Senin, 10 Juni 2013

Resensi: CoupL(ov)e by Rhein Fathia


CoupL(ov)e bercerita mengenai sebuah pernikahan antar sepasang sahabat, Halya dan Raka. Pernikahan yang membuat kehidupan mereka jauh-jauh-jauuuuuuh berbeda dari sebelumnya. Banyak kemelut terjadi, banyak duka dan benci, banyak tangis dan nestapa, namun ada juga canda, bahagia, dan tawa. Penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya? Alasan apa yang mendasari mereka berdua untuk sepakat menjadi suami istri? Baca novelnya untuk tahu kisah lengkapnya :))

Novel dengan setting Bandung-Jakarta ini beralur maju-mundur. Pembaca akan mengetahui secara gamblang bagaimana kisah awal persahabatan Halya dan Raka sampai kehidupan pasca pernikahannya. Awalnya saya merasa bahwa alur cerita mengalir sangat pelan, namun di tengah, saya terpompa untuk membaca lembar demi lembarnya. Dalam kisah yang ditulis, kadang saya merasa ikut capek, sedih, kesal akibat ulah tokoh di dalamnya. Rhein saya akui sangat pandai sekali memainkan emosi pembaca, khususnya saya yang sensitif jika terdapat kisah yang menguras emosi dan jiwa raga. Tak jarang saya pun tertawa-tawa ketika saya seolah-olah mengenal sosok Halya yang lucu dengan tingkah kekanakannya yang diimbangi sosok Raka di dalamnya. Saya pun mengakui bahwa sosok Raka adalah sosok yang sangat-amat cocok bila dijadikan 'mantu idaman setiap orangtua' dikarenakan Raka akan membuat wanita melting akan setiap kelakuannya, minus kelakuan untuk mengenang romansa masa lalu bersama seseorang bernama Rina. Cih! Ini part yang paling saya sebal. Bagaimana mungkin dia tega bermain perasaan dengan Halya, istrinya, yang secara tidak langsung dikatakan ber'selingkuh' tepat di depan wajah istrinya sendiri, sementara Halya yang terjebak masa lalunya bersama Gilang, membuat Raka cemburu! Oh come on Raka! Otakmu ditaruh di mana sampai tega menaruh rasa cemburumu pada Gilang?!

Satu lagi yang saya suka dari novel ini selain permainan emosinya, adalah kepribadian Halya yang ditulis apik oleh Rhein. Saya seakan-akan menjadi sosok Halya karena saya ikut merasakan kesedihannya, penderitaannya akan Gilang, dan cinta untuk Raka! Berbicara tentang Gilang, andai saja Gilang itu tidak....... (ups, baca sendiri ya :p) saya sangat suka caranya mencintai Halya, begitu menyentuh! Sempat merasa iri juga sih dalam hati dengan Halya, karena cinta Gilang sangat luar biasa dan penuh kejutan.

Rhein memberikan satu gambaran mengenai cinta murni antar sepasang sahabat. Bagi yang skeptis mengenai persahabatan antara lelaki dan wanita di mana keukeuh bahwa pasti selalu ada cinta yang terselip di dalamnya selain rasa persahabatan, wajib membaca novel ini! Jujur saja saya terhanyut oleh kisah yang ditawarkan, tentang cinta itu bisa dipupuk, bisa bersemi, jika sepasang manusia saling mengusahakan, dan itulah yang terjadi dalam kisah Halya dan Raka walaupun pada awalnya mereka hanya bersahabat, namun saat mereka berusaha dan memiliki tekad, mereka pun saling jatuh cinta. 

Oh iya, ada part di mana Rhein mengisahkan tokoh-tokohnya menjadi mahasiswa tingkat akhir. Saya ikut merasakan, bagaimana killer-nya dosen, bagaimana susahnya menyusun skripsi, bagaimana rasanya akan menghadapi sidang. Kiamat! Saya benar-benar merasa diingatkan kembali pada kejadian 2 minggu lalu saat saya sidang! Oh My God! Saya banget tuh yang panik-panik sinting dan bernangis-nangis ria sebelum sidang! *nangis lagi*

Jujur tidak banyak kekurangan yang saya temukan dalam novel ini selain bagian yang sedikit aneh saat diceritakan Halya sedang reuni dengan teman-teman blogger-nya yang salah satunya bernama Angie. Diceritakan sebelumnya Halya sudah pernah mengirimkan fotonya bersama Gilang pada Angie, dan ketika Angie bertemu dengan Raka dia menyangka bahwa itu Gilang. Di sini saya bingung, entah Angie yang lupa wajah Gilang atau Gilang dan Raka berwajah mirip hingga dia sampai salah menyebut nama Raka menjadi Gilang, sehingga muncul sedikit api cemburu yang sebenarnya membawa hubungan Raka dan Halya ke step selanjutnya ;p

Satu hal yang saya tangkap dan paling mengena di hati adalah kata-kata Raka pada Halya, Love and relationship are work. Ada usaha di sana melalui beragam cara. Sedikit memberi harapan pada fakir asmara bahwa akan ada cinta bila ada usaha, bukan hanya cinta itu dapat kita rasakan lewat tatapan pertama saja, namun proses menuju sesuatu yang bernama cinta itulah yang membawa kita pada cinta yang seutuhnya.

Untuk novel yang menguras energi, air mata, dan emosi serta memberikan tawa, bahagia, saya beri empat bintang! Terus berkarya ya Rhein, saya akan tunggu novel menguras emosi dan saya akan tunggu emosi saya dijungkir-balikkan lagi olehmu :P :P


Semoga Rhein selalu sukses dan tidak habis ide untuk menuang imajinasinya dalam untaian kata.

Well, siapa yang siap berusaha untuk menemukan dan berjuang demi cinta di sini? Saya akan mengacung paling pertama!

Minggu, 09 Juni 2013

Baby Bianca Part I

"Bi, lo nggak mau punya anak?" tanya Kiara untuk keseribu kalinya sampai-sampai Bianca jengah.
"Mulai deh... Kenapa sih nanya itu mulu?" tanya Bianca jutek. Jemari lentiknya meraih kotak berbentuk persegi panjang yang terletak di atas meja.
"Ssst! Itu punya gue!" sembur Kiara kesal sambil merebut kotak rokok itu dari tangan Bianca.
"Lo tuh apa-apaan sih Ki? Kayak nenek-nenek lo ah pake larang-larang gue!"
"Lo gila? Kalau mulut lo ngisep ginian terus, kapan lo punya anaknya hah?"

Bianca menghela napasnya. Kiara benar-benar sudah kelewatan. Sudah cukup selama ini Bianca bersabar dan diam seperti orang tuli kalau-kalau Kiara mulai mengoceh mengenai kehamilan dan segala tetek bengeknya, dan apa yang dilakukan perempuan itu sekarang? Melarang-larangnya seperti ini, bahkan Marco tidak pernah melarangnya sekalipun!

"Gue bisa beli rokok gue sendiri!" kata Bianca tegas sambil mengangkat pantatnya dari sofa empuk di sebuah kafe yang sering didatanginya bersama Kiara.