Senin, 25 Februari 2013

It's (not) Love Letter To You

Bogor, 25 Februari 2013

Biarkan aku yang mencintamu..

Aku tak ingin membebanimu dengan perasaanku. Sungguh. Aku hanya ingin kamu tahu, perasaanku yang sejujurnya padamu. Aku tak ingin menjadi seorang pembohong. Tentu kamu ingat kan janji kita lima tahun lalu? Sebuah janji yang menghantarkan kita pada satu keadaan yang harus kita tepati seumur hidup.

Persahabatan sejati.

Aku menyanggupi, awalnya. Namun kehadiranmu di hidupku sungguh keterlaluan. Perhatianmu, kasihmu, pedulimu, kesigapanmu membantuku dalam hal apapun. Bukan maksudku, bukan  inginku untuk mengingkari janji kita. Jika aku boleh menjadi seorang yang egois, kamulah penyebabnya.

Setiap Tempat Punya Cerita [Assrianti]


Pandansari, Aku Jatuh Cinta!!



Baru banget gue buka satu folder di laptop yang selama ini jarang kesentuh. Udah berbulan-bulan mungkin, gue aja sampai lupa punya folder itu. Isinya semua tentang foto-foto Kuliah Kerja Praktik (KKP) (semacam KKN) gue di Desa Wisata Pandansari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, bulan Juli-September lalu. Jujur aja, liat foto-foto itu kayak gue terjun lagi ke masa-masa gue KKP. Gimana gue dan anggota kelompok bahu membahu buat ngerjain program-program kita, ngobrol bareng-bareng di kamar, gosip, antri-mengantri kamar mandi, hidup tanpa tv dan internet berkecukupan.

Jadi ceritanya gue memutuskan buat ikut KKP ini dan banyak banget yang nanya, apa alasan gue buat ikut KKP, padahal kalo di jurusan gue tuh KKP sifatnya optional, alias boleh dipilih boleh enggak. Well, alasan gue sebenernya gini. Gue kuliah udah hampir empat tahun-an, gak pernah ikut-ikut fieldtrip ke luar daerah, jalan-jalan, (iya gue tau, kasian ya gue :”( ), dan pas dosen bilang bahwa tahun ini departemen gue bakal ngadain KKP, gue super excited. KAPAN LAGI GUE BISA JALAN-JALAN KE DAERAH ANTAH BERANTAH DAN EHM, sekaligus PENGABDIAN MASYARAKAT? Haha. Gue putuskan saat itu, gue akan ikut KKP.

Minggu, 24 Februari 2013

Sacramento Chapter 1

Apa lagi sih yang Prue inginkan dalam hidup ini?

Prue Jasmine Rahadian. Perempuan mapan berusia 27 tahun, pemilik Sacramento Cafe and Library, berwajah campuran antara Kanada, Indonesia, dan China, berambut cokelat perunggu, berkulit putih, tinggi semampai, dan yang jelas (ini yang paling penting!) tunangannya sekarang ialah Marco Hegaz. Siapa yang tidak kenal lelaki tampan berdarah Spanyol itu? Hampir semua orang di negara ini mengetahui keberadaannya sebagai salah seorang putra pengusaha nomor satu Indonesia yang menjalankan usahanya di bidang properti dan perumahan elite sekaligus pewaris tunggal atas seluruh kekayaan yang keluarganya miliki.

Prue menikmati harinya sebagai pemilik Sacramento. Dia memang bukan perempuan yang pandai memasak ataupun meracik minuman. Dia seorang pecinta buku dan ingin membuat masyarakat juga mencintai buku sama seperti dirinya dengan dibangunnya Sacramento ini. Berbagai koleksi buku dari mulai buku sejarah, politik, budaya, ekonomi, bahkan buku dongeng anak, novel, maupun komik dapat ditemukan di ruangan seluas enambelas meter persegi di bagian belakang Sacramento. Sangat luas dan memang seperti perpustakaan, bedanya para pengunjung dibebaskan untuk membaca buku di tempat sambil dapat menikmati secangkir latte atau sepotong croissant hangat.

Prue membebaskan semua pelanggannya, tak mengekang mereka dengan aturan bahwa tidak boleh meminjam buku, tidak boleh makan di perpustakaan, tidak boleh berisik, dia membangun perpustakaannya dengan aturannya sendiri dan Sacramento tak pernah sepi pengunjung. Dari mulai pelajar SD, SMP, SMA, mahasiswa, pekerja kantoran, bahkan ibu rumah tangga turut serta meramaikan Sacramento milik Prue dan Prue sangat bahagia melihat banyaknya pengunjung yang mampir ke kafe-nya dan menikmati lembar demi lembar buku yang mereka pilih sendiri. Ia bahagia melihat sekelompok anak muda yang tengah berdiskusi di sudut sedang sibuk melakukan bedah buku mini dengan kelompok kecilnya, melihat ibu muda yang sedang membacakan cerita Putri Salju untuk anaknya, atau beberapa pasangan muda yang masing-masing tenggelam dalam lautan kata-kata di tangannya. Ah.. melihat mereka Prue jadi sedikit iri. Andai ia juga dapat melakukan hal seperti itu bersama Marco, pasti dia bahagia sekali.

Sabtu, 23 Februari 2013

Happy Birthday Beno!!

Assalamualaikum Beno,

Well, aku lebih suka manggil Om Beno sih hehe. Kenalin Om Ben, aku Aci, followers Tante Alex di twitter sekaligus fans-nya Om Ben :p
Apa kabarnya Om? Baik-baik aja kan? Nggak sakit-sakit punggung lagi kan? Stok beng-beng sama bread papa-nya masih penuh dong di kulkas ya? Bagi satu boleh? #eh #dikeplak

Bulu masih banyak Om? Nggak gersang kan dadanya? #eh #makindikeplak

Minggu, 17 Februari 2013

Kawat Gigi Merah

Lima menit berlalu setelah petugas stasiun meniup peluitnya pertanda akan ada kereta yang datang. Jarum jam di stasiun tepat menunjukkan pukul delapan lewat lima. Semua orang bergegas masuk, berdesak-desakkan dengan manusia lain yang hendak turun dari kereta, saling sikut, sling tendang, saling melotot penuh rasa emosi. Semua itu hanya demi satu tujuan. Agar dapat tempat duduk, persoalan nanti jika diharuskan berdiri karena ada ibu-ibu hamil atau orang lanjut usia yang diberi prioritas duduk bisa lain cerita. Jurus-jurus seperti pura-pura tidur, pura-pura tidak peduli, atau bahkan pura-pura buta lumayan dapat membuat dudukmu nyaman sampai stasiun terakhir.

Aku naik susah payah sepersekian detik saat pintu kereta yang akan membawaku ke Kota dari Stasiun Bogor akan menutup. Menelusupkan tubuhku diantara banyak orang yang lebih memilih berdiri di arah pintu masuk gerbong daripada menggumpal di tengahnya. Tubuhku meringsek, membuka jalur, hendak bergerak ke gerbong satu, gerbong khusus wanita, karena gerbong yang kuberada sekarang jelas-jelas penuh dengan segerombol bapak-bapak tambun yang pura-pura tidur di kursi panjang isi delapan yang sudah penuh dan belasan anak muda, berprofesi sebagai mahasiswa, pegawai pemda, karyawan, sales, bahkan ada segelintir eksekutif muda berpakaian necis yang berdiri di antara gerbong sebelah, sibuk dengan gelas kertas berisi cokelat panas atau mungkin kopi di dalamnya, yang lainnya sibuk membolak-balik halaman harian Kompas.

Aku bergerak semakin lincah demi meluncur segera ke gerbong satu, namun entah karena aku yang bodoh atau apa tubuhku menabrak bahu seseorang yang sedang berpegangan pada pegangan kereta di atasnya. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan bingung. Aku salah tingkah, kemudian tersenyum tak enak. Menyuarakan kata-kata maaf kemudian tanpa ia membalas pernyataanku, kaki ini sudah bergerak kabur menuju gerbong wanita.

Selasa, 12 Februari 2013

Cinta dalam Diam

Selasa, 14 Februari 2012

“Untuk kamu..” katamu tiba-tiba saja sudah menaruh dua bentuk cokelat berbentuk hati di atas meja.

“I love you, Cinta..” sambungmu lagi.

Ucapanmu jujur saja membuatku terdiam. Hatiku seolah dipenuhi jutaan kupu-kupu cantik yang beterbangan. Ah, bagaimana mungkin perasaanmu padaku berubah secepat itu? Bukankah baru sebulan lalu kita sama-sama mengucap janji bahwa kita akan selalu menjadi sahabat sampai mati? Secepat itukah perasaan sayang antar sahabat berubah menjadi cinta?

"Aku..."

Kamu menggeleng saat aku hendak menyelesaikan kalimatku. Matamu berubah menjadi lebih fokus, menatap wajahku.

"Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku Ta, itu aja cukup untukku..."

***
Kamis, 14 Februari 2013

Aku berlari menyusuri lorong rumah sakit. Mencari sosokmu. Jujur saja aku tak memiliki firasat apapun mengenai kejadian yang menimpa dirimu saat kamu pamit dari rumahku malam tadi, namun hal inilah yang menyadarkan aku akan sesuatu.

