Kamis, 31 Mei 2012

Lari (4)



Pangkal kakiku terasa nyeri sekali. Aku menunduk untuk menjangkaunya sehingga dapat mengurutnya pelan-pelan. Setidaknya ini adalah cara agar sakit dan nyeriku dapat sedikit hilang dan cara agar orang-orang di sekitarku tidak menatapku heran, seperti aku ini makhluk dari dimensi astral. Aku sadar, wajahku mungkin sangat-amat-tidak enak dilihat. Dengan mata bengkak, hidung merah, riasan wajah yang entah melebar kemana, baju yang kusut, ditambah rambut yang awut-awutan. Aku mungkin bukan terlihat seperti makhluk astral, tapi orang gila, yang lebih gilanya lagi berani memasuki tempat seramai ini.
Tempat ini masih sama ketika aku memperhatikannya sejak tadi. Ramai oleh pengunjung yang sibuk dengan gelas kertas plus kepulan asap wangi aroma kopi yang tersebar di penjuru ruangan. Aku memilih duduk di kursi kayu minimalis yang terletak persis di samping jendela. Di sebelahnya taman bunga kecil nan cantik terhampar, mawar-mawarnya terlihat anggun akibat bantuan lampu tamannya yang temaram sama seperti di ruangan ini. Ku dongakkan kepala, sedikit takut sekaligus malu karena keadaan wajahku sekarang, dan apa yang kulihat benar-benar membuat hatiku sedikit lega.
Tidak ada yang memperhatikanku, tidak ada yang menatapku heran, tidak ada yang berbisik-bisik sambil mendelik ke arahku, tidak ada yang aneh, mungkin tidak ada juga yang menyadari kehadiranku saat ini.
“Heran ya?” tanya sebuah suara mengagetkanku. Otomatis kepalaku langsung mencari sumber suara tersebut. Dia di depanku.
“Baru pertama kali ke sini kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. Ia tersenyum, kedua lesung pipinya muncul.
“Kenalin, saya Javas Kastara.” Lelaki itu mengangsurkan tangannya. Sempat terpana beberapa detik, akhirnya aku menyambut ulurannya. Merasakan genggamannya yang begitu hangat dan akrab. Seperti kawan lama padahal aku baru bertemu dengannya di sini.
“Aku, Alila,” balasku kikuk. Tubuhku tiba-tiba menggigil. Termakan habis oleh angin malam yang menembus lapisan kaca di sampingku. Hangatnya cafe ini sedikit demi sedikit kian terkikis, terlebih dengan sesosok makhluk yang sedari tadi diam memandangiku. 
“Kamu mau pesan apa?” tanyanya setelah diam kami yang begitu lama. Bibirnya membentuk senyuman. Aku tergeragap karena terlalu fokus memperhatikan wajahnya yang anehnya dapat menghangatkan. Ini terlalu cepat Al. Kau tidak bisa untuk…
“So, Alila?”
Oh aku benar-benar malu sekarang.
“Espresso. Double Espresso.” jawabku tergugu. Lagi-lagi ia tersenyum sambil bangkit berdiri menuju counter.
***
Coffee Shop yang entah-apa-namanya yang tak sengaja kudatangi ini, memang berbeda dari nuansa cafe kebanyakan. Konsep ruangannya seakan membuatmu terpelanting jauh menembus waktu. Jauh dari kemodern-an, dari segala tetek bengek teknologi zaman sekarang, dari tante-tante centil yang terkikik penuh gosip di sudut ruangan, dari segerombolan anak remaja yang berdandan dewasa meminta menjadi pusat perhatian.
Ruangannya tidak begitu besar, hanya cukup untuk sepuluh pasang kursi kayu yang di tata monoton di bagian kiri dan kanan ruangan persegi, dan satu set sofa cokelat di bagian sudut. Uniknya cafe ini selain mengusung tema vintage indoor, tetapi ada juga kursi-kursi yang di tata apik di luar ruangan. Di letakkan di samping lampu taman cantik, di sebelah bougenville putih yang berbunga, di dekat kolam ikan koi dengan air terjun buatan yang terdengar bergemericik menenangkan.
Setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing. Ada yang bercengkrama santai dengan lawan bicaranya, ada yang duduk termenung di sudut taman sendirian, ada yang serius membaca buku. Semua orang seperti asyik dengan dunianya, tidak ada mata yang jelalatan mencari seuntai gosip yang siap untuk disebarkan sesama golongan. 
“Semua orang punya dunianya masing-masing.” Sebuah suara mengagetkanku. Dua gelas kertas kopi diletakkannya di atas meja kayu bundar yang memisahkan kami. Asapnya menyatu, membaui indra penciumanku. Nyaman sekali.
“Itu alasan aku senang dengan tempat ini,” lanjutnya sambil menyesap kopinya dalam dan nikmat.
“Kenapa kamu pesan espresso?” tanyanya. Ia serius memandangiku. Menanti jawaban yang seperti menarik baginya untuk tahu.
“Espresso itu masih murni. Asli dan pahit.” jawabku seadanya. Aku mulai menyesap cairan hitam pekat itu. Double espresso yang pahit, sekaligus manis, penuh sensasi, menghangatkan, dan memberikan kenyamanan. Andai ia tahu alasan yang sebenarnya. Ararya memberikan kepahitan itu sekaligus rasa manis yang terkecap buih demi buih. Ia yang memilih, bukan aku. Tapi tidak mungkin aku mengatakan hal sejujur ini kepada orang yang baru dikenal bukan?
“Aku pesan espresso juga, seperti kamu. Penasaran dengan sensasi-nya,” ujarnya. Matanya lurus menghunjam mataku.
“Sensasi?” tanyaku bingung.
“Melihat kamu datang ke sini, dengan keadaan seperti itu, aku nggak heran kamu pesan espresso. Bukan maksudku untuk ikut campur urusan kamu atau apa, tapi, kamu yang menggerakkan kaki ini untuk melangkah mendekat ke arahmu,” Javas tertawa kecil. 
“Bukan gayaku untuk tiba-tiba datang seperti penganggu dan berkenalan denganmu seperti remaja laki-laki yang sedang puber, tapi kamu begitu magnetis. Membuatku penasaran yang akan mati jika kubunuh sendiri dengan memesan espresso sama sepertimu, dan meminumnya dengan menatap wajahmu.” Kembali ia menyesap espressonya. Otakku sedang lambat diajak berpikir macam-macam. Dan sel-selnya menolak untuk menginterpretasikan makna ucapan Javas barusan.
“Maaf, tapi aku nggak mengerti,” kataku jujur.
“Ini masalah hati bukan?” tanyanya telak. Oh yang benar saja, baru saja aku berkenalan dengan orang ini dan ia sudah bertanya macam-macam kepadaku.
“Itu bukan urusanmu!” jawabku ketus. Ku arahkan wajahku ke taman mawar samping jendela. Enggan menatap lelaki ini.
“Memang bukan, tapi yang seperti aku ucapkan tadi. Kamu begitu magnetis. Menarikku ke dalam pusaranmu dan membuatku berkubang disitu. Kamu satu-satunya yang membuatku meninggalkan sofa yang selalu ku tempati saat aku mengunjungi cafe ini dan memilih duduk di sini. Jangan tanya apa alasannya, karena aku sendiri tidak mengetahuinya.” Ia menandaskan espressonya. Terdiam cukup lama. Aku sendiri anehnya tidak merasa terganggu dengan keberadaannya dan tidak ada niatan sedikitpun untuk mengenyahkan bayangannya dari hadapanku. 
Sejujurnya aku terpesona. Sedari awal ia mendekatiku mengajak berkenalan. Wajahnya dipahat indah oleh Sang Pencipta. Siapa yang tega menolak? Ia salah kalau menganggap aku begitu magnetis bagi dirinya. Karena sebenarnya ia sumber magnetnya. Menarik setiap pasang mata untuk terus menatap replika Dewa Yunani yang tekun memandangi wajahku dalam kosong katanya. Aku seharusnya sadar, semua di cafe ini memang tidak saling memperhatikan satu sama lain karena semua sibuk dengan dunianya masing-masing, tetapi ketika Javas beringsut dari tempat duduknya untuk memesankan espresso di counter, tidak ada sepasang matapun yang lewat tak menatapnya. Entah tatapan apa yang mereka lontarkan, antara heran sekaligus terpukau? 
***

Black Confetti (3)

Aku keluar dari kamar mandi, masih dengan handuk yang menggelung rambutku yang basah. Tadi aku mengambil sehelai t-shirt gombrong Rolling Stone dan celana piyama garis biru muda. Mungkin hanya aku satu-satunya —koreksi, hanya kami satu-satunya pasangan di dunia ini yang melewatkan malam pertama dengan baju tidur yang sama sekali tidak ada seksi-seksinya. Apa yang pria lihat dari seorang perempuan usia 20 tahun yang menggunakan t-shirt gombrong butut dan celana piyama? Jawabannya adalah tentu saja tidak ada. Dan ini sangat menguntungkanku tentunya, karena malam ini harus kuhabiskan dalam satu ruangan berdua saja dengan pria itu, yang aku takutkan kalau dia berani-berani menyentuhku.
Setelah kebaya beserta pernak-pernik pernikahan lain sudah ku taruh di tempat yang semestinya, aku beranjak naik ke atas kasur king-size itu. Rasanya damai sekali setelah seharian ini berdiri menyalami orang-orang, tersenyum dibuat-buat, dan berlaku sok mesra seperti istri-istri kebanyakan. Akhirnya, drama menjijikkan itu kuakhiri juga. Aku menarik selimut hingga ke dada, ku turunkan temperatur AC di kamar hingga minimum. Selalu menyukai momen seperti ini ketika suasana dingin mengusik, kau pasti punya sehelai selimut yang tetap menghangatkanmu bukan? Ini asyik, apalagi di dalam suite mahal yang seharusnya menjadi tempat-bikin-aku-jadi-ngidam-satu-bulan-ke depan. Tentu saja itu hal paling konyol yang pernah ku dengar. Usiaku baru 20 tahun, aku masih berstatus mahasiswi ekonomi di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Bogor, ngidam-ngidam apalagi punya anak masih jauh dari pikiranku saat ini.
Tempat tidurku bergoyang, refleks aku membuka mata, kaget sekaligus penasaran makhluk kurang ajar mana yang mengganggu istirahatku. Oh yeah, Mr. Bengis itu tidur tepat di sebelahku. Oh, tunggu, APAAAA!!!! Si Sadis tidur di sebelahku??
“AAAAAAAAAAAAA!!!!” sontak aku berteriak ketakutan sambil menarik selimut itu hingga ke dagu, mataku ku arahkan pada manusia yang berada tepat di sebelahku.
“SHUT UP!!! Berisik sekali kamu. Aku mau istirahat, bisa kalau nggak ada drama-drama dulu? Oh apa kamu mengharapkan ‘itu’?” tanyanya dengan wajah yang sukses membuatku ingin sekali menonjoknya saat itu juga.
“Kamu kenapa di tempat tidurku?! Turun!!!!” perintahku kalut. Tentu saja aku tidak bisa membiarkan manusia ini tidur di sebelahku dengan keadaan, keadaan seperti sekarang ini. Oke, aku masih menggunakan baju dan celana. Tapi dibalik itu semua? Ya Tuhaaan, aku mual membayangkan sewaktu-waktu aku tidur, selimut ini akan tersingkap, dan tubuh kami yang kian mendekat daaaaaaaaaaaan HOEKSSS!!
Pria itu menekuk wajahnya. Raut sebal 1000% jelas tercetak.
“Maksudmu aku harus tidur di sofa?” Pertanyaannya retoris.
“Gila! Kamu pikir aku apa sampai rela biarkan kamu menikmati kenyamanan ini sendiri dan aku yang harus mengalah demi perempuan liar seperti kamu?! Kalau kamu nggak suka aku tidur di sini, kamu saja yang turun. Tidur di sofa!!” bentaknya kasar. Pria ini memang brengsek, sangat brengsek. Makhluk macam apa yang aku nikahi ini ya Tuhaaan..
“Maksud kamu aku yang mengalah demi cowok tua kurang ajar yang seenaknya tidur di sini?!! Kamu lupa sama perjanjian kita?!” aku semakin merapatkan selimut itu ke tubuhku. Tidak sudi kalau sampai manusia gila ini melihat sesuatu yang bukan-bukan dari tubuhku.
