewaris tunggal atas seluruh kekayaan yang keluarganya miliki.

Prue menikmati harinya sebagai pemilik Sacramento. Dia memang bukan perempuan yang pandai memasak ataupun meracik minuman. Dia seorang pecinta buku dan ingin membuat masyarakat juga mencintai buku sama seperti dirinya dengan dibangunnya Sacramento ini. Berbagai koleksi buku dari mulai buku sejarah, politik, budaya, ekonomi, bahkan buku dongeng anak, novel, maupun komik dapat ditemukan di ruangan seluas enambelas meter persegi di bagian belakang Sacramento. Sangat luas dan memang seperti perpustakaan, bedanya para pengunjung dibebaskan untuk membaca buku di tempat sambil dapat menikmati secangkir latte atau sepotong croissant hangat.

Prue membebaskan semua pelanggannya, tak mengekang mereka dengan aturan bahwa tidak boleh meminjam buku, tidak boleh makan di perpustakaan, tidak boleh berisik, dia membangun perpustakaannya dengan aturannya sendiri dan Sacramento tak pernah sepi pengunjung. Dari mulai pelajar SD, SMP, SMA, mahasiswa, pekerja kantoran, bahkan ibu rumah tangga turut serta meramaikan Sacramento milik Prue dan Prue sangat bahagia melihat banyaknya pengunjung yang mampir ke kafe-nya dan menikmati lembar demi lembar buku yang mereka pilih sendiri. Ia bahagia melihat sekelompok anak muda yang tengah berdiskusi di sudut sedang sibuk melakukan bedah buku mini dengan kelompok kecilnya, melihat ibu muda yang sedang membacakan cerita Putri Salju untuk anaknya, atau beberapa pasangan muda yang masing-masing tenggelam dalam lautan kata-kata di tangannya. Ah.. melihat mereka Prue jadi sedikit iri. Andai ia juga dapat melakukan hal seperti itu bersama Marco, pasti dia bahagia sekali.

Sabtu, 23 Februari 2013

Happy Birthday Beno!!

Assalamualaikum Beno,

Well, aku lebih suka manggil Om Beno sih hehe. Kenalin Om Ben, aku Aci, followers Tante Alex di twitter sekaligus fans-nya Om Ben :p
Apa kabarnya Om? Baik-baik aja kan? Nggak sakit-sakit punggung lagi kan? Stok beng-beng sama bread papa-nya masih penuh dong di kulkas ya? Bagi satu boleh? #eh #dikeplak

Bulu masih banyak Om? Nggak gersang kan dadanya? #eh #makindikeplak

Minggu, 17 Februari 2013

Kawat Gigi Merah

Lima menit berlalu setelah petugas stasiun meniup peluitnya pertanda akan ada kereta yang datang. Jarum jam di stasiun tepat menunjukkan pukul delapan lewat lima. Semua orang bergegas masuk, berdesak-desakkan dengan manusia lain yang hendak turun dari kereta, saling sikut, sling tendang, saling melotot penuh rasa emosi. Semua itu hanya demi satu tujuan. Agar dapat tempat duduk, persoalan nanti jika diharuskan berdiri karena ada ibu-ibu hamil atau orang lanjut usia yang diberi prioritas duduk bisa lain cerita. Jurus-jurus seperti pura-pura tidur, pura-pura tidak peduli, atau bahkan pura-pura buta lumayan dapat membuat dudukmu nyaman sampai stasiun terakhir.

Aku naik susah payah sepersekian detik saat pintu kereta yang akan membawaku ke Kota dari Stasiun Bogor akan menutup. Menelusupkan tubuhku diantara banyak orang yang lebih memilih berdiri di arah pintu masuk gerbong daripada menggumpal di tengahnya. Tubuhku meringsek, membuka jalur, hendak bergerak ke gerbong satu, gerbong khusus wanita, karena gerbong yang kuberada sekarang jelas-jelas penuh dengan segerombol bapak-bapak tambun yang pura-pura tidur di kursi panjang isi delapan yang sudah penuh dan belasan anak muda, berprofesi sebagai mahasiswa, pegawai pemda, karyawan, sales, bahkan ada segelintir eksekutif muda berpakaian necis yang berdiri di antara gerbong sebelah, sibuk dengan gelas kertas berisi cokelat panas atau mungkin kopi di dalamnya, yang lainnya sibuk membolak-balik halaman harian Kompas.

Aku bergerak semakin lincah demi meluncur segera ke gerbong satu, namun entah karena aku yang bodoh atau apa tubuhku menabrak bahu seseorang yang sedang berpegangan pada pegangan kereta di atasnya. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan bingung. Aku salah tingkah, kemudian tersenyum tak enak. Menyuarakan kata-kata maaf kemudian tanpa ia membalas pernyataanku, kaki ini sudah bergerak kabur menuju gerbong wanita.

Selasa, 12 Februari 2013

Cinta dalam Diam

Selasa, 14 Februari 2012

“Untuk kamu..” katamu tiba-tiba saja sudah menaruh dua bentuk cokelat berbentuk hati di atas meja.

“I love you, Cinta..” sambungmu lagi.

Ucapanmu jujur saja membuatku terdiam. Hatiku seolah dipenuhi jutaan kupu-kupu cantik yang beterbangan. Ah, bagaimana mungkin perasaanmu padaku berubah secepat itu? Bukankah baru sebulan lalu kita sama-sama mengucap janji bahwa kita akan selalu menjadi sahabat sampai mati? Secepat itukah perasaan sayang antar sahabat berubah menjadi cinta?

"Aku..."

Kamu menggeleng saat aku hendak menyelesaikan kalimatku. Matamu berubah menjadi lebih fokus, menatap wajahku.

"Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku Ta, itu aja cukup untukku..."

***
Kamis, 14 Februari 2013

Aku berlari menyusuri lorong rumah sakit. Mencari sosokmu. Jujur saja aku tak memiliki firasat apapun mengenai kejadian yang menimpa dirimu saat kamu pamit dari rumahku malam tadi, namun hal inilah yang menyadarkan aku akan sesuatu.

Kamu berada di dalam sana dengan tubuh penuh selang. Detak jantungmu tertera dalam layar monitor, membuatku sangat takut. Mati-matian diriku berusaha menahan air mata yang siap tumpah kapan saja, karena aku tahu, kamu benci melihatku menangis.

Aku takut kehilanganmu, Ras.
Aku sangat takut.
Kar'na aku mencintaimu.
Sedari dulu, tepat setahun lalu saat hujan gerimis di Februari, kamu menyatakan perasaanmu.

***

Sosis dan Sushi

“Itu sosis kan? Aku boleh minta?”
Dhannielle yang sedang menikmati bekal makan siangnya langsung menghentikan aksi makannya. Ia mendongak, menatap ke arah sumber suara. Seorang laki-laki keturunan Jepang tersenyum kepadanya. Giginya ompong satu namun tak mengurangi ketampanan wajahnya. Perempuan itu mengangguk, merasa malu sendiri karena ia seorang murid baru di sekolah.
Dhanielle salah tingkah. Dirapikannya rok seragam merahnya walau tak kusut.
                “Kamu murid baru di sini kan? Kenalin aku Akio.” Lelaki itu mengulurkan tangannya, senyumnya muncul membuat matanya semakin sipit.
Dhanielle tergugu, disambutnya tangan Akio yang terulur. Rona merah seketika menjalar di pipinya yang tembam.
                “Aku Dhanielle..”
                “Aku udah tau.”
Sedetik Dhanielle merasa kaget karena Akio mengetahui namanya, namun di detik berikutnya  mereka sudah mengobrol akrab, layaknya teman lama. Setiap harinya mereka selalu janjian makan siang bersama saat waktu istirahat sekolah tiba, terkadang saling menukar isi makan siangnya, sosis dan sushi.
Dhanielle tersenyum mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Akio. Kenangan lima belas tahun lalu yang tiba-tiba saja hadir di dalam pikirannya. Kemudian tanpa sadar ia menggenggam tangannya sendiri, merasakan ada benda dingin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pernikahan unik dengan desain sushi dari Akio, melekat indah di sana.
***

Rabu, 06 Februari 2013

Keajaiban

Kaila berusaha membuka matanya namun sangat sulit. Ah, dingin terlalu menyergap tubuhnya dan hujan masih deras di luar sana, belum berhenti sejak semalam. Ia menarik selimutnya kembali, memeluk gulingnya yang sudah butut, merapatkan kedua matanya, dan berusaha melanjutkan mimpinya yang amat indah. Mimpi bertemu dengan orang tua yang belum pernah dilihatnya akibat kecelakaan yang menimpa dirinya sehingga ia harus terpisah dengan kedua orangtuanya hingga kini.
Kaila menyentuh pipi mereka, merasakan lembutnya kulit yang sudah mengerut keriput karena usia. Membelai helaian rambut yang sudah memutih. Ah, begini rasanya memiliki orang tua, batin Kaila bahagia. Dibibirnya tersungging senyuman namun tiba-tiba saja ia merintih. Seperti merasa kepiluan yang parah yang melandanya. Kaila terisak dalam tidurnya!
Kedua orang tuanya bergerak menjauh, tangan mereka menggapai-gapai ke arah Kaila namun hal itu percuma saja. Kaila sudah tak bisa menyentuhnya lagi! Dan seketika itu, Kaila terbangun, merasa kesakitan dan sedih louar biasa. Bahkan di dalam mimpipun dia tak bisa menjangkau orang tuanya. Kaila cepat-cepat turun dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi yang letaknya di samping ruang tv. Kepalanya iseng menoleh ke arah beberapa temannya yang ramai menonton di sana. Tak biasanya di panti asuhan ruang tv ramai, pastu ada sesuatu, batin Kaila.
Ia bergerak mendekat ke arah tv layar cembung berukuran 16 inchi tersebut, memandang suasana riuh di layar kaca. Suara penyiar menyebutkan bahwa telah terjadi banjir bandang di Riau dan banyak menimbulkan  korban jiwa. Beberapa mayat disorot oleh kamera, menginformasikan secara visual bahwa kejadian di sana sungguh merupakan bencana alam terbesar yang pernah ada di Riau.
Seketika mata Kaila terpaku, napasnya serasa sesak.
Diantara mayat-mayar yang berjejer dan korban-korban itu, sorot matanya menangkap dua sosok yang nampak kebingungan di antara mayat dan korban-korban. Dua sosok yang dilihatnya di mimpi! Orangtuanya! Entahlah, apakah ini keajaiban untuk Kaila karena dia telah menemukan petunjuk mengenai orangtuanya.

Sabtu, 26 Januari 2013

Beautiful Goodbye

Kita berdua sama-sama menyadari bahwa sudah tumbuh asa dalam diri, seiring berjalannya hari. Antara aku dan kamu, melewatkan minggu demi minggu bersama, berdua.

Kita berdua sama-sama menyadari jika setitik demi setitik asa yang muncul itu kian lama semakin membesar, kamu yang memberanikan diri untuk maju, aku yang terdiam. Tak tahu harus berbuat apa.

Kita berdua sama-sama tahu bahwa ada diriku dalam bayangmu saat kau mulai mendengar playlist lagu Daughtry di ipod-mu, karena dulu, aku pernah mengatakannya padamu bahwa aku salah satu penggemar beratnya.
Mungkin,

Yang tidak kamu ketahui ialah ketika kamu memutuskan untuk mundur dan menjauh, aku berusaha sekuat tenaga untuk menggapaimu kembali.

Namun yang terjadi?

Kamis, 24 Januari 2013

Black Confetti 11

Satu bulan lamanya aku tidak berhubungan dengan Aras. Kami benar-benar seperti tidak saling mengenal. Perceraian memang sedikit berdampak buruk bagi kesehatanku. Selama dua minggu tubuhku terserang demam, dan akhir-akhir ini maag-ku sering sekali kambuh. Siapa yang bahagia saat dihadapkan dengan perceraian? Seperti kataku dulu bahwa yang paling menderita dengan perceraianku bukan diriku atau pun Aras, namun kedua orang tua kami. Aku menyadari bahwa disetiap senyuman yang terukir dari bibir mama, terselip doa agar aku dan Aras dapat kembali bersama.

Terkadang, ketika malam datang, saat diriku tidak dipenuhi oleh kegiatan kampus yang super padat, pikiranku melayang. Terbang ke saat-saat dimana aku masih menjadi seorang istri bagi Aras. Istri yang payah, yang tidak pernah membuat suaminya bahagia. Jujur saja, aku merasa gagal. Memang pada awalnya tak ada niatan sedikitpun untuk menjadi istri sebenar-benarnya bagi Aras dan awalnya pun tak ada keinginan untuk menjalankan pernikahan ini. Namun seiring waktu bergulir, darah dalam tubuhku mulai berdesir. Saat Aras menatapku lewat sorot matanya yang tajam, saat ia memelukku kencang, saat ia menciumku, bahkan saat kami saling memunggungi, saling membenci. 

Aku tak dapat membohongi lagi, bahwa aku telah mencintai.

Rabu, 16 Januari 2013

Menunggumu

Kau akan menungguku bukan? Dan kembali bertemu. Di sini, tepat lima tahun lagi.

Aku menggenggam jemariku kuat-kuat sambil merapatkan mantel beludru berwarna merah pada tubuhku yang mulai menggigil kedinginan. Udara memang sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini dan hujan turun tiada henti sepanjang pagi tadi. Namun untung saja, ketika aku mulai melangkahkan kaki menuju stasiun, hujan mulai mereda, seakan memberi restu untukku berjalan. Untuk menemuimu. Di sini. Seperti yang kau janjikan lima tahun yang lalu.

Tiga jam berlalu. Orang silih berganti naik turun kereta di hadapanku. Katamu, kau akan sampai di stasiun pukul satu, namun sampai saat ini batang hidungmu tak terlihat juga. Aku mengabaikan perut yang keroncongan semenjak tadi. Terlalu antusias menunggu kedatanganmu. Lima tahun yang lalu kau pergi, melaksanakan kewajibanmu untuk membela negara di provinsi paling ujung barat Indonesia. Lima tahun diriku dilanda gelisah. Aku mendengar kabarmu hanya melalui berita di tv dan terkadang itu membuatku ketakutan. Setiap penyiar menyebutkan jatuhnya korban jiwa, hatiku remuk seketika. Membayangkan kalau itu dirimu. Aku sungguh tak sanggup. Aku terlalu mencintaimu.

Minggu, 06 Januari 2013

Kamu, Pria Berkemeja Biru


Untuk...

Kamu, pria berkemeja biru yang duduk di sudut, wajahmu menunduk, fokus pada sebuah buku di tanganmu.

Kamu, pria yang sesekali melihat ke arah jendela, menikmati rinai hujan yang berderai di luar, jemarimu sesekali menyentuh kacanya, mencoba merasakan dinginnya pada kulitmu yang putih.

Kamu, pria yang sesekali tertawa, seakan menikmati bahan bacaanmu yang setumpuk di atas meja.

Kamu, pria yang sesekali menyesap minuman dalam cangkirmu perlahan, memejamkan matamu sedetik, menikmati rasanya dalam lidahmu.

Rabu, 02 Januari 2013

Black Confetti 10

Aku terbangun keesokan harinya di pelukan Aras. Tangannya melingkar di pinggangku dengan protektif sementara tubuhnya menempel erat di tubuhku. Aku menikmati semua sentuhannya dan tak ada niat sedikitpun untuk melepas pelukan Aras. Mungkin ini aneh. Bagaimana bisa aku merasa nyaman berada dalam dekapan tubuhnya padahal aku sangat membencinya. Aku membenci manusia yang terlelap di sampingku ini. Aku membenci segala bentuk kearogansian yang selalu ditunjukkannya kepadaku.

Aras bergerak dalam tidurnya kemudian perlahan-lahan membuka mata.

"Kedua kalinya kita tidur bareng, San.." sapa pria itu. Aku membalas tatapannya dan dalam sedetik sebuah ciuman kecil mendarat di bibirnya. Aras tersenyum kemudian memejamkan matanya lagi. Mengambil napas dalam-dalam, seakan-akan melihat ia berpikir keras apa arti ciumanku barusan. Belum pernah aku menciumnya dan ciuman itu ialah ciuman pertamaku untuk Aras.

"Kamu berani banget, San," kata Aras penuh teka-teki. 
"Berani apa?" tanyaku bingung.
"Cium aku seperti tadi," jawabnya.

Black Confetti 9

"Aku tidur di kamar sebelah," ujar Aras sambil memasang muka malasnya untuk ke sekian kalinya hari ini. 
"Setuju! Kalau kamu sampai masuk ke kamar aku, awas aja!" Ancamku. Aras melenggang masuk ke kamarnya, tak peduli ancamanku barusan. Oke, kalau cowok itu bisa bersikap sebegitu cueknya terhadapku, aku juga bisa!

Aku melangkah menuju kamar yang seharusnya menjadi kamar bagi kami berdua, namun mengingat keadaan kami yang menikah karena terpaksa, tanpa saling cinta, hanya benci yang menggelora, mana mungkin dan tidak akan mungkin aku mau sekamar dan tidur bareng dengannya (lagi)!

Kamar ini cukup luas untuk ditempati sendirian. Terdapat satu tempat tidur ukir jepara yang terbuat dari jati dan memiliki empat tiang yang terdapat kelambu putih di setiap sisinya. Wallpapernya sendiri bermotif floral berwarna pastel. Di kedua sisi tempat tidur terdapat nakas kecil yang juga terbuat dari jati. TV layar datar yang ditaruh menempel di dinding di hadapan tempat tidur satu-satunya yang terlihat modern di kamar ini. Ya, sebelumnya menurut penjelasan mama papa Aras tadi, kamar ini merupakan kamar Oma dan beliau menginginkan kami untuk tidur di sini.

Sebuah lemari yang diletakkan di sudut kamar mengusik perhatianku. Mau tak mau aku menghampiri dan melihat ke dalam isinya dan ya pakaianku lengkap di taruh di sana, bersisian dengan pakaian Aras. Pasti Bi Onah yang menaruh semua baju-baju ini di sana mengingat koper-koper yang tadi di bawanya. Aku mengambil sepasang piyama berwarna pink dari tumpukan pakaian dan mulai memakainya. Berjalan ke arah tempat tidur yang terlihat mengundang. Baru tubuhnya menyentuh seprai di tempat tidur, diriku langsung merasa kegerahan. Entah ini karena cuaca atau karena bahan seprainya yang memang panas yang jelas aku tidak bisa tidur dalam keadaan seperti ini dan pilihannya adalah membuka jendela kamar lebar-lebar atau menyalakan kipas angin, secara sedari tadi aku tidak melihat satu AC pun di dalam rumah ini. Namun, tiba-tiba perasaan paranoid melandaku jika aku harus membuka jendela kamar. Bagaimana kalau ada penjahat yang masuk ke dalam kamar? Pembunuh berdarah dingin? Atauuu pemerkosa???!!!

GILA!

Aku beringsut ke atas kasur dan menarik selimut sampai ke ujung kepala. Keringat dingin bercampur gerah membaur menjadi satu. Kuputuskan untuk membuka piyama saja kalau cuaca sebegini panasnya, toh aku tidur sendiri juga bukan?

***

Mataku menerawang menatap langit-langit kamar, tak juga mau terpejam sejak dua jam yang lalu padahal kipas angin sudah kunyalakan sampai full, dan piyama pink yang tadi ku kenakan sudah ku buang jauh-jauh demi mengurangi panasnya cuaca malam ini, bahkan selimut pun sudah ku tendang entah kemana dan kondisiku sekarang, almost naked!

Brak!!!

Seketika pintu kamar terbuka dan membuatku gelagapan. Ya!! Aras berdiri di ambang pintu, melihatku lewat kedua bola mata cokelatnya tanpa berkedip. Secepat kilat aku meraih apapun yang ada di samping untuk menutupi tubuhku yang hanya berbalut underwear.

"Lo apa-apaan Ras!!" teriakku kencang. Aras yang sempat terdiam bego langsung menutup pintu di belakangnya dan setengah berlari ke arahku.

"Heh kamu mau ap.. ppppptttt," Aras menutup mulutku dengan telapak tangannya dan tak diragukan lagi dengan dirinya yang berada kurang dari satu meter di atasku dia dengan mudah melihat ke arah tubuhku. Aku meronta di bawahnya, mencengkram tangannya sekuat yang aku bisa namun tenagaku kalah kuat dibanding dirinya.

"Kamu, diem bisa nggak sih?! Dengerin aku ngomong!" Bentaknya sambil tangannya erat menutup mulutku dan tangan yang lain sibuk memegangi tanganku yang terus melakukan perlawanan terhadapnya. Bukannya berhenti, aku malah mengerahkan seluruh tenaga yang ku miliki untuk melawannya. Gila memang Aras, apa sih sebenarnya mau orang ini!

"Ck!" Wajah Aras mengeras, raut kekesalan jelas terpancar di sana. "Kalau aku ngelakuin ini, ini semua gara-gara kamu!"

Dalam waktu sedetik, wajah Aras berjarak beberapa senti saja dari wajahku dan tangannya terlepas dari mulutku, membiarkannya terbebas, memberi kesempatan padaku untuk memaki dirinya yang bersikap kurang ajar, namun Aras tak membiarkanku memiliki kesempatan untuk memakinya. Sesuatu yang hangat menempel di bibirku. Tubuhku kaku, diam, membeku.

***

" Nah kalau kayak gini kamu gampang disuruh diemnya," Aras tersenyum menatapku dan berguling ke samping, masih memegangi kedua tanganku takut-takut aku mulai meronta-ronta seperti kesetanan.
"Kamu sinting!" tuduhku dengan suara gemetar.
"Sebelum kamu nuduh aku sinting, mending kamu denger dulu penjelasanku, Cassandra," ia melepaskan kedua tanganku dan sempat ku lihat pandangan matanya yang turun ke bawah, dan ya terlambat sekarang untuk menutupi tubuhku toh Aras sudah menikmati pemandangan ini dari tadi. 
"Penjelasan apa?!" tanyaku sambil berusaha menutupi dadaku dengan kedua tangan. Aras sempat tertawa sebentar melihat tindakanku ini.
"Percuma, aku udah lihat jelas kok tadi, dan punya kamu nggak jelek-jelek banget kok."
Whattt?!! Apa maksudnya?! Oke, aku terima kalau dia sudah melihat tubuhku yang hampir naked ini, tapi empat kata terakhirnya itu membuatku murka!
"Oke, gini. Bi Onah dan Pa Ujang itu pembantu kesayangan Oma, dan mereka sudah hampir setengah hidupnya mengabdi ke keluarga kami. So, kalau mereka berdua tahu dan sadar kita berdua tidur pisah begini dan lapor sama mama papa apalagi Oma, bayangin aja apa akibatnya!"
Penjelasan Aras membuatku terhenyak. Apa yang ia katakan sepenuhnya benar, jika Bi Onah dan Pa Ujang tahu kalau aku dan Aras tidur pisah kamar, mama papa bisa murka dan Oma, aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.

"Terus, kamu mau tidur di sini?" tanyaku waspada. Aras mengangguk.
"Iya, aku mau tidur di sini, berdua. Sama kamu."

***

Tangan Aras lagi-lagi memelukku. Ini yang aneh dari Aras. Beberapa jam yang lalu dia bersikap jahat terhadapku, bahkan tidak pernah mengacuhkanku, namun, saat ini tubuhnya berjarak sangat teramat dekat denganku. Hembusan napasnya yang halus sesekali menggelitik hidung. Aku tak pernah bisa menjelaskan bagaimana sebenarnya hubunganku dengan Aras. Kadang kita seperti anjing dan kucing namun terkadang kita seperti amplop dan lemnya. Oke, ini memang perumpamaan yang sangat jadul, tapi di satu sisi aku sangat membenci Aras atas sikapnya, namun di sisi lain aku menyukainya. Ini gila, ya aku tahu. Bahkan lebih gila lagi kalau aku masih menggunakan underwear ketika dia memelukku seerat sekarang.


***

"Morning," suara seseorang membangunkanku. Aras tersenyum kemudian mencium bibirku sekilas.
"Aku nggak ngerti sama kamu." ucapku tanpa tedeng aling-aling. Kedua alis hitam Aras bertaut, lalu menatapku serius.
"Nggak ngerti gimana?" tanyanya.
"You said that you hate me, but look at we now Ras. You kissed me! You hug me so tight like this. Ini apa? Semua ini apa?"
"Aku juga nggak ngerti San. Sedetik aku benci kamu, sedetik kemudian aku ..."
"Aku apa?!"
"Aku nggak tahu San! Detik pertama aku pengen banget usir kamu dari hadapanku, tapi detik berikutnya aku pengen banget meluk kamu."
Aku terdiam. Kami berdua sama-sama terdiam. Bagai kata-kata kuno, batas antara cinta dan benci hanya sebesar satu desahan napas. Tipis.

Aku melirik ke arah tubuhku yang ternyata tanpa ku sadar ada selimut yang membalut tubuhku. Entah sejak kapan namun aku tahu, Aras pasti yang melakukannya.

"Sampai kapan kita ngelakuin sandiwara ini Ras? Sampai kapan?!" tanyaku putus asa. Aras mencium puncak kepalaku kemudian berkata, "Sampai Oma sembuh, San. Aku pun nggak tahu kapan."
"Nunggu Oma sembuh itu lama Ras, nggak akan bisa sebulan atau dua bulan! Kamu tahu sendiri dokter bilang apa tentang penyakit Oma dan kesembuhannya gimana. Butuh waktu bertahun-tahun Ras, untuk Oma bisa sembuh total, dan aku takut kalau aku nggak sanggup..."

"Sanggup apa San?" Aras semakin erat memelukku. 

"Sanggup untuk membenci kamu.." jawabku setelah diam yang cukup lama.

***