Kamu berada di dalam sana dengan tubuh penuh selang. Detak jantungmu tertera dalam layar monitor, membuatku sangat takut. Mati-matian diriku berusaha menahan air mata yang siap tumpah kapan saja, karena aku tahu, kamu benci melihatku menangis.

Aku takut kehilanganmu, Ras.
Aku sangat takut.
Kar'na aku mencintaimu.
Sedari dulu, tepat setahun lalu saat hujan gerimis di Februari, kamu menyatakan perasaanmu.

***

Sosis dan Sushi

“Itu sosis kan? Aku boleh minta?”
Dhannielle yang sedang menikmati bekal makan siangnya langsung menghentikan aksi makannya. Ia mendongak, menatap ke arah sumber suara. Seorang laki-laki keturunan Jepang tersenyum kepadanya. Giginya ompong satu namun tak mengurangi ketampanan wajahnya. Perempuan itu mengangguk, merasa malu sendiri karena ia seorang murid baru di sekolah.
Dhanielle salah tingkah. Dirapikannya rok seragam merahnya walau tak kusut.
                “Kamu murid baru di sini kan? Kenalin aku Akio.” Lelaki itu mengulurkan tangannya, senyumnya muncul membuat matanya semakin sipit.
Dhanielle tergugu, disambutnya tangan Akio yang terulur. Rona merah seketika menjalar di pipinya yang tembam.
                “Aku Dhanielle..”
                “Aku udah tau.”
Sedetik Dhanielle merasa kaget karena Akio mengetahui namanya, namun di detik berikutnya  mereka sudah mengobrol akrab, layaknya teman lama. Setiap harinya mereka selalu janjian makan siang bersama saat waktu istirahat sekolah tiba, terkadang saling menukar isi makan siangnya, sosis dan sushi.
Dhanielle tersenyum mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Akio. Kenangan lima belas tahun lalu yang tiba-tiba saja hadir di dalam pikirannya. Kemudian tanpa sadar ia menggenggam tangannya sendiri, merasakan ada benda dingin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pernikahan unik dengan desain sushi dari Akio, melekat indah di sana.
***

Rabu, 06 Februari 2013

Keajaiban

Kaila berusaha membuka matanya namun sangat sulit. Ah, dingin terlalu menyergap tubuhnya dan hujan masih deras di luar sana, belum berhenti sejak semalam. Ia menarik selimutnya kembali, memeluk gulingnya yang sudah butut, merapatkan kedua matanya, dan berusaha melanjutkan mimpinya yang amat indah. Mimpi bertemu dengan orang tua yang belum pernah dilihatnya akibat kecelakaan yang menimpa dirinya sehingga ia harus terpisah dengan kedua orangtuanya hingga kini.
Kaila menyentuh pipi mereka, merasakan lembutnya kulit yang sudah mengerut keriput karena usia. Membelai helaian rambut yang sudah memutih. Ah, begini rasanya memiliki orang tua, batin Kaila bahagia. Dibibirnya tersungging senyuman namun tiba-tiba saja ia merintih. Seperti merasa kepiluan yang parah yang melandanya. Kaila terisak dalam tidurnya!
Kedua orang tuanya bergerak menjauh, tangan mereka menggapai-gapai ke arah Kaila namun hal itu percuma saja. Kaila sudah tak bisa menyentuhnya lagi! Dan seketika itu, Kaila terbangun, merasa kesakitan dan sedih louar biasa. Bahkan di dalam mimpipun dia tak bisa menjangkau orang tuanya. Kaila cepat-cepat turun dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi yang letaknya di samping ruang tv. Kepalanya iseng menoleh ke arah beberapa temannya yang ramai menonton di sana. Tak biasanya di panti asuhan ruang tv ramai, pastu ada sesuatu, batin Kaila.
Ia bergerak mendekat ke arah tv layar cembung berukuran 16 inchi tersebut, memandang suasana riuh di layar kaca. Suara penyiar menyebutkan bahwa telah terjadi banjir bandang di Riau dan banyak menimbulkan  korban jiwa. Beberapa mayat disorot oleh kamera, menginformasikan secara visual bahwa kejadian di sana sungguh merupakan bencana alam terbesar yang pernah ada di Riau.
Seketika mata Kaila terpaku, napasnya serasa sesak.
Diantara mayat-mayar yang berjejer dan korban-korban itu, sorot matanya menangkap dua sosok yang nampak kebingungan di antara mayat dan korban-korban. Dua sosok yang dilihatnya di mimpi! Orangtuanya! Entahlah, apakah ini keajaiban untuk Kaila karena dia telah menemukan petunjuk mengenai orangtuanya.