Selasa, 18 September 2012

Seperti Anak-Anak Tanpa Alas Kaki


Hujan mulai turun satu-satu membasahi bumi. Wangi dedaunan yang tersapu oleh air membaui indra penciuman. Tanah mulai basah, menimbulkan wanginya tersendiri yang unik. Burung-burung pun berpulang, mencari tempat untuk berteduh atau kembali ke sarangnya sementara matahari yang biasanya muncul dengan sepenuh sinarnya yang terkadang membuat silau, tenggelam sedari tadi sebelum sempat untuk bersinar. Awan kelabu menggantung sejak pagi. Semuanya sama, saling menemukan tempat untuk kembali ke asal.
Aku menikmati keadaan ini. Melihat jalanan yang diguyur hujan yang mulai lebat. Orang-orang silih berlarian demi menghindari air yang akan membuatnya kuyup. Anak-anak kecil tanpa alas kaki saling berlarian, sesekali kepalanya menengadah ke langit, tersenyum, kemudian tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang lucu. Mobil-mobil melaju cepat, menimbulkan sensasi tersendiri ketika ia melewati genangan air dan anak-anak tanpa alas kaki tadi berdiri bahagia dipinggirnya. Terciprat. Membuatnya tambah kuyup. Mereka tertawa lagi. Betapa bahagia itu sederhana. Dengan kondisi itu saja sudah mencetak tawa bagi mereka.
Anak-anak tanpa alas kaki itu masih saling berkejaran sementara air memukuli punggung mereka tanpa ampun. Kemudian tiba-tiba rombongan yang berlarian itu berdiri tertib di pinggir jalan. Menunggu sebuah sedan perak dari kejauhan yang akan melewati genangan. Sekali lagi, mereka terkena cipratannya. Sekali lagi tawa itu meluncur keluar dari bibir-bibir mereka yang kelu dan tak perduli gigi-gigi yang saling bergemeletuk pertanda ada dingin yang menyergap tubuhnya. Kemudian mereka berlarian lagi, saling berkejaran, saling melempar apapun yang ada di pinggir jalan. Ranting-ranting pohon mahoni, daun-daunnya yang jatuh karena usia, atau bebungaan liar yang sengaja dipetik lalu dilemparkannya satu sama lain. Kemudian, mereka tertawa lagi. Betapa bahagia itu sederhana.
Tawa mereka yang berderai lepas itu lamat-lamat mulai menghilang. Kecipak air akibat gerakan kaki-kaki mereka yang lincah sudah tak terdengar. Hujan, masih saja tetap sama. Aku juga masih sama. Duduk di tepi jendela. Memandang nanar ke arah jalan yang sudah mulai sepi dan memandang langit yang mulai menghitam. Lampu-lampu mulai dinyalakan, membuat air yang turun terlihat istimewa kala ia menerobos lampu-lampu itu. Wangi daun dan tanah perlahan-lahan mulai berganti menjadi wangi air. 
Aku masih memandang jalanan. Genangannya semakin besar, membuat suatu semburan yang sanggup membasahi badan hingga ke dalam-dalamnya. Tapi tepi jalan itu kini lengang, kosong. Anak-anak tanpa alas kaki itu pergi. Tawanya tak terdengar lagi. Aku bangkit dari tempat dudukku kemudian membuka pintu kaca yang terletak persis di hadapan.
Aku menarik nafas, mencoba meyakinkan keputusan ini benar. Dua stiletto yang sedari tadi membalut kaki sudah kutanggalkan semenjak tadi. Kaki mulai menjajak tanah, setapak demi setapak. Merasakan aliran air yang menggelitikku. Merasakan sensasinya ketika ia mulai membasahi tubuhku. Langkah kaki mulai ku percepat sedikit. Ada tawa yang tersembur ketika akan melakukan hal ini. Ada senyum yang tak dapat kubendung. Aku mulai berdiri di pinggir jalan. Menunggu sebuah mobil yang akan menyembur tubuhku dan membayangkan sensasi luar biasa ketika pukulan air menyentuh kulitku. 
Hujan masih deras. Aku bersiap, berdiri tertib seperti anak-anak tanpa alas kaki tadi. Menyambut sebuah mobil sedan hitam yang mulai mendekati. 



Ditulis di Bogor, 8 Juni 2012
8.00 PM

Senin, 17 September 2012

Satu Segitiga

Amanda tahu bahwa ia salah.
Ia berbohong pada perasaannya, pada hatinya sendiri.
Ia membiarkan keegoisan itu menguasai dirinya.
Agar terlihat kuat dibalik kerapuhannya.
Ia kosong seperti kepompong saat kupu-kupu cantik meninggalkannya. 
Ia tertawa namun dalam hati meringis menghadapi kenyataannya. 
Amanda tahu bahwa ia salah menilainya.

***

Hujan di pagi hari memang membuat kebanyakan orang menggerutu kesal. Banyak aktivitas yang terganggu karenanya. Belum jalanan yang becek dan licin yang bisa membahayakan siapapun yang melangkah di atasnya. Halte-halte bus yang biasa kosong kini penuh dengan manusia-manusia yang berteduh. Pedestrian yang biasa ramai oleh pejalan kaki kalah ramai oleh anak kecil yang sibuk berlarian menawarkan payung besar warna-warni yang khusus dikeluarkan kalau hari sedang hujan.

Amanda berlari sambil mendekap erat map coklat di dadanya. Takut kalau sampai air hujan membasahi berkas-berkas  itu dan bisa gagal kerjaannya hari ini. Ia kerepotan. Tangan kanannya sibuk memegang payung, sementara lengan kirinya mendekap erat map coklat tadi, dan ada paper cup berisi cokelat panas yang baru saja di belinya di kedai kopi dekat halte yang ia pegang dengan tangan kirinya. "Bodoh! Kenapa harus beli cokelat ini sih, nambah repot aja!!" batinnya kesal

Hujan turun bertambah deras, tubuhnya pun semakin sulit terlindungi payungnya yang berukuran kecil. Ia merasa semakin risih dengan kondisinya sekarang. Gerbang kampus sudah berhasil dilewatinya. Untungnya saja ruang senat yang terletak di tengah-tengah gedung fakultas tinggal beberapa meter lagi. Kecepatan larinya ia turunkan sedikit. Map cokelat itu masih aman dalam dekapannya. 

***

Seseorang menyambutnya dengan senyum mengembang. Ia menerima map cokelat yang diberikan Amanda, sementara Amanda sibuk dengan payung dan bajunya yang setengah basah. Perempuan berkaca mata yang tadi menerima map itu tertawa, menertawakan keadaan Amanda yang biasanya tampil perfect from head to toe namun sekarang hancur total. Rambut ikal seksi yang selama ini diagung-agungkannya lepek sudah. Wajahnya basah oleh cipratan air hujan. Kemeja pas badannya melekat sempurna membungkus tubuhnya. Sial. Sungguh hari sial! Pekik Amanda tertahan.

"Udah, jangan cemberut dong Man. Kamu ganti baju dulu sana, kebetulan Fania bawa baju ganti tuh," ujar seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan Amanda. Lelaki itu tersenyum. Amanda yang sedang sibuk mengeringkan tubuhnya pun kaku seketika. Amanda menyadari bahwa ekspresi wajahnya pasti terlihat seperti orang tolol sekarang.

"Man? Hei! Kok bengong?" tanyanya itu sambil menjentikkan jari di depan wajah Amanda yang terlihat kosong. Ia tersadar kemudian menegakkan wajahnya dan menatap lelaki itu. Ada gemuruh yang bergejolak dalam dadanya. Ia menyadari itu.

"Cepet Man ganti pakai baju gue nih, sekalian ada yang mau gue ceritain!!" teriak Fania dari sudut ruangan.

"Kok Fania bisa bawa baju ganti Ka?" tanyanya pada Kafka, lelaki itu, tak menghiraukan teriakan Fania barusan. Kenapa Kafka bisa tahu kalo Fania bawa baju ganti? Kenapa? Apa yang sudah mereka bicarakan selama aku kehujanan gara-gara map coklat itu?!! Lagi-lagi Amanda membatin kesal.

"Tadi Fania cerita kalau hari ini ada jadwal Taekwondo, jadi dia bawa baju ganti. Tapi gara-gara hujan, ya nggak jadi. Udah, jangan kebanyakan nanya, kamu ganti baju aja sana."

Amanda berjalan pelan meninggalkan Kafka yang kini ikut berjalan di belakangnya. Niatnya mau menemui Fania yang sibuk dengan berkas-berkas dalam map coklat itu, tetapi suara Kafka yang memanggil namanya, menghentikan langkah kaki Amanda yang sebentar lagi sampai di tempat Fania. Fania sampai ikut menoleh akibat suara Kafka yang lumayan keras. Amanda berbalik, menghadap Kafka.

"Hot chocolate kamu, boleh aku minta?"

***

Amanda mengganti bajunya di dalam kamar mandi ruang senat. Ia mengambil handuk kecil bersih yang dibawa Fania untuk latihan Taekwondo dan menggunakannya untuk mengeringkan rambut ikal seksinya yang sedikit basah. Pikirannya sedikit kacau. Seminggu belakangan ini ada yang aneh dengan sahabat-sahabatnya. Antara dia, Fania, dan Kafka. Biasanya dia hafal benar jadwal kegiatan dua sahabatnya, dari mulai jadwal kuliah, jadwal makan siang, jadwal ikut kegiatan ekstrakurikuler selain senat, bahkan jadwal tidur mereka pun ia hafal. Tapi kenapa hari ini begitu aneh? Begitu berbeda seakan-akan ia orang luar yang baru mengenal Fania dan Kafka. 

Ketika Amanda masuk dalam organisasi paling bergengsi satu fakultas ini, ia tidak mengenal siapapun. Teman-teman satu jurusan lebih memilih untuk bergabung dengan himpunan profesi yang dimiliki jurusannya daripada sibuk mengurusi kegiatan satu fakultas. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Fania dan menjalin persahabatan dengan cewek cantik berkaca mata itu. Kemudian Kafka datang, menawarkan persahabatan lain yang selama ini Amanda belum pernah merasakannya. Jadilah mereka bertiga, satu segitiga yang tak menjalin cinta sampai tepat dua bulan lalu. Amanda merasakan perasaannya terhadap Kafka yang mulai berubah. Kafka begitu baik, begitu pengertian, mau membantu apa saja demi Amanda yang saat itu kelimpungan sebagai koordinator PDD Dies Natalis fakultas mereka. Kafka senang hati membantunya membuat desain id card, mencarikan tempat sablon dan pembuatan spanduk, ikut jeprat-jepret saat acara berlangsung, padahal Kafka mempunyai job desk lain sehingga membuatnya memiliki double job desk. Amanda terkesima, pada kebaikan hati Kafka yang tak pernah ia duga.

Fania lain cerita. Ia wanita paling mandiri yang pernah Amanda kenal. Ia termasuk jajaran cewek tangguh yang mampu melakukan apapun sendirian, selama ia mampu dan sanggup lakukan. Fania jarang mengeluh dan selalu melakukan semua job desk yang dilimpahkan kepadanya dengan semangat luar biasa. Terkadang ia sering menghilang sementara dari Amanda dan Kafka akibat terlalu sibuk dengan kerjaannya, dan ini kesempatan yang Amanda tunggu. Hanya ada dirinya dan Kafka, nama Fania seperti ditelan bumi saja.

Amanda selesai mengganti pakaian dan mengeringkan rambutnya. Setelah mematut dirinya di depan cermin dan merasa sempurna, ia keluar dari kamar mandi, berniat menemui Fania dan Kafka yang ia yakini pasti sibuk mengurusi map coklatnya. Wajahnya terpasang senyum cemerlang sampai matanya terbelalak menatap apa yang ada di hadapannya.

Fania.

Kafka.

Hot chocolate-nya.


***

Amanda berlari menjauh. Tak peduli dengan teriakan Fania dan Kafka yang memanggil-manggilnya dari pintu ruang senat. Amanda benar-benar tidak peduli lagi. Badannya semakin kuyup karena air hujan. Giginya bergemeletuk karena kedinginan. Tiba-tiba semuanya menjadi sangat jelas telihat sekarang. Antara Fania, Kafka, dan dirinya.

Amanda tidak pernah membaca. Bagaimana sorot mata Kafka yang memandang Fania.
Amanda tidak pernah meraba. Bagaimana cara Kafka membantu Fania.
Amanda tidak pernah merasa. Bagaimana Kafka begitu mempedulikan Fania.

Kafka membantu Fania dalam kerendahan hatinya. Tak perlu semua orang tahu bahwa ia yang selalu menemani malam Fania. Hatinya hangat saat Fania tersenyum menyambutnya dengan pensil yang terselip di bibir atau dengan kaca mata yang setengah melorot di dalam kamar kosnya yang berantakan. Tanpa disuruh ia membuatkan teh hangat ketika gadis itu kedinginan saat malam menempa tubuhnya dan masih harus berjibaku dengan setumpuk tugas kuliah dan mengerjakan job desk-nya sebagai sekretaris senat. Fania melakukannya tanpa bicara, tak pernah sedikitpun terdengar mengeluh, bahkan lebih sering tersenyum menularkan sejuta semangat pada dirinya. Pernah Kafka berniat membantu apa saja yang bisa dikerjakannya untuk Fania, tapi Fania dengan tegas menolaknya. Ada prinsip yang dipegang teguh Fania hingga saat ini yang harus dihormatinya. Kalau kita yakin dengan kemampuan kita dan yakin kita bisa menyelesaikan pekerjaan kita dengan baik, kenapa harus membutuhkan tangan lain untuk mengerjakannya? Itu sama saja kalau kita meragukan kemampuan kita sendiri. Kafka menatapnya dengan tatapan heran sekaligus kagum. Begitu mandirinya gadis di hadapannya ini sementara gadis lain banyak yang bergantung kepada orang lain demi pekerjaannya sendiri. Fania tertawa lalu mencubit hidung Kafka gemas. "Bukannya aku sombong atau apa, aku hanya belajar untuk percaya pada kemampuanku sendiri Ka." Begitu penjelasannya waktu itu. Kafka memandangnya sekali lagi. Tampak wajah Fania merona entah karena apa, yang jelas hati Kafka berdesir hebat. Ingin rasanya ia memeluk gadis dihadapannya ini, tapi ia terlalu takut. Masih terlalu dini. Ia, Fania, gadis istimewa bagi seorang Kafka dan ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan terus berada di samping Fania, membantunya apa saja, walau gadis itu tak pernah meminta.

Fania sadar, ada sesuatu antara dirinya dan Kafka. Lewat pertemuan malam-malam mereka. Hanya berdua, tak pernah terlihat sosok Amanda di sana. Ada rasa yang Kafka bawa. Ada getar yang mewarnai hatinya. Ada rindu ketika Kafka tak ada menemaninya. Fania yakin, terselip cintanya untuk seorang Kafka.

***

Amanda selalu yakin bahwa ia bisa mendapatkan lelaki itu.
Apa yang kurang dari dirinya? 
Sebagai wanita ia dikaruniai wajah yang cantik, rambut ikal yang indah, kulit seputih pualam, wangi alami tubuhnya yang semerbak mawar.

Kenyataan membuatnya terhempas hingga ke dasar jurang. 
Menyadarkannya akan suatu keadaan.
Kafka tak pernah menganggapnya lebih dari seorang sahabat. Sekeras apapun Amanda berusaha.
Terungkap sudah kebohongan yang diciptakannya sendiri.
Ia yang membohongi hatinya, berkata bahwa Kafka menginginkannya.
Ia bukan lagi setangkai mawar penggoda kupu-kupu cantik itu
Ia tak mau lagi tertawa menyembunyikan kerapuhannya.
Amanda menangis perlahan.
Berharap akan datangnya sebuah kejujuran.
Setidaknya jujur dengan hatinya sendiri.

***








Minggu, 16 September 2012

Dialogue

Aku besok pergi.
 Kemana?
Jepang. 
 Mendadak sekali?
Maaf. 
 Untuk apa ke Jepang?
Aku dapat beasiswa S2 di sana. Maaf aku baru memberitahumu sekarang.
 ....
Kamu nggak apa-apa?
 ....
Aku minta maaf. 
 Lalu aku kamu tinggalkan, begitu?
Terserah kamu.
 Maksudnya?
Kalau kamu yakin kamu kuat dengan hubungan kita, jangan lepas aku. Tapi, kalau kamu merasa lelah, lepas aku saat itu juga.
 Kamu aneh!
Aku cuma nggak mau nambah beban kamu. Kalau ada seseorang yang bisa menggantikan posisi aku di sini, berbahagialah dengan dia. Tinggalkan aku.
 ....
Lyn?
 ....
Kamu punya wanita lain?
Tidak.
Aku hanya punya kamu.
 ....
Aku akan berusaha. Setia.
....
Jangan! Kalau itu memberatkanmu, sungguh lepaskan saja aku.
 Kamu tidak menginginkan aku lagi?
Bukan, bukan itu. Aku menginginkanmu, lebih dari apapun.
Aku hanya...
Aku hanya tak ingin kamu menderita karena aku.
 Aku bilang aku akan berusaha, akan kutepati janjiku untuk setia.
Berjanjilah satu hal lagi padaku Lyn..
 Apa?
Jika kesetiaanmu telah memudar, tolong tinggalkan aku.
 ....
Lyn?
 ....
Aku berjanji.




*** 

Black Confetti 5

Aku melangkahkan kaki ke arah trotoar yang sepi. Daun-daun pohon rindang yang di tanam di pinggir jalan bergerak seiring semilir angin yang menggelitiknya. Menikah. Satu kata itu masih menjadi sumber penyakit dalam diriku. Harus berapa lama? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Tiga puluh tahun? Atau sampai maut memisahkan kah? Ada perjanjian yang dulu sempat terucap antara dua keluarga, keluargaku dan keluarga Aras tentunya. Sebuah perjodohan yang harus kami laksanakan dan kedua keluarga tentu tidak akan menerima sebuah kata penolakan.


Usiaku terpaut delapan tahun dengan Aras. Sebagai lelaki yang setidaknya jauh lebih tua seharusnya dia bisa menjadi teman yang baik, bukan seseorang yang egois dan bertindak menyebalkan seperti ini yang selalu membuat hatiku panas sejak pertama kali mengenalnya di rumah sakit dulu. Sorot matanya begitu menilaiku rendah. Belum lagi ia selalu sibuk dengan gadget di tangannya yang seakan sudah seribu tahun menempel di sana. Aku bahkan masih hafal benar percakapan pertama kami, percakapan yang membuatku perasaanku jatuh terpelanting dan gondok setengah mati.

"So, kamu masih kuliah?" tanyanya sambil matanya tak lepas dari gadget di tangannya. Ya, lihat saja, bahkan ia tidak memandangku sama sekali!

"Ya, aku kuliah. Tingkat akhir," jawabku mencoba sopan. Ku pandangi wajahnya yang nampak serius melihat ke layar Ipad-nya.

"Yakin mau nikah?" tanyanya lagi dengan gayanya yang tidak acuh. Aku terdiam sesaat, bingung.

"K-kamu memang nggak mau?" aku balik bertanya dengan gugup. Ia melepas pandangan dari Ipad-nya sejenak lalu menatapku. Memberikan senyuman paling mengejek yang pernah ku lihat.

"Mana mungkin aku mau, anak kecil. Begini, usiaku 28 dan yang aku butuhkan itu pendamping yang dewasa, yang bisa membuatku bahagia. Aku nggak mau menikah dengan orang yang jelas nggak punya kriteria itu. Jadi,buang khayalan kamu untuk menikah denganku ya. Aku pastikan hari ini juga aku akan protes mengenai perjodohan kita, entah kamu suka atau nggak."

Mulutku membulat sempurna. Heran dengan apa yang diucapkan lelaki di hadapanku. Apa katanya tadi? Aku anak kecil?!!!

"Tunggu Ras!!" sergahku saat melihat Aras yang akan pergi. Ia menoleh. Wajahnya terlihat malas. Hah!! Pantas saja namanya Aras, Aras malas. Hhhh

"Siapa juga yang ingin menikah dengan kamu?!! Kalau bukan karena perjodohan idiot ini juga aku nggak mau nikah sama kamu, om tua bangka!!" balasku menggebu-gebu. Beberapa orang di sekitar kami melirik penasaran, sambil menjaga kupingnya agar tetap waspada mendengarkan. Jarang-jarang menemukan gosip menarik seperti ini di rumah sakit bukan?

Lelaki yang ku panggil om-om tua bangka itu menggeram. Rahangnya terkatup rapat. Mulutnya sudah terbuka untuk mengucapkan serangan balasan tetapi kedatangan Mama yang tiba-tiba mengagetkan kami. Matanya berkaca-kaca.

"B-beliau, k-koma..."

***

Angin malam yang berhembus semakin kencang semakin membuat tubuhku menggigil kedinginan. Entah sudah berapa lama aku berjalan sendirian di atas trotoar ini dan sudah sejauh apa kaki ini melangkah dari suite mewah itu. Keputusan untuk keluar dari suite itu muncul begitu saja. Kelakuanku yang kabur-kaburan seperti ini semakin memperkuat pemikiran lelaki itu kalau aku memang benar-benar masih anak kecil. Ya biar saja, toh aku tidak peduli apa yang dipikirkannya tentang diriku.

Bibirku gemetar, angin malam semakin mengganas menusuk ke tulang. Aku harus kemana sekarang? Balik ke suite itu atau pulang ke rumah? Aku benar-benar tak punya pilihan.

***

Sabtu, 15 September 2012

Black Confetti 4

Lima jam.