“Cowok tua?!!” kata pria disampingku yang sedang menyarangkan mata cokelat bengisnya ke arahku. Ia gusar, tindakannya membuatku ketakutan. Ia menggeser tubuhnya yang kekar dan besar ke arahku. Oh yeah, bagus sekali Cassandra, kau membangunkan singa, oh bukan, raja singa kelaparan yang sedang tidur. Ia kini akan memakanmu dalam hitungan detik!
“Mau apaaaaa????” teriakku frustasi, masih memegangi selimutku erat-erat. Tuhan, tolong hambamu dari singa kelaparan yang kini menatap garang ke arahku dalam jarak tak sampai setengah meter ini. Oke, singa ini ternyata wangi juga, aroma rokok dan aftershavenya. AAAAHH hentikan pikiran tolol itu sekarang juga, Cassandra!!
“Sekarang, pilihan ada di tangan kamu. Terima tidur di sini bareng aku, atau kamu tidur di sofa, atau kamu boleh tidur di sini sendirian, tapi kamu…” pria itu semakin mendekatiku. Brengsek, brengsek, brengsek!!! Umpatku dalam hati, tentu saja.
“OKAY!! Aku yang tidur di sofa! Puas kamu?!! Cowok tua sadis yang hobinya nyiksa orang?!!” semburku tepat di depan wajahnya yang terlihat puas. 
“Terserah mulut kamu mau bicara apa, aku ngantuk. Dan cepet sana pindah ke sofa!” perintahnya. Ia kembali menjauh, pindah ke sisi satunya lagi. Sebenarnya ukuran tempat tidur ini sangat besar, terlalu besar jika ditempati sendirian. Tapi kalau akau harus satu tempat tidur dengan makhluk sadis ini, tempat tidur sebesar ini pun rasanya seperti kandang tikus.
Cepat-cepat aku turun dari tempat tidur, mengambil sesuatu dari koper, dan langsung melesat menuju kamar mandi.
Setidaknya aku harus melindungi aset-asetku saat sofa yang bakal menjadi teman tidur setiaku di suite ini. Ya setidaknya sampai besok pagi dan kembali ke rumah. Errr tunggu, RUMAH???!! Kepalaku berdenyut lagi.
***
Sinar matahari tak tahu diri menerobos saja ke arahku yang tertidur menyedihkan di atas sofa. Mr. Sadis itu rupanya tidak mengunci pintu balkon semalam, sehingga sinar matahari puas sekali menyinari wajahku. Pelan-pelan aku bangkit, sedikit pusing karena efek memikirkan rumah after we got marriedsemalam.
Ku lihat tempat tidur itu sedikit berantakan, singa itu nampaknya pergi entah kemana meninggalkan aku yang kesakitan akibat tidur di sofa. Singa jahat. Oh, memang ada singa baik?!
Ku lihat bayanganku di cermin. Cukup jelek. Oh shit, umurku yang 20 tahun terlihat lebih tua 15 tahun akibat sehari menikah dengan manusia singa itu. Oke, tenang Cassandra, ini tidak akan lama. Penderitaan ini akan segera berakhir.
Sesuatu di dalam perutku meronta, meminta jatah. Aku melirik jam wekker di nakas. Jelas saja matahari begitu terik karena ini sudah hampir jam sebelas siang. Waktu sarapan jelas-jelas sudah lewat, dan aku sangaaaat lapar sekarang! Manusia sadis itu bahkan tidak membangunkanku setidaknya untuk mengisi perut yang hampir 24 jam hanya kuisi dengan kue-kue kecil yang tugasnya hanya sebagai pengganjal.
Okay, mungkin aku tidak perlu membuang-buang waktu dengan memesan makanan terlebih dahulu, toh pada akhirnya aku akan pulang juga. Ya walau sebetulnya sayang sekali tidak menggunakan suite ini selama tiga hari, sesuai paket wedding yang dipilih kemarin.
Aku membereskan semua peralatanku dari make-up, baju-baju, lingerie cantik nan seksi yang terlihat memuakkan itu, dan kebaya yang aku gunakan kemarin. Harusnya langsung ku buang saja semua ini. Terlalu memorable, dan aku benci sekali dengan memori yang terkandung di dalamnya.
Lima menit kemudian aku sudah siap pulang, dengan koper di tangan kiriku dan kebaya cantik merah marun di tangan kanan. 
Oh yeah, aku baru ingat sesuatu.
Aku belum mandi. 
Kembali ku bongkar isi koperku.
***

Black Confetti (2)

Suite ini sebenarnya cukup untuk ditempati sepuluh orang. Tapi disini, hanya ada aku dan pria yang enggan menatapku semenjak acara tadi. Berdua dalam suite yang di desain seromantis mungkin untuk sebuah malam pertama. 
Pria itu berdiri memunggungiku, melepas jas formalnya, menarik dasi berwarna emas yang mengikat lehernya, dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Sementara aku, duduk di atas kasur king-size masih memakai kebaya, dengan rambut tercepol sempurna. Make-up ku pun tidak ada yang keluar jalur. Masih sama seperti jam-jam memuakkan sebelumnya. Pria itu melangkah dari tempat berdirinya, masih tidak melihatku, dan masuk ke dalam kamar mandi. Suara shower yang dikucurkan terdengar dari tempatku sekarang.
Pelan-pelan aku bangkit menuju meja rias. Peralatan make up-ku tersimpan rapi di sana. Tanganku menggapai cairan pembersih muka, menuangnya sedikit ke atas kapas lalu mulai menyapukannya ke seluruh wajahku yang kusut. Siapa yang bahagia? Jelas bukan aku atau pria yang ada di dalam kamar mandi saat ini. Kami berdua saling tak terima, menuduh kalau ada satu oknum diantara kami yang sengaja mengatur ini semua, dan bibit benci itu mulai tumbuh subur. Terlebih di mata cokelatnya yang seakan-akan ingin mengulitiku hidup-hidup.
Make up tebal yang setia melapisi wajahku sejak tadi pagi kini hilang sudah. Wajah kusut itu semakin terlihat jelas. Ingin rasanya aku berteriak dan menangis. Ini keterlaluan, pemaksaan, dan aku benci jika disudutkan! Aku di sini yang selalu tertuduh, oleh pria bermata sadis itu. 
Sesuatu bergetar di atas meja bundar di tengah ruangan. Berkedap-kedip tak sabar. Penasaran aku mengahampirinya. Handphone pria itu, dengan nama Sara tercetak jelas di sana. Sara Calling. Layarnya semakin berkedap-kedip tak sabar. Ingin aku membantingnya saat itu juga.
***
Pria itu keluar dari kamar mandi. Aroma aftershavenya menguar, memberi esensi menggelitik di indra penciumanku. Ya, setidaknya pilihan aromanya tidak membuatku mual tetapi agak sedikit pusing, tetapi bukan jenis pusing penyakit, melihatnya keluar dengan rambut basah sehabis keramas dan kaos oblong putih dan celana pendek.
Aku mulai menyisiri rambut kusutku perlahan-lahan. Terlalu lama dalam balutan hair-spray membuat rambutku kusut seperti jala. Masih menatap cermin di hadapanku, melihat lewat sana, pria itu mengambil handphonenya yang sejak tiga puluh menit tadi terus bergetar dan berkedap-kedip -ingin ku banting-. Menyentuh layarnya dan menempelkan benda itu ke telinganya. Masih tak menyadari atau berpura-pura tak menyadari keberadaanku.
Air mukanya yang bengis hilang, berganti menjadi sesosok pria manis yang terlihat menyebalkan -di mataku-. Suaranya begitu halus terdengar. Cinta itu masih ada, tentu saja, bodoh!! terlihat jelas dari gerakan tubuhnya dan nada suaranya yang semakin terdengar sangat kasmaran. 
“Ya, Sara. Aku minta maaf, tadi aku mandi.”
Oh ya, si bodoh sadis itu memang sedang mandi Sara.
“Oh aku mandi sendiri, nggak akan mungkin aku mau, Sayang,” ia tertawa.
Brengsek, pasti Sara bertanya apa ia mandi bersamaku atau tidak. Tentu saja ITU TIDAK AKAN PERNAH BODOH!!! 
Aku menyikat rambutku sambil bernafsu. Marah.
“Maaf Sayang, Mama Papa pasti mengawasi aku, jadi nggak mungkin kalau aku menemuimu malam ini. Aku janji besok, Sayang. Bersabar ya,” katanya penuh cinta. 
“Kamu tenang aja Sara, ini akan segera berakhir. Setelah itu, aku akan selalu ada di dekatmu. Nggak akan kemana-mana.” Senyumnya terburai lagi.
“Iya Sara, I love you too. I do,”
Pria itu menyimpan kembali handphonenya. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku dari cermin dan mulai sibuk menyikat rambutku yang sudah mulai terlihat normal.
“Kamu lihatin aku terus?!” tanyanya galak. Oh tidaaak, ternyata dia juga memperhatikanku tadi.
“Oh ya? Geer banget kamu!” sungutku tak mau kalah dengan kegalakannya. 
“Aku belum buta untuk tidak melihat kamu dengan pose muka menyebalkanmu itu ketika kamu melihat aku menelepon tadi,” kali ini pria itu menatapku. Bengis dan benci. Ya apalagi? Memangnya aku mengaharapkan pria itu menatapku penuh cinta seperti ketika ia menelepon tadi? OH YANG BENAR SAJA!!
“Aku sibuk beresin rambut dari cepolan sialan itu, jadi buang tuh khayalan kamu. Kayak aku sudi aja mau memperhatikanmu!” balasku tak kalah bengis. Memangnya dia saja yang bisa ber-bengis-bengis ria terhadapku? AKU JUGA BISA, asal kau tahu saja wahai Mr. Bengis nan sadis.
“Nggak ada gunanya aku bicara hal ini sama kamu. Buang-buang waktu!” Pria itu ke luar, menuju balkon. Mengeluarkan sebatang rokok putih dari dalam kantong celana pendeknya dan menyalakan api. Ia menghirup batang kanker itu dalam-dalam.
Aku beringsut dari kursi di meja rias. Mengambil handuk dan beberapa pakaian normal dari sejuta lingerie yang disiapkan orang tua kami di dalam koper. Lebih baik aku bakar saja lingerie ini nanti daripada membuatku semakin mual. Kakiku melangkah ke kamar mandi, bekas pakai pria itu. Ku nyalakan air hangat dalam bath tub, menunggunya sampai setengah terisi, menuangkan sabun ke dalamnya, menyalakan aroma terapi. Enyah saja aroma aftershave yang membuat kepalaku pusing.
***

Lari (3)

“Pulang?” tanyanya seolah tidak percaya. Hembusan angin malam semakin membuatku kedinginan.
“Iya, pulang ke kehidupanku sebelum aku ketemu kamu,” jawabku masih menatap Coffee Shop yang kian ramai. Orang hilir mudik ke luar dan masuk tempat itu. Masing-masing memegang gelas kertas yang ditengahnya terdapat logo Coffee Shop tersebut. Ada kehangatan yang ditawarkan di sana. Setidaknya itu pilihan terbaik saat ini.
“Maksud kamu? Aku semakin nggak ngerti Al..”
“Aku udah bilang Ar, kalau hubungan ini salah. Kita sama-sama salah. Aku cuma nggak ingin memperburuk keadaan. Kasihan Rose,” ucapku pilu. Bagaimana tidak? Aku menyebut namanya. Nama wanita yang menghantui pikiranku dua tahun ini. Seorang wanita cantik yang ku kenal dekat, bahkan sempat bersahabat, sebelum dia mengetahui segalanya. Sebelum segalanya menjadi hancur berantakan.
Pria di depanku terdiam. Genggamannya semakin melonggar kemudian melepaskannya dengan hati-hati. Hanya mendengar namanya saja ia beringsut. Menjauh sedikit dari hadapanku. Aku beranikan untuk menatap wajahnya yang ternyata pemilik wajah ini tak lagi menatapku seperti tadi. Ada sinar ketakutan, kebingungan, sekaligus kerinduan di sana. Lihat Ar, masih ada rindu itu di matamu. Masih ada. 
Aku capek Ar, capek dengan semua ini. Kamu tahu Ar, bukan hanya Rose yang harus aku hadapi, tapi mungkin juga keluarganya. Aku ingin mengehentikan ini,” sambungku. Teriris sendiri oleh kata-kata yang ku lontarkan barusan.
“Aku cinta kamu, Alila.. Sungguh..”
Kata-kata itu hangat, menyentuh relungku yang mulai terkikis satu persatu. Kembali ia menyeruak, meminta sedikit celah agar bisa masuk ke dalam, membuat satu harapan baru setelah yang lama hancur terkoyak.
“Tapi kamu juga cinta dengan Rose,”
Hanya itu yang mampu ku ucapkan. Sangat berat. Dadaku kembali sesak hebat. Air mataku tumpah saat itu juga.
Pria itu kini balas menatapku, wajahnya penuh kebimbangan, frustasi. Ingin rasanya aku memeluk dan mengusap puncak kepalanya seperti yang sering aku lakukan dua tahun ini. Saat malam mulai menguasai, saat itu juga ia berada dalam kehidupanku seutuhnya. Tapi hal itu tak dapat aku lakukan. Badan ini terlalu lemah untuk melangkah dan egoku lebih besar untuk berkata,Jangan!
“Aku nggak cinta dia Al,” ujarnya seperti tercekik.
“Kamu cinta dia Ar, semenjak kamu menutupi semua kegiatan kamu dengan dirinya dari aku, semenjak kamu yang lebih sering sibuk dengan telepon genggam kamu, semenjak kamu yang sering tertawa, melamun sendiri di balkon apartemen kita, semenjak kamu nggak pernah lagi meluk aku dari belakang seperti yang kamu biasa lakukan, semenjak kamu mulai milih-milih model rumah impian kamu, semenjak kamu berkhayal jadi ayah, semenjak kamu bercita-cita untuk punya anak perempuan, semenjak kamu….”
“STOP!! Alila, please STOP IT!!! Aku nggak mau dengar itu lagi!” bentaknya sempat membuatku terperangah. Aku tersenyum atau lebih tepatnya dikatakan menyeringai, tampak seram dengan air mata yang tak henti turun demi menemukan muaranya sendiri.
“Aku salah Ar? Bilang kalau aku salah?!!” kataku dengan nada yang kunaikkan sedikit. Pria di depanku terpaku. Wajahnya tiba-tiba menjadi sangat abstrak.
“Untuk apa kamu pertahankan ini semua kalau akhirnya kamu juga yang akan meninggalkan? Untuk apa kamu susah-susah kejar aku kalau kamu juga yang akan berlari? Untuk apa kamu bilang cinta kalau rasa itu sendiri sudah memudar?” sambungku lagi diselingi tangisan yang semakin membuat asaku seakan-akan akan mati secara perlahan. Sakit.
Aku menunduk. Menutupi wajah dengan kedua tangan. Kakiku seperti agar-agar yang tak mampu lagi menopang berat tubuhku. Aku berjongkok, masih menutupi wajah dengan kedua tangan. Masih menangis. Masih berharap kalau pria yang berdiri di hadapanku ini akan menyangkal semua perkataanku.

Black Confetti

Suara gelas saling berdenting. Tawa bahagia terdengar dari penjuru arah. Wangi bebungaan segar menguar dari tiap sudut ruangan. Wanita-wanita separuh baya haha-hihi di dekat-dekat stand makanan, mungkin ketakutan kalau tidak bisa mencicipi salah satu ataupun semua makanan lezat yang dihidangkan. Tanganku serasa kebas, tak henti menyambut uluran tangan pertanda ucapan selamat, atau memeluk siapapun yang mengangsurkan tubuhnya. 
Confetti bertebaran. Botol-botol sampanye siap untuk diteguk habis, terkadang mereka yang iseng mengocoknya terlebih dahulu dan membiarkannya terlepas ke udara membasahi sekitarnya. Karpet merah yang digelar penuh oleh taburan mawar merah. Semua bahagia. Gembira.
Kecuali aku. Dan mungkin, pria di sebelahku.
Wajahnya dingin sedingin es, ia jarang berbicara. Mungkin enggan berbicara dengan wanita sepertiku. Siapa aku ini sampai aku bisa berdiri bersisian dengan dirinya? Ia yang tampak memukau dengan jas broken white-nya yang elegan?
Aku hanyalah gadis sederhana, yang kebetulan berdiri dengan kebaya rancangan Anne Avantie yang melekat ditubuhku dan akan berganti warna dan model setiap tiga jam sekali. Toh setelah itu, aku kembali lagi menjadi gadis sederhana yang hanya mengandalkan t-shirt dan celana jeans lusuh, teman setia sepanjang hariku. Sementara dia, pria ini, selalu tampil tanpa cela. From head to toe. Semuanya harus serba perfect. Siapa aku ini sehingga aku harus hidup dengannya setelah hari ini?
Aku beranikan menatap wajahnya. Rahangnya mengeras, mungkin sadar kalau ia diperhatikan. Lihat, pria di sebelahku ini, belum aku menyentuhnya dan mengajaknya berbicara reaksinya sebegini antipatinya. Aku semakin merasa rendah diri.
Seseorang mengucapkan selamat, tubuhnya hangat. Aroma honeysuckle menjadi ciri khas wanita ini. Ia tersenyum, kemudian dengan suara berbisik mengatakan kalimat ini. Aku tidak melihat reaksi pria di sampingku, tapi dapat kupastikan ia membuang muka dan semakin membenci ritual ini. 
Bulan depan, Tante mau denger kamu ngidam dong
Kalimat normal, untuk pasangan yang sedang berbahagia. Tapi bukan untukku, maupun pria di sampingku.
“Kamu nggak seharusnya bersikap seperti itu”
“Sikap mana maksud kamu?”
“Memalingkan muka ketika Tante Vony mengajak kita berbicara, apa kamu anggap itu sopan?”
“Aku nggak suka apa yang dia bicarakan. Mungkin lain dengan kamu yang bahagia dan berharap itu menjadi kenyataan, tapi sayang, impian kamu nggak akan pernah bisa jadi kenyataan.
Aku terdiam. Sebegitukahnya aku di hadapan pria ini? Jelas-jelas ia menghinaku dengan kata-katanya. Bibirku bergetar menahan agar air mataku tidak turun. Nafasku tertinggal, masih jauh, belum membaur dengan duniaku.
“Bukan maksudku untuk mengiyakan permintaan Tante Vony. Terserah kamulah bagaimana. Kamu anggap aku apa aja terserah kamu. Toh kalau aku beri penjelasan hasilnya akan tetap sama-sama saja.”
“Kamu anggap aku bahagia karena bisa mendapatkan kamu dan merebutmu dari Sara?”
“Jawabannya adalah aku tidak pernah bahagia. Dengan ini, dengan hari kemarin, dan aku merasa bodoh karena mngizinkan pria yang tidak mencintaiku untuk menjadi suamiku.”
“Aku harap kamu bisa hilangkan tatapan merendahkan kamu itu terhadap aku.”
“Kalau kamu nggak bisa, kamu nggak perlu menatap aku.”
Dan didetik berikutnya, ia semakin menggeser, menjauh, seperti aku ini virus berbahaya yang hanya dengan berdekatan saja orang didekatku dapat terjangkit sejuta macam penyakit. Ini keterlaluan. Penghinaan.

Setelah Kau



ingatkah kau saat hening itu membius bibirmu?
setelah kau menatapnya penuh cinta, membuatmu merona
setelah kau membawakan tasnya dan menuntunnya lembut
setelah kau tertawa bersamanya tak peduli sekitarmu
setelah kau berbagi tempat duduk yang sempit demi dapat bersama
setelah kau memeluknya malu-malu dengan sebelah tangan
setelah kau menggodanya lewat rayuanmu, yang tak tahu apa itu tulus atau palsu
setelah kau menghabiskan sisa minggumu menemaninya membaca buku
setelah kau membawanya membelah jingga dengan sepeda oranyemu
setelah kau berhasil menumbuhkan merah muda dibalik kulitnya
setelah kau memaksanya menaiki Rinjani dan tertawa lepas di puncaknya yang agung
setelah kau berkeluh kesah yang ia balas dengan sebuah pelukan
setelah kau merasa letih tapi masih mampu membuatmu bersemangat ketika melihat senyumnya
ini terlalu sakit
terlalu berat pikulan di bahuku saat ini
boleh aku melambai dan berkata aku tidak sanggup lagi untuk melihat
realitanya
karena aku akan selalu mengingat
sebelumnya aku.

Lari (2)

Aku menatap wajahnya yang kuyu. Malam ini cuaca cenderung dingin, anginnya semilir menusuk kulit.Tapi peluhnya tak berhenti menetes. Aku tahu, dia sama capeknya sepertiku. Aku sangat tahu.
“Aku minta maaf..” ulangnya lagi dengan tatapan paling sendu yang baru sekali ini ku lihat sejak dua tahun kebersamaan kami. Aku masih menatap wajahnya. Kali ini dengan air mata yang menetes. Bukan hal mudah untuk menatap wajahnya dan berpura-pura menjadi sok tegar setelah apa yang terjadi pada kami.
“Aku maafin” kataku dengan suara parau. Entah setan apa yang merasuki sehingga bisa-bisanya aku berbicara seperti itu. Ia mendongak, menatap mataku lurus-lurus. “Aku tahu kamu bohong” katanya. Ya, aku memang bohong. Ingin rasanya aku berlari menjauh, menghilang dari kehidupanku yang sekarang dan melupakan pria dihadapanku ini, tapi aku terlalu lelah. Aku sudah terlalu letih untuk berlari.
“Aku harap kamu mau bicara Al, atau melakukan apapun. Kamu boleh tampar aku, tendang aku, teriak, pukul aku, kamu boleh melakukan apapun Al..” suaranya lagi. Kali ini dia menggenggam tanganku.
Aku tetap bergeming. Menamparmu? Meneriakimu? Meemukulmu? Membayangkannya saja aku tak sanggup. Aku terlalu mencintaimu, sampai detik ini.
“Aku memaafkanmu. Jadi, aku anggap ini selesai. Kamu bisa pulang,” kataku akhirnya setelah diam yang cukup lama. Kali ini aku tak menatap wajahnya. Aku menatap Coffee Shop sederhana yang seakan memanggilku untuk bertandang ke sana. Lampunya masih temaram, tapi yang aneh, suasananya kini ramai. Sang barista tidak ada lagi di tempat ketika awal aku melihatnya. Ku rasakan genggaman tangannya semakin menguat ditanganku. Aku tahu, dia tidak terima. Aku tahu dalam hatinya pasti bergolak.
“Pulang? Katamu aku bisa pulang?!! Kamu nggak mikirin perasaanku Al? Kamu nggak mikirin tersiksanya aku tanpa kamu? Kamu anggap aku apa dua tahun ini Al…”
“Dari awal, hubungan ini salah. Kamu tahu itu. Aku cuman ingin pulang. Aku ingin kembali. Mulai dari awal.”

Lari (1)

“Al! Tunggu!!”
Seseorang meneriaki namaku dari belakang. Ku putuskan untuk tidak menoleh. Aku tahu siapa orang yang masih berani memanggil namaku setelah kejadian kemarin yang diperparah dengan kejadian sore ini. Aku tahu kalau orang itu juga yang telah membuat bibirku menjadi kelu, hatiku kebas, dan kakiku mmelangkah lamban padahal otakku menyuruhnya untuk bergegas.
“Al!! Tunggu aku!!!” kata suara itu lagi. Ku putuskan untuk terus melangkah, setengah berlari malah. Aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya. Aku takut. Terlalu takut. Langkahku semakin panjang dan cepat. Sengaja ingin menciptakan jarak sejauh-jauhnya dengan pemilik suara bariton itu.
Samar ku dengar langkah kaki yang berlari di belakang. Aku tahu, dia tak akan menyerah begitu saja. Jantungku mulai berdetak tak karuan, nafasku sudah mulai tipis-tipis. Ingin ku akhiri saja adegan kejar mengejar ala film India seperti ini dan menoleh ke belakang. Menatap wajahnya. Hah!! Pikiranku tercampur aduk kali ini. Menatap wajahnya sama dengan mengaku kalah. Aku benci itu.
Aku tak punya pilihan lain selain berlari. Menyusuri lorong gedung tua yang kini mulai sepi karena matahari menepati janjinya untuk menghilang dan memberikan kesempatan kepada bulan untuk menampakkan diri. Napasku tinggal satu-satu. Peluhku tak berhenti menetes, ia membasahi kemeja kelonggaran warna broken white yang ku pakai. Bahkan ini adalah kemejanya. Kemeja pemilik suara bariton yang selama dua tahun ini menemani setiap malamku yang sepi rindu. Bukan peluh saja yang menetes, tetapi air mata ini juga tak kuasa untuk ku bendung. Tak perduli bagaimana tatapan orang-orang yang memandangiku heran dengan wajah merah seperti udang rebus, dan rambut kusut masai seperti habis terkena topan, aku terus berlari sampai aku menemukan taksi. Setidaknya, dengan angkutan itulah aku dapat ke luar dari tempat ini dan pulang.
“ALILA!!!!!” suara teriakan bariton itu semakin dekat terdengar. Aku mulai kewalahan. Ritme berlariku mulai turun sedikit, napasku masih satu-satu. Dadaku makin terasa sakit. Dua kali.
Aku berbelok ke arah kiri di sudut jalan. Berharap menemukan kendaraan apapun yang dapat membuatku pergi dari tempat ini. Berharap membawaku pergi dari situasi tidak mengenakkan ini. Berharap membawaku pergi dari pemilik suara bariton yang terus menganggu indra pendengaranku tiga puluh menit terakhir. Sampai pada akhirnya aku menyerah. Kakiku lecet beradarah, rambutku semakin kusut, wajahku, kupastikan sangat tidak enak dilihat. Walau sejak ku berbelok barusan, tidak ada seorangpun yang terlihat berjalan di trotoar. Ya, malam mulai menampakkan taringnya, dan aku merasa sendirian. 
Kakiku terhenti di depan sebuah Coffee Shop yang nampaknya tidak mempunyai daya tarik sama sekali untuk membuat orang-orang sudi untuk menginjakkan kakinya di situ. Lampunya remang-remang, bangunannya didominasi warna-warna pastel yang tidak mencolok. Dari jarak sepuluh meter seperti ini, dapat ku lihat seorang barista yang duduk lesu di belakang konternya. Sendirian.
Ku paksakan kaki ini untuk mulai melangkah kembali. Setidak-tidaknya hanya untuk sampai di Coffee Shop sederhana itu. Dilangkah yang kedua, kurasakan seseorang memegang lenganku. Nafasnya sama satu-satu. Sengaja aku memalingkan wajah. Aku takut. Terlalu takut untuk kalah.
“Aku mohon Alila…” pintanya. Suaranya begitu lirih. Nyaris tak terdengar jika dia tidak membisikkannya ditelingaku. Nafasnya menyentuh wajahku, membuat air mataku tumpah lagi. Bayangan kejadian tadi sore kembali berkelebat di kepalaku. 
“Aku minta maaf…” lirihnya membuatku sanggup untuk menatap wajahnya. Aku mengaku kalah.