Minggu, 09 Juni 2013

Baby Bianca Part I

"Bi, lo nggak mau punya anak?" tanya Kiara untuk keseribu kalinya sampai-sampai Bianca jengah.
"Mulai deh... Kenapa sih nanya itu mulu?" tanya Bianca jutek. Jemari lentiknya meraih kotak berbentuk persegi panjang yang terletak di atas meja.
"Ssst! Itu punya gue!" sembur Kiara kesal sambil merebut kotak rokok itu dari tangan Bianca.
"Lo tuh apa-apaan sih Ki? Kayak nenek-nenek lo ah pake larang-larang gue!"
"Lo gila? Kalau mulut lo ngisep ginian terus, kapan lo punya anaknya hah?"

Bianca menghela napasnya. Kiara benar-benar sudah kelewatan. Sudah cukup selama ini Bianca bersabar dan diam seperti orang tuli kalau-kalau Kiara mulai mengoceh mengenai kehamilan dan segala tetek bengeknya, dan apa yang dilakukan perempuan itu sekarang? Melarang-larangnya seperti ini, bahkan Marco tidak pernah melarangnya sekalipun!

"Gue bisa beli rokok gue sendiri!" kata Bianca tegas sambil mengangkat pantatnya dari sofa empuk di sebuah kafe yang sering didatanginya bersama Kiara.


*** 
"Kok pulang cepet Sayang? Katanya tadi mau ngobrol sampai pagi sama Kiara?" Marco menyambutnya dengan pelukan saat Bianca baru saja menutup pintu apartemennya. Mendengar pertanyaan Marco barusan membuat darah dalam tubuh Bianca kembali mendidih. Alih-alih menjawab pertanyaan Marco, Bianca malah menyurukkan kepalanya dalam dekapan dada Marco. Menghirup dalam-dalam aroma green tea yang melekat di sana. 

"Sayang... Cerita dong, kamu kenapa?" ujar Marco lembut sambil mengusap punggung wanita itu. Bianca mengangkat kepalanya dari dada Marco kemudian bola matanya yang sehitam jelaga itu menatap bola mata emas milik Marco.

"Kamu mau anak Sayang?" tanya Bianca tiba-tiba membuat dada Marco seakan ditembak peluru dalam jarak lima sentimeter.

"A..Anak?" Marco memandangi Bianca yang sorot matanya nampak lelah. Wanita itu mengangguk.
"Iya, Sayang. Anak, bayi, aku hamil sembilan bulan terus melahirkan. Anak.." Bianca berjalan menjauhi Marco dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Kemudian tawanya terurai, sadar bahwa definisinya tentang seorang anak begitu dangkal dan bodoh, dan dengan bodohnya dia menjelaskan hal bodoh tersebut pada Marco.

Marco yang sudah merasa pulih dari kekagetannya berjalan tergesa menghampir Bianca. Ditariknya lengan wanita itu sehingga kini posisi mereka saling berhadapan.

"Kita bikin sekarang!"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar