Selasa, 30 Oktober 2012

Lantai Sembilan

         "Tapi kamu ngerti kan, itu nggak gampang? Apalagi sekarang, dia udah jadi bawahanku langsung. Aku nggak bisa secara frontal nyuekin dia atau gimana." Adjie menatapku.
          "But, please, try, Ji, for me. Please."
           Adjie akhirnya mengangguk. "Anything for you, Dre."
        "Aku menyentuh pipinya. "Kamu makin panas nih, Ji. Kita pulang aja ya, makan, terus kamu minum obat, biar kamu setelah itu langsung balik ke rumah dan istirahat."
        Adjie mengiyakan kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia menggenggam tanganku sepanjang perjalanan kami menuju lift yang akan membawa kami ke basement, tempat mobil Adjie diparkir.
            Ting!!
Pintu lift terbuka. Kosong melompong, tentu saja, karena saat ini sudah lewat dari jam normal pulang kantor. Tangan Adjie masih menggenggamku. Lembab dan berkeringat. Kulihat wajahnya yang kini pucat seperti kapas. 
          "Ji." Aku memanggilnya. Ia menoleh ke arahku, pandangannya seperti tak bernyawa, hampa. Apa ini semua karena percakapan kami di kantorku tadi? Aku mengerti kalau dia sedang sakit, tapi kali ini ia sangat berbeda. Seperti bukan Adjie yang biasanya, kali ini dia sangat pendiam.
         Tiba-tiba pintu lift terbuka tepat di lantai sembilan. Pandanganku terarah ke depan, menunggu orang lain yang menekan lift ini masuk. Namun beberapa detik berlalu tak ada seorang pun muncul. Keringat dingin mulai membasahi pelipisku.
          "Ji, nggak ada orang.." bisikku pada Adjie yang kini memejamkan matanya dan kurasakan genggaman tangannya padaku menjadi lebih dingin. Entah ini akibat AC atau suhu tubuh Adjie yang naik turun akibat demam. Aku melepaskan tangannya perlahan, berjalan ke depan dan mencoba menekan tombol untuk menutup lift cepat-cepat karena perasaanku sudah mulai tak enak. Begitu pintu lift tertutup dan aku berbalik untuk menghampiri Adjie, jantungku rasanya mencelos ke lantai.
      Ada seorang wanita cantik yang berdiri di sebelah Adjie, matanya fokus menatap Adjie yang nampaknya tidak sadar kalau wanita itu memperhatikannya dengan seksama. Rambutnya panjang sepunggung, tingginya kurang lebih sama denganku, dan wajahnya pucat. Aku berdiri terpaku, tak sanggup untuk berbicara. Dadaku rasanya seperti dihantam berton-ton batu sehingga aku merasa sesak napas. Ingin rasanya untuk teriak dan keluar dari lift ini cepat-cepat namun tubuhku tak sanggup untuk ku gerakkan. Dan wangi kamboja pun menguar. Memenuhi udara di dalam lift ini bercampur dengan karbon dioksida dan ketakutanku. Wanita itu mengangkat tangannya, memperlihatkan kuku-kuku kotornya yang panjang dan mulai menyentuh wajah Adjie yang masih memejamkan matanya. Matanya kini menatapku tajam sementara tangannya tak berhenti membelai, menyentuh wajah Adjie.
            Aku masih berusaha untuk berbicara dan bergerak, namun seluruh syaraf di tubuhku seakan lumpuh. Otakku hanya bisa mencerna tatapan wanita itu terhadapku lewat matanya yang kini berubah warna. Merah! 
Lift masih terus berjalan tanpa aku tahu sudah di lantai berapa kami sekarang. Ketakutanku semakin membesar dan diriku rasanya tercengkram oleh tatapan dan matanya yang menyeramkan, namun entah kekuatan dari mana yang mampir dalam diriku sehingga aku dapat berbicara. 
       "H-hentikan m-menyentuh Adjie!!" suaraku mirip desisan namun aku tahu bahwa wanita itu bisa mendengarku. Ia menjatuhkan kedua tangannya dari wajah Adjie dan berjalan mendekatiku. Langkahnya seperti terpaan angin, halus dan tak berbekas. Aku mengerti bagaimana wanita ini masuk ke dalam lift tadi saat aku mengira tak ada siapapun di lantai sembilan. Matanya terus mengawasiku, masih berwarna merah, sarat akan kebencian sekaligus kesakitan. Tiba-tiba ia menunduk, menjauh dariku dan mendekat ke arah Adjie yang tak kunjung membuka matanya, diam tak bergerak. Susah payah aku menggerakkan kakiku untuk menjauhkan Adjie dari wanita itu namun lagi-lagi kakiku seperti terkunci. Ia tertawa, menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga. Tawanya panjang namun lambat laun berubah menjadi tangisan. Wanita itu merintih, seperti pedih tangisannya. Kemudian terdengar suara bersenandung. Sebuah lagu yang familier di telingaku. 

Lingsir wengi
Sepi durong bisa nendro
Kagodo mring wewayang kan ngreridu ati

Kawitane mung sembrono njur kulino
Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno

Nanging duh tibane
Aku dhewe kang nemahi
Nandang bronto kadung loro
Sambat sambat sapa...

Aku terhenyak. Lagu itu bukan lagi terasa familier, dia seperti memiliki nyawa tersendiri. Ku lihat Adjie yang kini membuka matanya memasang wajah ngeri ke arahku. 
"K-kamu nyanyi apa Andrea?" tanyanya ketakutan. Aku membeku. 
Nyanyian itu keluar dari bibirku.

***

note: cerita di-spin dari novel A Very Yuppy Wedding by Ika Natassa (hlm: 149)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar