Rabu, 21 November 2012

Maafkan Aku

Terdiam menyaksikanmu menangis dalam pilu.
Penuh haru, membelenggumu dalam kabut kelabu.
Menemukanmu sedang memeluk erat tubuhmu yang rapuh.
Tertunduk dengan gerak turun naik bahumu.

Maafkan aku yang hanya bisa terdiam.
Maafkan aku yang tak melakukan apapun untuk menenangkan.
Seperti yang biasa kau lakukan.
Menggenggam jemariku di saat jatuhku yang dalam.

Andai tanganku dapat menyentuhmu,
Andai dekapanku dapat menghangatkanmu,
Andai raga ini masih menyatu dengan tubuhku,
Aku akan melakukan itu.

Maafkan aku.

Selasa, 20 November 2012

La Côte d'Azur


Selasa minggu pertama bulan ke lima.

Cinta datang karena terbiasa.

Suatu ungkapan klise yang Bonita sering dengar. Satu ungkapan yang hanya lewat sekilas di telinganya, yang ia anggap sebagai angin lewat yang tak perlu dihiraukannya sama sekali. Mungkin Bonita tidak peduli, atau mungkin dia hanya berpura-pura. Ia sendiri bukan orang yang skeptis dengan cinta. Sebaliknya, ia sangat percaya. Lebih dari percaya kepada dirinya sendiri malah, namun yang ia tidak percayai, mengapa cinta yang tidak percaya padanya.

Ungkapan itu kini berputar dalam kejernihan pikiran Bonita. Membuat arus tersendiri yang menenggelamkan pikiran-pikiran lain yang tersangkut dalam otaknya dan mengambangkan satu kata itu. Cinta datang karena terbiasa. Cinta datang karena terbiasa. Kali ini Bonita mengucapkannya berulang-ulang dalam sendu suara dan lelah penantiannya. Mengucapkannya layaknya ia mengucap mantra.

***

Selasa minggu pertama bulan pertama.

Gerimis mulai membasahi bumi. Meneduhkan derita setiap makhluk yang lelah akan sinar mentari yang terpaksa diserapnya dalam-dalam selama seminggu ini. Wangi tanah dan dedaunan mengusik indra penciuman Ganendra. Ditahannya langkah kaki dan dibiarkannya dirinya menikmati sensasi gerimis ini. Biar rintik yang mengusik, tak peduli dengan kewajiban yang menunggunya di balik pintu kaca sana. Ganendra menikmatinya. Benar-benar menikmatinya.

Sementara di balik pintu kaca, seorang wanita dengan secangkir jasmine tea di tangan kanannya sedang menikmati. Bukan kecapan jasmine yang melekat dalam lidahnya, namun ia menikmati pemandangan yang berada di balik jendela kaca besar yang memisahkan mata dengan sosok lelaki berkemeja hitam yang sedang berdiri, menikmati terpaan angin dan sentuhan air di tubuhnya dalam senyuman yang terkembang di bibirnya yang tipis. Ia menikmati pemandangan yang terhampar di hadapannya. Benar-benar menikmatinya.

***

Bonita tidak pernah menyangka kalau menunggu itu sebegini membosankannya. Sudah habis dilahapnya majalah wanita yang dibelinya tadi di depan La Côte d'Azur, sebuah kedai kopi modern yang terletak di samping taman kecil tengah kota. Dua jam sudah ia hanya duduk-duduk di sini, menyesap pelan-pelan secangkir macchiato yang mengirimkan sensasi menentramkan sekaligus membuatnya bertambah gundah. Semakin sedikit cairan espresso dalam cangkirnya, semakin menjelaskan bahwa yang ditunggunya tak kunjung datang juga. Dua jam berlalu, satu setengah cangkir macchiato habis disesapnya.

Ditaruhnya cangkir kedua yang masih menyisakan setengah espresso di dalamnya. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di sudut mata. Seorang lelaki bertubuh tegap dan berparas tampan berdiri dengan nyamannya di tengah gerimis. Membiarkan air hujan membasahi tubuhnya pelan-pelan, membuat kemeja hitamnya melekat erat pada tubuhnya yang indah. Bonita terpana. Ia benar-benar menikmati pemandangan di depannya. Benar-benar menikmatinya.

***
Ganendra menghentikan aksi dramatisnya yang ternyata tanpa ia sadari menyita perhatian banyak orang di sekitarnya. Gerimis mulai menangis kencang. Dilangkahkan kakinya yang panjang ke arah La Côte d'Azur. Tangannya terulur ke arah rambutnya dengan gaya mengacak-acak, berharap sisa air gerimis tadi ikut hilang akibat gerakannya barusan. Tangannya yang basah membuka pintu kaca di hadapannya. Seketika matanya tertumbuk pada sepasang mata cokelat yang sedang memandangnya dalam hening. Ganendra masih berdiri di pintu masuk, tangannya masih memegang handle pintu kaca itu sementara matanya membaca mata cokelat yang masih memperhatikannya. Mereka saling menatap dalam beberapa detik. Di detik kemudian Ganendra terpaksa melepaskan matanya pada mata cokelat itu karena beberapa pengunjung La Côte d'Azur hendak ke luar dan menghalangi jarak pandang matanya. Di detik berikutnya lagi, mata cokelat yang memandanginya telah menghilang. Wanita berjaket jeans lusuh itu kembali menatap cangkir minuman dalam genggaman tangannya. Ganendra sempat ingin menghampiri meja wanita berjaket jeans lusuh itu sebelum ia menyadari ada cangkir lain yang terletak bersisian dengan cangkir yang barusan perempuan itu genggam. Pandangannya teralihkan pada sesosok wanita berambut panjang yang tersenyum teduh ke arahnya, memandangnya penuh sayang, semakin meremukkan niatnya untuk menghampiri sang wanita yang kini menatap derai hujan yang menerpa jendela kaca di samping tempat duduknya.

***

Selasa minggu ke empat bulan ke dua.

Bonita masih tidak mengerti mengapa setiap pukul lima sore di hari Selasa, ia selalu melangkahkan kaki menuju kedai kopi modern di tengah kota padahal sudah dua bulan pertemuan dengan klien yang meminta di desain-kan kebaya untuk hari pernikahannya hanya dikarenakan setiap Selasa, pria itu selalu berada di sana. Sebenarnya hati Bonita masih berharap kalau pria berkemeja hitam itu mau menghampirinya. Ia merasa bahwa pria itu ialah pusat permasalahan hatinya dua bulan belakangan. Setiap Selasa, tak henti dalam setiap hembusan napas dan langkah kakinya ia selalu berdoa pada Tuhan akan seseorang yang menggenggam tangannya dan menariknya dari sini. Seperti yang selalu pria itu lakukan ketika mata mereka sengaja bertemu, menarik Bonita dalam pusaran kejernihan matanya yang memabukkan.

Dua bulan ia merasakan bahwa ia telah jatuh cinta. Hanya pada pandangan pertama yang tak disengaja, kemudian pandangan-pandangan berikutnya yang tercipta karena naluri alamiahnya. Pria itu tak pernah menolak tatapan Bonita. Ia selalu membalas tatapannya, selama beberapa detik kemudian sang pria kembali fokus memandang wanita berambut panjang di hadapannya. Sesosok wanita yang tak pernah terlihat jelas oleh Bonita karena wanita itu duduk membelakanginya.

Cinta datang karena terbiasa. Begitu kata Kirana, salah satu staf di butik yang dimilikinya yang sudah Bonita anggap sebagai adiknya sendiri. Kamu datang, kamu melihat, lalu kamu jadikan semua itu sebagai kebiasaan yang akhirnya tanpa kamu sadari membuatmu merasa wajib melakukan itu tanpa ada tekanan maupun paksaan. Kamu jatuh cinta, Bonita. Begitu kata Kirana. Tak perlu Kirana memberitahunya, karena Bonita sudah menyadari itu sejak ia melihat pria itu menikmati gerimisnya.

Bonita terbiasa melihat pria itu bercengkrama dengan wanita di hadapannya setiap Selasa, selama satu jam lamanya. Ia terbiasa melihat bagaimana tatapan mata pria itu yang menguar sayang setiap ia memandang wanita itu di sofa yang selalu mereka duduki di pinggir jendela kaca besar. Bonita meyakini kalau cintanya pada pria yang bahkan ia tak ketahui namanya bertumbuh semakin besar tanpa ia sadari. Seketika harapannya muncul, menumbuhkan bunga dalam padang hatinya yang gersang, namun seketika itu pula harapannya musnah. Ada suatu batas kasat mata yang menghalangi jalan cintanya. Ia percaya pada cinta, namun cinta belum memercayakan rasa itu untuk dimilikinya. Bahkan cinta pun memiliki rasanya sendiri yang membingungkan.

***

Di hari Selasa minggu ketiga bulan ke empat, Bonita masih setia mendatangi La Côte d'Azur, nama kedai kopi modern itu yang diambil dari nama pantai indah di Perancis. Seperti biasa, ia selalu datang satu jam lebih awal dari kedatangan pria itu dan wanitanya yang selalu ditatapnya dengan penuh cinta dan sayang, tatapan yang sama seperti yang Bonita berikan pada pria itu selama beberapa detik mereka sempatkan saling memandang. Hanya memandang, dalam diam.

Seperti biasa, Bonita selalu memesan macchiato, minuman kopi favoritnya sejak bertahun-tahun. Satu jam berlalu sebelum kedatangan sang pria, satu cangkir macchiato telah habis disesapnya. Dan ketika pria itu datang, secangkir macchiato baru, kembali menemani dirinya yang duduk sendirian namun kenyataannya kini berkebalikan.

Selasa ini sangat berbeda. Langit tak menampakkan bahwa ia bersedih sore ini dan siap menumpahkan kesedihannya seperti awal mulai ia menginjakkan kaki ke kedai kopi ini. Waktu sudah menunjukkan pukul lima dan kehadiran pria maupun wanita itu pun tak terlihat sama sekali. Sedikit hati Bonita teriris memikirkan kemungkinan bahwa ia tak akan bisa melihat pria itu lagi. Setengah jam berlalu namun pria itu tak kunjung datang. Bonita duduk dalam gelisah, matanya terus memandangi pintu kaca La Côte d'Azur, mengharapkan pria itu datang seperti empat bulan yang selalu ia lakukan, namun sampai macchiato dalam cangkir kedua Bonita tandas, pria itu masih tak menampakkan batang hidungnya.

***
Selasa minggu ke empat bulan ke empat.

Bonita menunggunya seperti biasa. Lagi-lagi ia harus kecewa. Macchiato-nya tandas tanpa kehadiran pria itu di hadapannya. Ia rindu. Rindu tatapannya. Ia rindu menatap pria itu dengan cintanya yang berkobar tanpa berkeinginan untuk terpadamkan walau ia tahu, cintanya akan bertepuk sebelah tangan.

***
Selasa minggu pertama bulan ke lima.

Bonita hampir lelah menunggunya. Sudah dua minggu pria itu tak kunjung menampakkan diri di kedai kopi ini. Berbagai pikiran berkecamuk dalam otaknya. Setiap sel masing-masing dalam otaknya memberikan satu kemungkinan alasan mengapa sang pria tak kunjung datang. Bonita tidak memercayainya. Ia tak ingin berspekulasi. Tak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan pria itu tak kunjung datang. Ia hanya menunggu. Hanya menunggu dalam diam. Ia menantinya dalam keputusasaan.
Cinta datang karena terbiasa. Cinta datang karena terbiasa. Ia meyakininya, namun akanah cinta juga secepat itu pergi ketika rangkaian kehidupan mulai berjalan tak biasa? 

Cinta datang karena terbiasa. Kali ini Bonita mengucapkannya berulang-ulang dalam sendu suara dan lelah penantiannya. Mengucapkannya layaknya ia mengucap mantra.

Dan seperti minggu-minggu sebelumnya, sang pria tak juga memberikan tatapan.

***
Selasa minggu ke dua bulan ke lima.

Bonita siap kali ini. Siap dengan kemungkinan terburuk apapun karena ia mulai berspekulasi. Memikirkan penyebab sang pria yang tak lagi mengunjungi La Côte d'Azur. Sudah hampir satu bulan. Sudah hampir lelah karena penantian. Bonita kini berjanji, bahwa jika hari ini sang pria benar-benar tak lagi memunculkan diri, akan disudahinya penantian. Penantian akan cintanya yang tak juga terbalaskan.

"So, kalau ternyata cowok itu akhirnya datang, lo mau ngelakuin apa Ta? Diam duduk di kursi lo kayak biasa? Nggak ada perjuangan sama sekali? Katanya lo cinta."

Bonita hanya tersenyum memandang Karina yang nampak kesal karena sikap Bonita yang hanya menunggu dan tak ada usaha untuk membangun suatu hubungan yang lebih dekat dengan pria itu.

"Rin, aku sadar siapa yang dia tatap dengan penuh cinta. Itu bukan aku, tapi cewek yang selalu duduk di hadapannya yang duduk membelakangi aku. Aku hanya ingin menatapnya Rin, seperti minggu-minggu kemarin. Setidaknya walau perasaanku tak terbalas, dengan dia aku merasakan cinta. Itu aja, cukup buatku."

***
Perlahan-lahan rinai hujan mulai turun satu-satu. Mengaburkan segerombolan manusia yang berkumpul di tengah-tengah taman kota yang sedang duduk santai menikmati senja dengan bercengkrama dengan orang-orang yang dikasihinya atau membuat sang penyendiri harus berlari menemukan tempat lainnya untuk meneruskan kegiatan melamunnya. Dalam diam Bonita menikmati pemandangan di depannya walau terhalang derai air hujan yang kini semakin lebat yang mengaburkan pandangannya karena terpaan air itu membasahi jendela besar di sampingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh dan ia baru menghabiskan setengah cangkir macchiato. Ia masih menunggu, hatinya masih menanti, seseorang yang mengisi tatapannya membuka pintu kaca kedai ini seperti hari Selasa pertama Bonita menatapnya.

***
Setengah jam berlalu dari pukul lima tiga puluh. Bonita enggan beranjak dari tempat duduknya menuju counter, memesan kembali secangkir macchiato seperti minggu-minggu sebelumnya yang selalu ia lakukan. Alasannya karena ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa, jika cangkir ke dua macchiato tandas, itu merupakan batas terakhir penantiannya.

Dalam hati Bonita menghitung angka satu sampai sepuluh. Mencoba menentramkan hatinya yang dilanda keresahan luar biasa. Ini akan segera berakhir. Penantian akan cintanya akan segera berakhir malam ini juga.

Tepat hitungan ke sepuluh, Bonita mulai bangkit dari tempat duduknya hendak berjalan menuju counter namun sesuatu memaku langkahnya. Jemarinya saling ia tautkan satu sama lain dan jantungnya berdegup kencang dan semakin kencang tak beraturan. Seseorang telah mengalihkan perhatiannya karena tatapan matanya kembali terkunci. Pada satu titik yang ia sebut dengan cinta.

Pria itu masih berdiri di sana. Rambut dan tubuhnya setengah basah akibat diguyur hujan di luar. Ia masih berdiri di dekat pintu masuk dengan tangannya masih menempel pada handle pintu. Tatapannya terkunci pada satu titik berjarak lima meter di hadapannya. Matanya masih memandang pemilik mata cokelat itu. Ada kerinduan yang tersemat di dalam tatapannya yang ia coba hantarkan pada satu sosok yang terpaku di hadapannya. Wanita itu masih berada di sana. Berada di kursi yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Sudut matanya menangkap bahwa hanya ada satu cangkir di atas mejanya dan wanita itu sepertinya hendak pergi. Ia ingin menghampiri wanita itu dan mengatakan jangan pernah pergi karena ia terlalu rindu. Rindu melihat tatapan indah lewat bulu mata lentiknya yang nyata ditujukan kepadanya.

Wanita lain yang sedang menyesap jasmine tea menatap sang pria yang berdiri di pintu masuk dan dengan jelas melihatnya bahwa ia sedang menatap wanita itu. Wanita yang setiap Selasa duduk di kursi yang sama yang selalu memperhatikan mereka berdua atau mungkin hanya memperhatikan sang pria saja. Wanita itu tahu benar apa arti tatapan mata keduanya. Kerinduan.

***
Bonita
Sebuah suara yang nyaring mengagetkanku. Mengganggu tatapanku pada dirinya yang ku rindu. Ada nama yang tersemat dalam teriakan nyaring itu. Ganendra. Itukah namanya?

Ganendra
Conchita memanggil namaku dengan amat kencang. Mengganggu tatapan mataku yang menatap mata cokelat wanita itu. Sedetik tatapanku teralihkan dari mata cokelat itu ke arah Conchita yang kini memotong pendek rambut panjangnya. Detik berikutnya kuputuskan untuk menatap wanita bermata cokelat itu dan ternyata dia masih menatapku!

Bonita
Ternnyata wanita itu yang memanggil namanya. Wanita yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya yang selalu menemani pria itu namun bedanya sekarang wanita itu telah memangkas rambut panjangnya sehingga aku agak pangling mengenalinya. Mataku seakan tak bisa berhenti memandang pria itu, pria yang mungkin saja bernama Ganendra. Tak ku duga ia kembali menatapku. Rasa senang, sedih, rindu, seakan bercampur menjadi satu. Ku harap dia mengetahuinya karena aku telah mengirimkan semua rasa itu lewat tatapan mataku. Dan, ya! Dia mengetahuinya.

Ganendra
Tatapannya kini seperti mengandung bermilyar makna. Anehnya aku merasakan sesuatu yang menghangatkan hatiku.

Bonita
Entah keberanian dari mana aku melangkah dari tempatku berdiri dan menghampirinya. Ya! Menghampiri pria itu!

Ganendra
Wanita itu menghampiriku. Bodoh kalau aku diam saja seperti patung di sini!

Bonita
Dia melangkah. Entah kepada wanita itu atau ia...

Ganendra
Hai.
Satu kata bodoh yang aku ucapkan pada wanita bermata cokelat itu. Sebenarnya aku ingin saja mengatakan bahwa aku merindukan dirinya, tapi apakah itu cukup normal dikatakan pada orang yang baru saja berkenalan? Ah, bahkan berkenalan pun belum!

Bonita
Aku merindukanmu.
Ya, katakan kalau aku gila tapi aku benar-benar mengatakan ini pada dirinya!

Ganendra
Ia berkata bahwa ia merindukanku? Bagaimana bisa kami memiliki perasaan yang sama?!
Ya, aku juga! Sorry tapi adikku sedang duduk di sana menunggu. Kalau kamu mau kamu bisa gabung.
Kataku akhirnya.

Bonita
What?!! Ternyata itu adiknya?! Oh Tuhan terima kasih. Terima kasih banyak.


Bonita menggeleng namun bibirnya tak henti untuk terus tersenyum. Sejenak pria itu menatap Bonita heran.
Temui aku besok pagi di sini tepat pukul sepuluh. Have fun with your sister ya.

***
Bonita melenggang lega dan nyatanya ia keluar dari La Côte d'Azur. Meninggalkan cangkir macchiato yang sudah tandas dan tak jadi kembali ke counter untuk memesan cangkir keduanya.

Ia tahu, ia telah mengambil risiko yang begitu besar. Bisa saja tadi ia ikut bergabung dengan Ganendra dan adiknya dan mempermudah suatu hubungan yang hanya terjalin lewat tatapan mata namun ia tidak melakukan itu. Ia sengaja memberi pilihan bagi Ganendra dan bagi dirinya sendiri.

Jika benar Ganendra adalah seseorang yang dipilihkan Tuhan untuk dirinya, Rabu akan jadi hari terindah dalam hidupnya.

***

Minggu, 18 November 2012

Black Confetti 7

Aku terbangun keesokan harinya dengan dia masih di sampingku. Matanya bersinar saat menyapa tatapan mataku yang setengah mengantuk setengah heran karena melihatnya masih di sini.
"Morning sleepyhead," sapanya sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya, membentuk satu senyuman miring yang sanggup membuat rasa kantukku hilang seketika. Ia berbaring miring, menggunakan siku kanannya untuk menopang kepalanya demi memandangiku seperti ini.
"Morning," jawabku dengan suasana hati yang campur aduk.
"Sarapan di sini atau mau turun ke bawah San?" tanyanya lagi.
WAW!! Apa yang terjadi sama Aras sih sampai dia berubah menjadi begitu peduli dan perhatian seperti ini?! This is not so him! Kerasukan mungkin? Ah, ya bisa saja.
"Cassandra? Hello.. Kok bengong?"
Aku menatap wajahnya benar-benar. Sedetik  kemudian aku bangun dan menegakkan punggungku.
"Kamu kenapa sih Ras? Sakit atau apa? Nggak biasanya bersikap ramah tamah gini! Bilang deh apa mau kamu?!" Tuduhku tanpa tedeng aling-aling. Aras yang ditanya ikut bangun dan memandang heran ke arah wajahku lalu tertawa terbahak-bahak.
"Apa ketawa-tawa?" sahutku jutek.
"So young, fresh, labil, and cute. You're so cute Cassandra, don't you know that?"
"Iya dan kamu kayak om-om senang!" tutupku sambil melemparkan bantal ke arah wajahnya dan melenggang ke kamar mandi. I wanna go home. NOW!

***

Air yang menerpa wajahku membuatku bergidik. Sengaja aku memilih air dingin untuk membasuh seluruh tubuh sekaligus pikirankui dari kejadian gila yang ku lalui akhir-akhir ini. Dari mulai kisah perjodohan yang dramatis, pernikahan, bulan madu singkat, kabur-kaburan, sampai di malam kemarin. Pelukan Aras masih melekat di tubuhku. Aku tak mungkin melupakan itu, merasakan dekapannya dan suhu tubuhnya yang mendekap erat tubuhku, menularkan kehangatannya, mendengarkan detak jantungnya dan naik turun diafragmanya di punggungku. Oh sial! Kenapa otakku dipenuhi oleh bayangannya! 

Tanganku menutup keran shower kemudian meraih salah satu dari tumpukan handuk yang ditaruh di atas meja marmer cantik di sudut kamar mandi. 
Oh Shit!
Sial kuadrat! Aku lupa membawa baju bersih yang akan ku kenakan! Piyama beserta underwear yang ku kenakan tadi basah seluruhnya terkena percikan-percikan air saat mandi tadi dan mengenakan pakaian itu ke luar pun bukan ide yang baik. Ya terpaksa aku harus mengenakan handuk ini ke luar kamar mandi atau aku bakal mati kedinginan di sini.

Pelan-pelan ku buka handle pintu kamar mandi dan melongokkan kepala ke arah kamar, aman! Aras tidak ada di sana. Saat beberapa langkah lagi menuju koper, dimana seluruh pakaianku sudah tersimpan rapi siap untuk di bawa pulang, saat itulah sebuah dehaman keras mengagetkanku, membuatku memegang ujung handuk yang melingkar erat di tubuhku kuat-kuat. Ternyata Aras di sana, berdiri di balkon dengan pakaian semalam, rambutnya masih berantakan dan semakin berantakan karena dipermainkan angin. Tubuhnya menjulang dan terlihat sangat santai walau matahari berusaha menganggunya dengan sinarnya yang menyilaukan.

"Hello sweetheart," katanya kemudian. Ia beranjak dari tempatnya berdiri lalu menghampiriku. 
"Kamu nyari apa? Mau aku bantu?" tanyanya dengan senyumnya yang khas.
"Nggak usah sok baik deh Ras, " aku menantang matanya. "Dan nggak usah ngelihatin aku dengan tatapan mesum kamu itu! Mending, kamu cepet-cepet mandi karena aku mau pulang sekarang juga!"
Aras tertawa mengejek lalu memandangku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kalau kamu berpikir aku bakal tergoda cuma gara-gara tubuh kamu ini, you're wrong honey! Kamu nggak seberapa." ujarnya kemudian menghilang dari pandanganku. Setiap tubuhku gemetar. Hatiku terasa panas, sakit, entah karena apa. 
You're wrong honey. Kamu nggak seberapa.
Entah mengapa, kata-katanya yang diucapkannya kali ini, tanpa tendensi, terdengar begitu menyakitkan menusuk hati. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak ada air mata yang terbuang percuma di sini.

***

Tepat pukul satu siang, Audi hitam yang menjemput dan mengantarkan kami dari hotel menuju rumah, tiba di depan pintu pagar setinggi satu meter yang terbuat dari besi yang terpilin yang di cat putih tulang. Semua nampak terlihat sederhana. Rumah bergaya klasik kolonial satu lantai khas tahun 60-an memiliki halaman luas yang ditata apik. Walau terlihat asri dan nyaman tentu saja ini bukan rumah orang tuaku. Kemana sebenarnya Aras membawaku?

"Welcome home," katanya datar. Wajahnya menatap lurus ke depan. Selama satu jam perjalanan ia pun tak pernah melirikku. Ia fokus pada gadget di tangannya atau pura-pura tertarik dengan kemacetan di jalan.
Mobil Audi pun masuk ke halaman setelah pintu besi tadi di buka oleh seorang wanita paruh baya yang memakai kebaya dan rambutnya dicepol seadanya. Pintu pagar di belakangku kembali tertutup. Sang wanita paruh baya menghampiri mobil kami dan membukakan pintu untukku. Senyumnya terkembang tulus.

"Wilujeng siang Neng Sandra, mangga," katanya padaku. Pria yang mengendarai mobil ini pun langsung ke luar dan mengeluarkan barang-barangku dari dalam bagasi. Loh?!!
Aku melirik ke arah Aras yang nampak tak peduli dan langsung saja menyambar lengannya ketika ku lihat ia hendak membuka pintu mobil di sampingnya.

"Aku mau pulang," desisku tajam. Aras melirikku malas.
"Ini udah di rumah," balasnya tak acuh.
"Aras, aku masih hapal benar rumah orang tuaku di mana, dan ini, jelas bukan tempat tinggalku. Jadi, antar aku ke rumah orang tuaku sekarang juga!"
Ia menarik lengannya dari cengkramanku secara paksa lalu membuka pintu mobil dan meninggalkanku sendirian.
Sedetik kemudian aku ingin menangis, benar-benar ingin menangis, tak mampu rasanya lagi membendung perasaan dongkolku yang semakin hari semakin menggebu. Bayangkan saja dalam waktu 3 hari sejak hari pernikahanku, hati dan perasaanku rasanya luluh lantak, hancur berantakan. 

"Neng?" Tanya sebuah suara yang tiba-tiba saja membuatku mengurungkan niatku untuk menangis di sini. Aku menoleh ke arahnya, berusaha untuk tersenyum semanis mungkin.
"Neng Sandra sudah ditunggu sama keluarga di dalam, ayo Ibu, saya antar ke dalam," ujarnya di samping pintu mobilku yang terbuka dengan logat Sunda yang kental.
Aku seperti kehilangan orientasi. Kepalaku rasanya mau pecah saja.
"Tunggu, ini rumah siapa?" tanyaku linglung.
"Eh, memang tadi Den Aras nggak bilang?" Aku menggeleng, frustasi,
"Ini rumah Oma Mer, Neng Sandra. Semua keluarga sudah berkumpul di dalam menyambut manten baru, termasuk bapa sama ibu Neng Sandra juga sudah ada di dalam, ayo masuk Neng, saya antar."

Kepalaku benar-benar meledak.

***

Kamis, 08 November 2012

Josh

Josh menghampiri Keila yang berbaring di atas tempat tidurnya. Keila merengut dilemparnya Josh dengan salah satu bantalnya tapi sayang, Josh terlalu cekatan sehingga bantal itu tak mengenai tubuhnya.
"Kemana aja Josh?" tanya Keila malas. Ia beringsut duduk ketika Josh naik ke atas tempat tidurnya. Josh memalingkan wajahnya dari tatapan Keila.
"Nggak ada kamu seminggu ini, aku hampa Josh," ujar Keila seraya memeluk Josh. Josh menggeliat geli.
"Kamu tahu Josh, kamu penyemangat aku nomer satu, yang bikin aku betah di rumah, yang selalu bikin aku tertawa dengan tingkahmu yang lucu, atau lihat kamu makan aja aku udah gemes banget Joosshh!!"
Dikecupnya bibir Josh sekilas membuat Josh menggeliat lagi.
"Lihat Josh, seminggu kamu pergi, kamu kucel banget! Nggak mandi berapa lama sih kamu?" Keila menatap lekat-lekat wajah Josh. Matanya menatap Keila lama sekali.
"Tuh, lihat kan, kamu juga rindu aku Josh!!" Dipeluknya Josh sekali lagi.
"Jangan pernah tinggalin aku lagi ya Josh, nggak ada kamu, hidup aku nggak indah!"
Keila melangkah keluar dari tempat tidur, kemudian membawa Josh dalam pelukannya. Josh yang sedari tadi diam pun akhirnya bersuara.
Meong!!

Jake

Karenina berjalan menuju altar dengan hati gelisah. Digenggamnya buket bunga itu kuat-kuat demi mengalihkan debar jantungnya yang teramat kencang. Di sisinya ia melihat Marco, tampak apik dengan setelan jas hitamnya. Ia memandang mata biru ayahnya itu, seakan meminta kepastian. Ayahnya tersenyum sambil mengangguk, kemudian melepas lengan putri semata wayangnya itu. 
Jake memandang Karenina penuh cinta. Satu-satunya wanita yang mampu meleburkan segala asa dalam dadanya dan mau menerima kehidupan Jake yang serba berantakan.

Karenina tergugu. Ia mengecupnya sepenuh hati. Bulir air mata menetes satu persatu melewati pipinya yang lembut. Jake akan selalu ada dalam hatinya, dalam ingatannya, dan dalam bayangnya. 

Pekat menyapa, Karenina bangkit dengan perasaan gelisah luar biasa setiap meninggalkan pemakaman ini, meninggalkan khayalan bahwa ia dapat menikah dengan Jake, dan ia mengecup nisan Jake sekali lagi sebelum ia melangkahkan kaki.

Senin, 05 November 2012

Al

"Kamu suka es krim?" tanya Adel sambil mengacungkan sebuah es krim cokelat ke arahku. Aku menggeleng.
"Kamu nggak suka?" tanyanya lagi seakan tak percaya. Memangnya kenapa sih dengan manusia dan es krim? Apa mereka harus selalu saling menyukai?
"Aku nggak suka Adel," jawabku jengah. Adel kembali menaruh es krimnya ke kantong plastik hitam kemudian menaruhnya tepat di hadapanku.
"Lima bulan kita pacaran aku seperti nggak kenal kamu Al, aku bahkan baru tahu kamu nggak suka es krim," ujarnya datar. Aku berpaling dari tatapannya dan pura-pura fokus mentatap jalanan lengang di sebelahku.
"Kamu nggak perlu tahu," kataku akhirnya. Adel mendesah pelan.
"Aku perlu tahu karena kamu pacarku Al, aku perlu tahu mana hal yang kamu suka, mana hal yang kamu nggak suka. Lima bulan ini yang aku rasain aku buta."
Aku mendelik. Gusar sekaligus kesal.
"Buta?" tanyaku bingung.
"Aku buta tentang kamu Al. Kamu nggak pernah membiarkan aku untuk mempelajarimu, membuatmu senang karena apa yang aku lakukan, membuatmu tersenyum atau tertawa walau sebentar."
Giliran aku yang mendesah.
"Lima bulan ini, justru waktu yang paling lama yang pernah aku berikan pada orang yang belajar tentang diriku, kamu tahu aku, kamu mengerti aku,"
"Mengerti kamu? Tentang apa Al? Kamu lihat sendiri kan hal sekecil es krim cokelat aja aku nggak tahu sama sekali,"
"Kamu tahu sekarang kan?"
Aku tersenyum menatap Adel yang mulai kesal. Aku meraih tangannya kemudian mengecup buku-buku jarinya.
"Mungkin aku memang pendiam, pria paling pendiam yang pernah kamu kenal. Tapi Del, aku memang begini. Aku bingung harus memberitahu kamu dari mana tentang hal-hal yang aku benci atau aku suka. Aku nggak ngerti caranya Del, maka dari itu, aku mohon, kamu jangan berhenti untuk belajar tentang aku yah seperti aku yang nggak akan berhenti belajar tentangmu walau mungkin belajar tentang aku itu butuh waktu yang lama dan sulit, jangan menyerah yah Del. Aku butuh kamu,"

Adel terdiam. Wajahnya serius sekali menatap wajahku.
"Ya, kita berjuang sama-sama ya Al, saling mempelajari, saling mengerti." kata Adel akhirnya.
Aku menyentuh pipinya dengan ujung jariku.
Aku tahu dia mencintaiku dan aku tak perlu kata-kata I Love You untuk membuktikannya.

Sabtu, 03 November 2012

Lima Tahun

Coraline membuka payungnya walaupun hujan masih rintik. Ia menegakkan bahunya, mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya yang terserak dan ia mulai melangkah. Melewati kerumunan manusia lain yang sibuk menutupi kepala dengan tangan atau dengan benda apapun yang dapat menahan gururan air yang intensitasnya kini mulai meningkat.

Tangannya gemetar menahan beban air yang menghunjam payungnya, namun sebenarnya bukan itu. Dadanya masih sesak dengan kejadian tadi. Lima belas menit yang memorak-porandakan harga diri dan kepercayaannya selama lima tahun. Ya, ironis memang. Lima tahun yang hanya dibayar dengan lima belas menit.

Coraline terdiam. Di tengah pusaran arus manusia lalulalang di sekitarnya. Membuat sedikit kemacetan di tengah pedestrian. Ada yang tak bisa dibendungnya. Coraline membuka tamengnya, memperlihatkan kerapuhannya. Ia menangis dalam diam, dalam rinai hujan yang kian menderu deras, memanfaatkan keadaan agar ia tak bisa mendengar tangisnya sendiri karena itu memilukan.

Lima tahun lalu saat Dion memintanya. Ia berlutut dengan rasa gemetar, memandang mata azzura Coraline yang sendu yang ditatapnya dengan segenap cinta yang ia miliki saat itu. Dion meminta Coraline menjadi pendamping hidupnya, perempuan yang bisa ia lihat saat ia akan menutup mata di malam hari dan membuka mata pada pagi harinya, perempuan yang ia yakini dapat membuatnya merasa utuh.

Coraline bergeming menatap mata hitam Dion yang memandangnya penuh cinta, memancarkan sejuta pengharapan bagi hubungan mereka. Dion masih menatapnya. Bergelimang rasa kasih dan cinta. Namun yang dikatakan Coraline akhirnya, membuat Dion menunduk.

Aku butuh waktu. Lima tahun.

Lima tahun seperti yang telah mereka sepakati, Coraline yang sudah siap, menemuinya di sudut jalan pertama mereka saling mengenal lalu jatuh cinta, sudut jalan tempat Dion melamarnya.
Lima tahun yang mengubah segalanya.
Ada Dion di sana, masih tampan seperti biasa, menggandeng seorang balita yang diakuinya anaknya.

Coraline membuang payungnya. Membiarkan hujan menghapus segalanya. Segala keterlambatannya.