Aku berdiri, berjalan mondar-mandir seperti setrika tua yang mengeluarkan uap panas berlebih, bahkan berasap! Ya, bayangkan saja, aku menunggu manusia sadis itu selama lima jam di dalam suite bodoh ini. Jangankan mengirim SMS atau BBM untuk memberitahu alasannya menghilang, memberitahu dia akan pergi kemana saja, tidak sama sekali. Oh, jangan berpikiran bahwa aku sedang mengkhawatirkan Mr. Sadis itu! Itu adalah pemikiran paling mengerikan dan tidak akan pernah terjadi. Alasan sebenarnya karena aku hanya ingin keluar dari suite ini sesegera mungkin! Tidak mungkin aku pulang sendiri ke rumah 'kami' (tolong siapkan ember, aku mau muntah) dan memberikan segudang pertanyaan pada keluarga yang telah menunggu di rumah. Kenapa aku sudah pulang? Kenapa aku pulang sendiri? Dimana Aras? (Yeah, lelaki sadis yang kini menjadi suamiku bernama Aras). Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan itu hah? Apa harus ku jawab, "Oh aku nggak tahu Arsa kemana. Sewaktu aku bangun tadi dia udah nggak ada dan sepertinya nggak punya rencana untuk balik ke hotel deh." Bisa jantungan semua anggota keluargaku!



Plak! Aku menepuk jidatku. Ingatanku ternyata tidak begitu buruk. Kemarin bukannya Sara menelepon lelaki itu? Dan fakta yang dapat disimpulkan atas menghilangnya Arsa dari tempat ini dan meninggalkanku sendirian adalah, lelaki itu pergi menemui Sara! Ya benar sekali!!



Otakku semakin mendidih. Enak sekali dia menghabiskan waktu dengan pacarnya yang cantik jelita itu sementara aku di sini menunggunya pulang seperti istri bodoh kesepian yang termehek-mehek karena suaminya ketauan selingkuh! Eww, aku tidak perduli jika lelaki itu masih menemui Sara, pacarnya sebelum ia menikah, koreksi, terpaksa menikah dengan diriku, atau masih mencintainya sekalipun, aku benar-benar tidak perduli!



Aku menggenggam Blackberry-ku dengan perasaan campur aduk. Sebenarnya aku bisa saja menghubunginya, tapi gengsiku terlalu tinggi untuk melakukan itu. Tanganku seakan tersetrum hebat ketika mengetikkan namanya di atas keypad. Tapi, mau sampai kapan aku menunggunya di dalam suite ini sementara dirinya entah sedang melakukan apa bersama Sara dan tak jelas kapan pulangnya?!!

Blackberry dalam genggamanku bergetar. LED-nya berkedap-kedip berwarna merah. Oh, semoga saja ini dari lelaki itu yang menghubungiku.


***



Lembayung sore berwarna oranye pelan-pelan mulai terlihat menggantung satu-satu di langit. Matahari sedang memutar haluannya ke arah barat. Siap untuk melandas. Aku menghirup nafas kuat-kuat dari atas balkon setinggi 48 lantai ini. Mencoba untuk lebih bersabar, sedikit lagi sebelum aku benar-benar kabur dari sini. Mengingat BBM yang dikirimkan Mama tadi aku merasa bersalah. Lagi, kebohongan yang aku sampaikan. Beliau menggodaku dengan isi BBM-nya, menanyakan apa persediaan lingerie yang ia siapkan di koperku cukup atau tidak. Aku meringis membacanya sambil mataku teralihkan ke arah satu koper hitam yang teronggok di sudut ruangan. Satu koper lingerie itu malah tak terpakai Ma, balasku mencoba untuk jujur. Namun ternyata Mama tidak menangkap kejujuran kata-kataku. Imajinasinya melayang jauh, membayangkan kalau aku memang tidak membutuhkan lingerie itu karena, yah kau pasti tahu sendiri alasannya bukan? Sungguh, bukan seperti itu maksudku sebenarnya. Di akhir BBM-nya, Mama meminta sesuatu yang membuat perutku bergejolak tak karuan, dan kepalaku langsung pening seketika.

Bawa calon cucu ya sayang kalau kamu nyampe rumah. Aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak pingsan.


***



Aku mengurut kepalaku yang benar-benar terasa pening sekali sekarang. Bertubi-tubi BBM yang aku terima dari teman-teman kuliahku tak sempat ku balas. Dari yang mengucapkan selamat menempuh hidup baru, happy wedding, semoga awet sampai kakek-nenek, sampai, kok bisa sih nikah secepat itu? Kamu hamil? Siapa ayahnya Cas? Aku nggak nyangka kalau ternyata kamu seperti itu, maaf aku nggak bisa datang ke pernikahanmu ya.



Pernikahan seharusnya menjadi momen yang sangat mengharukan dan membahagiakan bukan? Aku sendiri nggak pernah nyangka bahwa pernikahanku akan seperti ini. Bayangan menikah ala film kartun Disney pun hancur barantakan. And Cinderella live happily ever after, kalimat penutup yang diutarakan sang narator di akhir cerita, saat Cinderella akhirnya menemukan pangeran sekaligus cinta sejatinya. Aku iri padamu, Cindy! Aku bahkan belum menemukan Mr. Right hingga saat ini tapi harus dengan terpaksa menerima Arsa menjadi pangeran itu. Kalau saja perjanjian bodoh masa lalu itu tidak tercipta, mungkin aku masih bahagia dengan kehidupan perkuliahanku tanpa embel-embel status, sebagai istri. Ya walau Arsa mengizinkanku untuk tetap berkuliah yang aku yakin ia memang tak perduli aku mau apa dan bagaimana, tapi embel-embel status itu yang terasa memberatkan bahuku. Belum lagi komentar-komentar miring yang timbul di kepala teman-temanku karena aku menikah secepat ini, bahkan persiapannya pun hanya dua minggu. Catat!! Hanya DUA minggu!



Aku berjalan menuju kursi malas yang diletakkan di balkon. Menggesernya agak ke depan sehingga matahari sore bisa dengan leluasa menyinari. Ku putuskan untuk segera merebahkan punggungku pada sandaran kursi malas itu dan menyelonjorkan tungkaiku yang panjang. Tubuh ini ku biarkan untuk menyerap sinar matahari sore yang tampak malu-malu. Ku pejamkan mataku, mencoba untuk rileks. Membuang segala pikiran yang membuat batinku gundah gulana, tak perlu berlama-lama. Setidaknya sampai ada malam yang menggantikannya.



***



"Sampai kapan kamu mau tidur-tiduran santai di sini?" Sebuah suara bariton mengagetkanku. Serta merta aku membuka kelopak mata yang terasa berat. Pandanganku lurus menatap gedung-gedung pencakar langit yang nampak indah akibat lampu-lampu yang dipasangnya. Ternyata hari sudah gelap. Ahh, berapa lama aku tertidur?



Pandanganku teralihkan oleh suara berdeham yang sepertinya disengajakan oleh pemiliknya. Aku melirik dengan malas. Ada Aras yang nampak santai berdiri di pinggir balkon memakai celana khaki dan kemeja longgar berwarna biru langit. Rambutnya bergoyang-goyang, nampak sedikit acak-acakan karena angin mempermainkannya. 



Ia menatapku. Sorot matanya aneh, seperti bukan dirinya.

"Aku pikir kamu sudah pulang." Ujarnya menyebalkan. Seketika emosiku naik. Oh, apakah manusia ini tidak berpikir hah?!!

"Apa? Kamu pikir aku gila pulang ke rumah sendirian? Apa yang akan dipikirkan keluarga kalau aku nekat pulang sendiri tanpa kamu?!" 

"Ya kamu kan bisa bilang, aku ada urusan mendadak. Atau apapun terserah kamu. Atau memang sebenarnya kamu nggak mau pisah dariku?" tanyanya dengan nada menggoda. Sebelah alisnya ia naikkan dan bibirnya menyunggingkan senyum mengejek. 

"Oh ya? Jangan pernah berharap!!!" sentakku kasar kemudian pergi meninggalkannya dengan hati mendidih. Dia benar-benar menyebalkan.


***



Aku membereskan koper-koperku. Menaruhnya di dekat pintu keluar lalu bergegas mengahmpiri Aras yang baru saja selesai mandi. Lagi, bau aftershave-nya membuat kepalaku pusing. 

"Aku harap kamu cepat berpakaian lalu antarkan aku pulang ke rumah," ucapku sedikit parau melihat pemandangan di hadapanku. Air masih menempel di tubuhnya yang hanya terbalut handuk tebal dari bagian pinggul ke bawah. Sial!

"Aku capek. Kita pulang besok saja. Lagi pula, suite ini memang di pesan untuk tiga hari kan? Sayang banget kalau harus pulang sekarang." Ia berjalan menuju mini WIC kemudian menghilang di balik lemari cokelat yang menghalangi pandanganku. 

Aku bergegas menghampirinya, tak perduli harus dengan cara apapun, aku harus pulang malam ini karena aku benar-benar sudah tidak tahan. 


Oh My God! Pemandangan di depanku benar-benar membuatku sesak nafas. Mataku terpaku pada otot-otot tubuhnya yang terlihat keras dan peluk-able, ya katakan aku sinting. Dia benar-benar memiliki tubuh yang indah!! Gila! Aku seharusnya dilarang melihat pemandangan ini, tapi siapa yang tega menolak pemandangan ini?? Oh my...

Sebuah t-shirt hitam tiba-tiba lolos memasuki kepalanya, lalu membungkus tubuhnya yang atletis. DAN!!! Astaga!! Ternyata dia hanya mengenakan boxer! 
Secepat kilat aku pergi meninggalkan WIC dan mengatur nafasku yang memburu. Itu tidak boleh Cassandra. Tidak boleh!!


***



Aras keluar dari mini WIC itu kemudian duduk di hadapanku. Aku melihat dari ekor mataku kalau Aras sudah memakai celana khaki pendek,menutupi ehm boxer-nya. Rambutnya masih terlihat basah dan tersisir dengan rapi. Ingin sekali aku julurkan tangan ini dan mengacak-ngacaknya gemas. 


"Kamu sudah makan?" tanyanya. TUMBEN!!!
Aku tak mengacuhkan pertanyaannya dan malah sibuk memencet-mencet keypad Blackberry, berpura-pura sibuk. 

"Kamu mau makan apa?" tanyanya lagi. Tuh kan benar? Aras sedang gila! Pertemuannya dengan Sara tadi nampaknya membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Ya sedikit.

Aku semakin berpura-pura sibuk. Malas berbicara dengannya. Alasan utamanya agar aku tak menatap wajahnya yang bersih dan menggila dengan mengacak-acak rambutnya. 

"Kamu itu bisu atau apa? Jangan pikir aku perduli padamu karena aku mengajakmu makan malam, tapi aku hanya nggak mau ketika kita pulang besok tahu-tahu berat badanmu menyusut berpuluh-puluh kilo dan aku yang akan disalahkan karena tidak bisa mengurusimu dengan baik!"

Aku meringis dalam hati. Ternyata Aras tidak berubah. Ia masih kejam dan egois, yang dipikirkannya hanyalah dirinya sendiri. Aku menaruh Blackberry-ku di atas meja kemudian menantang wajahnya. 

"Kamu egois!" Hanya kata-kata itu yang mampu ku ucapkan. Mata kami masih saling memandang benci. 

"Kamu laki-laki paling egosi yang pernah aku temui! Apa kamu pernah pikir kalau aku juga manusia? Punya perasaan. Aku nunggu kamu dari tadi pagi, kamu ngilang entah kemana. Bahkan kamu pamit pun NGGAK. Oke aku bukannya ingin dihargai sebagai istri atau apalah itu sebutannya, tapi kalau Papa, Mama aku sama kamu nanya, kamu kemana? Aku jawab apa! Apa aku mesti jawab, nggak tau Ma, Pa, tadi pas aku bangun Aras udah ngilang. Nggak tau kemana. Aku yakin semua orang pasti sibuk ngomong ini ngomong itu tentang pernikahan kita, dan aku paling takut kalau Eyang Mer sampai tahu ini semua!! Aku nggak peduli kamu mau pergi ke mana, sama siapa, ngapain aja, nggak izin ke aku juga bodo amat, tapi tolong, hargai aku aja sebagai setidaknya manusia! Hhhh" aku beringsut meninggalkan kursi, dan tanpa pikir panjang pergi meninggalkan suite ini.



***





Jumat, 14 September 2012

Menunggu


Aku terjerumus
Dalam gelap bayangmu
Pekat menghunusku perlahan
Aku dan kau nyata
Tapi kau tak tersentuh
Membingkai ketakutanku semakin dalam

Satu detik
Dua detik
Waktu terasa angin kosong
Walau tak bermakna
Aku tak merasa percuma

Aku menunggumu 
Lelah dan peluh tak jadi soal
Aku masih menunggumu
yang tak perduli padaku
Aku tak merasa percuma

Bayangan hitam itu kini kian mendekat
Menepuk tengkukku perlahan
Menyisakan sedikit kerinduan yang tak tersampaikan
tentang dirimu

Kau hanya perlu tahu
Aku masih menunggumu
Walau nadi sudah tak lagi berdetak
Walau waktu telah berhenti untuk berpijak

Bayangku mendekati sisimu
Meniupkan asaku sungguh-sungguh
Dua dunia yang coba ku lewati
Berusaha menembus waktu yang telah berbeda

Aku tahu ini tak mungkin
Namun aku percaya
Bayang pekatmu yang kini berganti
Menungguku diantara dua sisi.