Rabu, 31 Oktober 2012

Transformation

Pengumuman: gue "menjanda" lagi malam ini. Sekian. Terima kasih.

Lima menit setelah update status di twitter yang menandakan bahwa aku resmi jadi janda malam ini, setitik ide jahil muncul di kepalaku. Aku meraih Iphone-ku dan memencet nomor Beno. Setelah nada sambung yang ke entah-delapan-mungkin, Beno baru mengangkatnya.
"Ya, Lex ada apa?" tanyanya.
"Aku sakit Ben, tiba-tiba aja pusing, badanku panas, lemes banget Ben. Kamu pulang ya, sekarang," kataku.
"Kamu suruh si Mbok aja ke rumah ya, bentar lagi aku ada operasi."
"Lama Ben, lagian di apartemen kan nggak ada mobil, bakalan lama kalau nunggu si Mbok dateng, aku udah nggak kuat Ben, pusing banget nih.." pintaku dengan nada paling memelas sedunia. Ku dengar Beno mendesah.
"Oke," katanya singkat lalu menutup telepon.

Iphone hitam itu kuletakkan begitu saja di atas nakas. Hatiku gembira menunggu dokter galak itu pulang ke rumah di Kebagusan. Kalau aku tidak berpura-pura sakit seperti ini, mana mungkin dokter paling sibuk sedunia itu mau buru-buru pulang dan menemani aku yang sendirian di rumah.

Entah kenapa walau waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam aku merasa sangat kegerahan, bahkan AC di dalam kamar pun tak ada pengaruhnya walau sudah ku setel ke temperatur paling rendah. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berjalan ke arah balkon kamar, dan membuka pintunya, berharap angin malam dapat menghilangkan kegerahan ini.

Bulan terlihat indah. Bulat, sempurna. Aku melihat tanggalan di samping Iphone yang kuletakkan tadi dan menemukan bahwa hari ini tepat tanggal 15. Pantas saja bulan membulat sempurna sekarang. Dan sepertinya, menghabiskan malam berdua dengan Beno di balkon ini romantis juga. Aku tersenyum membayangkannya.

Tak sampai lima belas menit, aku mendengar suara mobil di bawah. Beno bulu itu pulang juga! Aku langsung melejit ke atas kasur, melatih beberapa ekspresi paling sakit dan menderita yang ku bisa agar Beno percaya kalau aku benar-benar sakit. Lima detik kemudian, wajahnya sudah berada di atasku.

"Kamu kenapa Alexandra? Sakit apa?" tanyanya khawatir sambil memegang dahiku yang tidak panas.
"Dahi kamu nggak panas, Lex."
Ups!!
"Masa sih Ben, tadi panas kok. Nih aku masih sakit, pusing-pusing, nggak enak badan Ben," kataku bohong. Beno meringsut menjauh dari tempat tidurku kemudian mengeluarkan Iphone-nya, menelepon seseorang.
"Ya, saya butuh ambulans sekarang juga, ya di Kebagusan!" bentak Beno pada orang di telepon. Seketika tubuhku menegang, kok malah begini sih?!
"Ben, nggak usah panggil ambulans Ben, aku nggak separah itu," ujarku panik. Beno melihatku sekilas.
"Lex, aku harus pergi, aku nggak bisa jagain kamu sekarang. Nanti ada ambulans dan perawat RS datang ke sini, kamu ikut aja sama mereka ya. Aku pergi dulu." Beno tiba-tiba saja keluar kamar dan tanpa pikir panjang aku langsung mengejar dirinya.
"Ben!! Benoooo!!" Napasku tersengal saat aku sampai di depan rumah. Lho?! Mobil Beno masih terparkir sembarangan di luar pagar dan tak ada tanda-tanda kalau dia sudah keluar.
"Ben?! Benooo?!!" panggilku panik, sadar kalau aku sedang berada di luar rumah tengah malam begini.

BRUKK!!!
KRAKK!!

Aku terkesiap. Seluruh darah di tubuhku seperti mengalir begitu deras. Membuat jantungku kelabakan memompanya. Suara itu seperti suara berdebum, kencang diikuti suara sobekan. Secepat kilat aku masuk ke dalam rumah dan kembali ke kamar, berlari menuju balkon untuk menutup pintu, namun..
ada robekan pakaian yang berserakan di atas rumput, seperti sengaja dirobek oleh pemiliknya. Itu pakaian milik Beno!

"Benoooooo!!!!" teriakku semakin panik. Beno tidak menampakkan wajahnya sama sekali. Ku teriakkan sekali lagi namanya, kali ini lebih kencang, namun Beno tak muncul juga.

Tiba-tiba suara lolongan panjang mengagetkanku dan sejuta cerita masa lalu yang pernah Ibu Beno ceritakan padaku saling menerjang otakku.
Lolongan? Bulan purnama? Tanggal 15? Dan...

"Beno?"

Setengah mati aku menahan untuk pingsan saat aku melihat sesosok werewolf dihadapanku. Berwarna hitam legam dengan mata emasnya yang menakutkan.

"Beno, itu k-kamu?" Aku mendekatkan diri ke arah werewolf itu, mengelus bulu-bulunya yang lebat dan panjang.
Ada satu fakta yang tak terelakkan yang menyadarkanku bahwa itu benar-benar dirinya.
Bulunya!! Bulu werewolf itu! Bulu milik Beno!


(Spin from Twivortiare, 310)




Selasa, 30 Oktober 2012

Lantai Sembilan

         "Tapi kamu ngerti kan, itu nggak gampang? Apalagi sekarang, dia udah jadi bawahanku langsung. Aku nggak bisa secara frontal nyuekin dia atau gimana." Adjie menatapku.
          "But, please, try, Ji, for me. Please."
           Adjie akhirnya mengangguk. "Anything for you, Dre."
        "Aku menyentuh pipinya. "Kamu makin panas nih, Ji. Kita pulang aja ya, makan, terus kamu minum obat, biar kamu setelah itu langsung balik ke rumah dan istirahat."
        Adjie mengiyakan kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia menggenggam tanganku sepanjang perjalanan kami menuju lift yang akan membawa kami ke basement, tempat mobil Adjie diparkir.
            Ting!!
Pintu lift terbuka. Kosong melompong, tentu saja, karena saat ini sudah lewat dari jam normal pulang kantor. Tangan Adjie masih menggenggamku. Lembab dan berkeringat. Kulihat wajahnya yang kini pucat seperti kapas. 
          "Ji." Aku memanggilnya. Ia menoleh ke arahku, pandangannya seperti tak bernyawa, hampa. Apa ini semua karena percakapan kami di kantorku tadi? Aku mengerti kalau dia sedang sakit, tapi kali ini ia sangat berbeda. Seperti bukan Adjie yang biasanya, kali ini dia sangat pendiam.
         Tiba-tiba pintu lift terbuka tepat di lantai sembilan. Pandanganku terarah ke depan, menunggu orang lain yang menekan lift ini masuk. Namun beberapa detik berlalu tak ada seorang pun muncul. Keringat dingin mulai membasahi pelipisku.
          "Ji, nggak ada orang.." bisikku pada Adjie yang kini memejamkan matanya dan kurasakan genggaman tangannya padaku menjadi lebih dingin. Entah ini akibat AC atau suhu tubuh Adjie yang naik turun akibat demam. Aku melepaskan tangannya perlahan, berjalan ke depan dan mencoba menekan tombol untuk menutup lift cepat-cepat karena perasaanku sudah mulai tak enak. Begitu pintu lift tertutup dan aku berbalik untuk menghampiri Adjie, jantungku rasanya mencelos ke lantai.
      Ada seorang wanita cantik yang berdiri di sebelah Adjie, matanya fokus menatap Adjie yang nampaknya tidak sadar kalau wanita itu memperhatikannya dengan seksama. Rambutnya panjang sepunggung, tingginya kurang lebih sama denganku, dan wajahnya pucat. Aku berdiri terpaku, tak sanggup untuk berbicara. Dadaku rasanya seperti dihantam berton-ton batu sehingga aku merasa sesak napas. Ingin rasanya untuk teriak dan keluar dari lift ini cepat-cepat namun tubuhku tak sanggup untuk ku gerakkan. Dan wangi kamboja pun menguar. Memenuhi udara di dalam lift ini bercampur dengan karbon dioksida dan ketakutanku. Wanita itu mengangkat tangannya, memperlihatkan kuku-kuku kotornya yang panjang dan mulai menyentuh wajah Adjie yang masih memejamkan matanya. Matanya kini menatapku tajam sementara tangannya tak berhenti membelai, menyentuh wajah Adjie.
            Aku masih berusaha untuk berbicara dan bergerak, namun seluruh syaraf di tubuhku seakan lumpuh. Otakku hanya bisa mencerna tatapan wanita itu terhadapku lewat matanya yang kini berubah warna. Merah! 
Lift masih terus berjalan tanpa aku tahu sudah di lantai berapa kami sekarang. Ketakutanku semakin membesar dan diriku rasanya tercengkram oleh tatapan dan matanya yang menyeramkan, namun entah kekuatan dari mana yang mampir dalam diriku sehingga aku dapat berbicara. 
       "H-hentikan m-menyentuh Adjie!!" suaraku mirip desisan namun aku tahu bahwa wanita itu bisa mendengarku. Ia menjatuhkan kedua tangannya dari wajah Adjie dan berjalan mendekatiku. Langkahnya seperti terpaan angin, halus dan tak berbekas. Aku mengerti bagaimana wanita ini masuk ke dalam lift tadi saat aku mengira tak ada siapapun di lantai sembilan. Matanya terus mengawasiku, masih berwarna merah, sarat akan kebencian sekaligus kesakitan. Tiba-tiba ia menunduk, menjauh dariku dan mendekat ke arah Adjie yang tak kunjung membuka matanya, diam tak bergerak. Susah payah aku menggerakkan kakiku untuk menjauhkan Adjie dari wanita itu namun lagi-lagi kakiku seperti terkunci. Ia tertawa, menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga. Tawanya panjang namun lambat laun berubah menjadi tangisan. Wanita itu merintih, seperti pedih tangisannya. Kemudian terdengar suara bersenandung. Sebuah lagu yang familier di telingaku. 

Lingsir wengi
Sepi durong bisa nendro
Kagodo mring wewayang kan ngreridu ati

Kawitane mung sembrono njur kulino
Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno

Nanging duh tibane
Aku dhewe kang nemahi
Nandang bronto kadung loro
Sambat sambat sapa...

Aku terhenyak. Lagu itu bukan lagi terasa familier, dia seperti memiliki nyawa tersendiri. Ku lihat Adjie yang kini membuka matanya memasang wajah ngeri ke arahku. 
"K-kamu nyanyi apa Andrea?" tanyanya ketakutan. Aku membeku. 
Nyanyian itu keluar dari bibirku.

***

note: cerita di-spin dari novel A Very Yuppy Wedding by Ika Natassa (hlm: 149)

Rabu, 24 Oktober 2012

Pergi

Wanita itu berada di sana. Duduk di tempat yang strategis sehingga pengunjung lain tak akan dapat melihatnya dengan jelas. Sofa cokelat yang didudukinya terhalang oleh etalase kayu yang terletak persis di sampingnya dan andai aku tidak menyipitkan mataku, aku pasti tidak dapat melihatnya. Aku melangkah pelan dan sudah ku atur hati ini agar sesaknya tak sampai muncul ke permukaan. Sulit memang tapi harus ku lakukan.

Aku mencapai sofa yang didudukinya dan ia mendongak melihatku datang. Ekspresinya langsung berubah seketika. Ia kelihatan tegang. Aku mengambil tempat duduk di hadapannya dan melihat ke arah matanya yang menatapku takut-takut. Wanita ini terlihat rapuh. Wajah cantiknya terlihat pucat dan ia diam menatapku. Aku tahu ia sangat gelisah. 

"Uhm, hai. A-aku Adel," sapa wanita itu kikuk. Ia menjulurkan tangannya, mengajak diriku untuk bersalaman. 

"Saya tahu kamu siapa. Kamu juga pasti tahu siapa saya," jawabku tak mengacuhkan uluran tangannya. Aku tak ingin dia menyentuhku, tak satu inchi-pun!

"Ehm, y-ya. M-Miranda Ramadhirga,"

Hatiku seperti diiris sembilu ketika dia mengucapkan namaku. Jelas sekali kalau itu bukan merupakan nama asliku. Ada nama milik seseorang yang tersemat di sana, dan aku yakin, wanita ini pasti sangat menyadarinya.

"So, Adel, saya nggak mau kita pura-pura seakan nggak ada kejadian apapun diantara kita, saya hanya mau nanya, kenapa kamu melakukannya?" tanyaku to the point, lelah dengan semua cerita dan keadaan yang penuh dengan basa basi. Wanita itu menunduk, menautkan jemarinya dengan gelisah, dan ketika ia mendongak, sebulir air mata bening meluncur di pipinya yang mulus. Oh yang benar saja! Kalau ada yang harus menangis itu aku! Bukan dia!

"A-aku, uhm aku minta maaf. Aku minta maaf atas semua yang terjadi antara aku, kamu, dan ..."

"Cukup!!" potongku tak sabar. Aku tak ingin mendengarnya menyebutkan namanya. Sulit menerima jika ada wanita lain yang juga mengucapkan namanya dengan perasaan yang sama.

"Tolong, saya hanya ingin tanya mengapa kamu melakukannya. Saya sama sekali tidak menyukai basa-basi!" ujarku tak sabar menahan emosi yang bergejolak di dada.

"Miranda,, aku sadar kalau aku salah. Aku yang menggodanya, aku yang mendekatinya terlebih dulu, aku yang meneleponnya terus menerus sepanjang waktu, aku yang mendatanginya ke kantornya, aku yang tak ingin ia berpisah dariku. Maafkan aku Miranda,,". Air matanya tumpah sudah. Drama sekali wanita ini!!

"Oh," responsku datar. Ia mengakuinya, wanita yang terlihat polos, lugu, dan rapuh ini mengakuinya!

"Harus ku sebut apa dirimu ini hah? Pelacur?!" kataku tajam. Matanya yang basah membulat mendengar perkataanku. 

"Pe-pelacur?". Ia menatap wajahku, ada sakit hati baru yang kini melekat di matanya. 

"Ya, kamu pelacur! Tega sekali kamu merusak hubungan kami! Apa sudah tidak ada lagi pria di dunia ini yang ingin membiayaimu hidup heh? Atau tidak ada pria lagi yang sanggup memberimu harta berlimpah selain Adrian?!! Kenapa harus Adrian, astaga ya Tuhan!!!" 

Wanita itu menunduk lagi, tangannya sibuk mengelap air matanya yang semakin deras mengalir. Apa sih yang diinginkan wanita ini sebenarnya! Aku yang seharusnya menangis seperti itu, aku yang seharusnya yang lebih sakit hati!

"Simpan air mata busukmu itu pelacur! Muak sekali saya melihat kamu seperti ini!" bentakku tapi dengan suara sepelan mungkin agar pengunjung restoran ini tak mendengar percakapan kami.

Aku mengamati dengan seksama wanita yang duduk di hadapanku. Baru kusadari, tak ada barang mewah branded yang melekat di tubuh mungilnya. Tak ada make-up sempurna yang menghiasi wajahnya. Oh tentu saja Miranda! Ia tidak akan memakai semua barang berharga yang dimintanya pada Adrian jika ia akan menemuimu.

"Tinggalkan Adrian!" perintahku setelah diam kami yang cukup lama.

Ia menatapku seketika. Wajahnya penuh ketakutan dan kesakitan luar biasa. Perkataanku seperti kutukan bagi dirinya. Ya, mungkin dia sedih dan terkejut karena ia harus meninggalkan sumber penghasilannya selama ini.

"Oh, kumohon Miranda. Aku tidak bisa meninggalkannya,"

"Sebutkan angka dan masalah ini akan ku anggap clear!" 

"Angka?" wanita ini bertanya bingung atau pura-pura bodoh aku tak mau ambil pusing.

"Berapa yang kamu butuhkan? Berapa yang biasa Adrian keluarkan untukmu lalu kalikan lima, dan saya akan  anggap ini selesai!"

Wanita itu terkesiap. Wajahnya semakin pucat. Matanya menyorotkan kesedihan yang luar biasa, pura-pura!

"Adrian tidak pernah memberiku uang Miranda, kalau itu yang kau maksud. Ia tak pernah memberiku apapun, tidak rumah, tidak apartemen, tidak semua barang-barang mewah, tidak apapun!" wanita itu berontak. Sorot matanya membara menatap diriku. 

"Bohong! Pelacur pembohong!" tuduhku berapi-api.

"Aku tahu kau akan sulit memercayai ini semua, tapi semua yang ku katakan benar Miranda. Aku mencintai Adrian, sudah lama. Mungkin saat sebelum kamu bertemu dengannya, aku sudah berhubungan dengannya. Hubungan yang singkat tapi aku tak pernah menyesalinya sampai aku menemukan diriku hamil,"

Dadaku serasa dihantam batu dengan berat berpuluh-puluh kilo. Hamil? Adrian menghamili? Oh tidak mungkin! Wanita itu tersenyum. Ia membuka dompet kumalnya dan mengeluarkan lima lembar foto. 

"Lihatlah," katanya.

Lima lembar foto seorang anak kecil, perempuan. Cantik, berambut ikal, bermata bulat besar, dan berkulit putih. Aku ingin menyangkalnya, itu sudah pasti. Wanita pelacur ini pasti membohongiku. Namun di foto ke empat aku terdiam cukup lama. Foto perempuan kecil itu dengan Adrian, sepertinya diambil di sebuah taman kanak-kanak karena perempuan itu memakai seragam sekolah dan banyak anak kecil lain yang tak sengaja jadi objek fotonya. Sesuatu dalam foto itu membuatku ingin menangis saat ini juga. 
Mata itu.
Mata perempuan kecil itu.
Berwarna abu-abu, sama dengan Adrian.

"Dia anakku, Rachel. Anak Adrian juga. Hubungan singkatku dengan Adrian hanya berlangsung dua bulan, lalu ia meninggalkanku dan aku pun sadar diri. Siapa pula di dunia ini yang ingin berhubungan denganku. Aku hanya perempuan sederhana yang tak memiliki apapun mana pantas hidup dengan Adrian. Lima tahun yang lalu, saat aku tahu kalau aku hamil, aku melarikan diri dari kota ini. Menjauh untuk melupakan Adrian karena aku sadar kalau dia tahu tentang kehamilanku, dia pasti akan menyuruhku menggugurkan kandungan ini. Aku tidak mau itu menimpa anakku. Aku berpikir aku bisa menyembunyikan ini semua, dari Adrian, dan terutama dari Rachel sampai suatu ketika saat Adrian sedang menemui klien-nya di kotaku, kami tidak sengaja bertemu. Kamu tahu Miranda, aku mati-matian berusaha mendekatinya lagi, menghubunginya terus menerus, mengganggunya dengan semua sms-smsku, hanya demi Rachel. Dia begitu sedih karena dia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Semakin besar, Rachel terus menanyakan ayahnya. Aku tak sanggup berbohong padanya dengan mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal atau apa, karena aku tak sanggup. Aku melihat Rachel seperti melihat Adrian kecil dengan sosok perempuan. Mata abu-abunya, rambutnya yang ikal, kebiasaannya yang sering membaca buku sebelum tidur, mengingatkanku dengan Adrian. Oleh karena itu, aku berusaha demi Rachel. Setidaknya, dia tahu kalau ayahnya itu ada.."

Aku terdiam cukup lama. Kini aku yang menangis. Entahlah, seperti semuanya kini terlihat jelas sekarang. Tak ada lagi kesempatan bagi diriku dan lebih baik aku yang mundur karena aku tak ingin melihat anak kecil itu bersedih karena ia harus kehilangan ayahnya lagi. Itu terlalu berat dan aku sangat mengerti perasaan itu, karena aku pun pernah mengalaminya. Aku bahkan tak tahu ayahku siapa dan ada dimana ia sekarang. Apakah ia masih hidup atau sudah meninggal. Itu menyesakkan.

"Aku mencintainya Miranda, karena dia ayah dari anakku. Namun, ia tak pernah mencintaiku. Tidak sekalipun, bahkan saat kami melakukan hubungan pun itu murni hanya karena nafsu yang tak dapat dibendungnya sendiri. Aku bodoh Miranda karena mencintai pria yang kau juga cintai. Dan aku minta maaf jika aku mencintai suamimu dan aku akan terus berjuang untuk diriku dan Rachel. Cintaku tak dapat ditukar dengan apapun Miranda, termasuk semua harta yang kau miliki sekalipun. Aku terlalu mencintainya dan aku memang egois, aku akan membuatnya menicntaiku dan mencintai Rachel, anak kandungnya, jadi aku mohon Miranda, jangan pernah kau memintaku untuk meninggalkan Adrian, karena, aku tak akan sanggup melakukannya,," 

Aku menggelengkan kepalaku tak percaya mendengar apa yang dikatakannya. Dia tak akan berhenti mencintai dan membuat Adrian mencintainya dan anak kecil itu. Apa yang harus ku lakukan ya Tuhan?! Mengapa mencintai saja begini sulit adanya. Mengapa harus ada wanita ini berserta anak kandung suamiku yang mengganggu kehidupan kami?! 

Aku menangis dalam diam. Mencoba mencerna kembali semua perkataannya yang membuat diriku sakit seperti ini. 

"Lihat, siapa yang menangis sekarang Miranda dan hati-hati aku akan mendapatkan Adrian karena aku tak mau kehilangan untuk kedua kali. Mengerti?"

Wanita itu bangkit dari duduknya tanpa menunggu jawabanku. Kegelisahan menjalar disekujur tubuhku. Apa harus aku berjuang untuk cintaku? Berjuang untuk seseorang agar dia dapat terus melihatku dan mencintaiku sementara ada wanita lain yang berjuang juga untuk mendapatkan cintanya? 

Wanita itu memiliki apa yang akan menjadi kelemahan Adrian. Seorang anak. Hatiku terasa dicabik-cabik mengingat suatu fakta bahwa aku tak mungkin dapat memberikan apa yang sangat dia inginkan seiring tiga tahun pernikahan kami.

Lelaki mana yang akan memilih wanita yang tidak dapat memberikan keturunan baginya?

Aku yang akan pergi, karena aku yang mencintai.

***


Minggu, 21 Oktober 2012

Elena

Sudah dua jam berlalu tetapi perempuan itu masih berada di sana. Duduk sendiri di bawah naungan atap halte kecil yang sepi. Wajahnya pucat pasi, air tak berhenti menetes dari ujung-ujung rambutnya yang kusut. Sisa hujan yang menerpa tubuhnya yang tak terlindung apapun selain rok lusuh berwarna gading dan kemeja polos berwarna merah muda. Ia duduk, bergelung dengan tubuhnya sendiri. Memeluk tubuhnya yang mungkin kedinginan. Sesekali bahunya bergerak naik turun. Ia menggigil, bibirnya bergerak gemetar, perlahan membiru.

Aku masih setia dengan tempat dudukku. Sejak dua jam yang lalu. Pandanganku tak lepas dari sosok perempuan bertubuh mungil di hadapanku. Dengan jelas aku dapat melihatnya karena kedai kopi ini tepat menghadap jalan yang sepi kendaraan. Hanya orang-orang yang membutuhkan ketenangan dan memiliki waktu khusus untuk dapat berdiam di sini, menikmati pemandangan jalan yang dihiasi pohon-pohon besar dan tua di kiri dan kanannya, menikmati sejuknya udara bersama secangkir kopi yang beraroma wangi.

Perempuan itu kini menengadah. Matanya menantang langit yang sepertinya enggan berkompromi dengannya. Aku dapat melihat wajahnya dengan jelas sekarang. Melihat bagaimana ekspresinya saat ia masih menemukan rintik yang menghalangi perjalanannya. Matanya membulat indah. Ekspresi kesalnya sangat kentara terlihat. Tangannya masih berada di sana, melingkupi tubuhnya yang kurus kering, mencoba melawan rasa dingin yang aku rasa itu percuma saja.

Aku menyesap kopiku perlahan. Ini sudah cangkir ke lima yang kuhabiskan selama dua jam aku duduk di sini. Mencoba mencari alasan yang pantas bagi otakku yang membutuhkan penjelasan mengapa aku masih berada di sini padahal seharusnya satu jam yang lalu aku harus beranjak dari tempat ini dan kembali pada rutinitasku di kantor. Senyumku terurai saat aku berpikiran bahwa sekretarisku pasti kewalahan menjawab berbagai panggilan telepon dan membatalkan beragam pertemuan bisnis penting hari ini. Jangan tanya mengapa aku seperti ini, karena aku pun tidak tahu apa alasannya. Tidak bahkan untuk hatiku sendiri.

Di luar masih gerimis. Jalanan itu masih sepi, dan waktu hampir menunjukkan pukul lima. Hampir tiga jam aku membuang-buang waktuku di sini dan perempuan itu masih berada di sana. Duduk sendiri dengan kedua tangan yang memeluk tubuhnya erat-erat seakan takut terlepas. Aku jengah menunggu seperti ini. Hatiku berdebar tak beraturan semenjak tiga jam yang lalu. Saat ia dengan senyum cerianya membuka pintu kaca kedai kopi ini dan duduk persis di meja sudut di sebelahku. Kuncir kudanya bergoyang pelan saat ia mendongak, kemudian melambai pada seseorang yang baru saja datang. Pipi perempuan itu merona dan kecantikannya seperti bertambah seratus kali lipat saat seseorang itu datang menghampirinya.

Lelaki itu berpakaian formal. Jelas sekali ada sedikit perbedaan yang terlalu mencolok di sini. Dengan lelaki yang tampak dominan dengan segala yang dikenakan tubuhnya dibandingkan dengan sang perempuan yang terlalu sederhana untuk mengimbanginya. Aku memperhatikan mereka lewat sudut mataku sambil sesekali mencuri pandang untuk menatap ke arah mereka yang tampaknya sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius. Tak lama, sepuluh menit kemudian aku melihat jelas kalau lelaki itu meninggalkan perempuan itu di sini. Sendirian.

Perempuan itu terdiam cukup lama. Ia memegangi dadanya dengan kedua tangannya yang bebas. Seperti sedang menahan sesuatu yang amat berat. Wajah cerianya seketika menghilang dan rona di pipinya ikut memudar. Ada yang salah dengan dirinya, aku menyadari itu. 

Hujan mulai turun setelah langit dinaungi awan hitam semenjak pagi tadi. Semakin lama semakin deras dan lebat. Membuat siapapun enggan untuk menerjang cuaca seperti ini. Kecuali dia. Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya. Masih memegang dadanya dengan kedua tangannya yang ringkih. Ia tampak menarik napas sebelum mendorong keluar pintu kaca kedai ini dan ia berlari. Menerjang hujan, kemudian duduk di halte kecil itu sampai sekarang. Hampir tiga jam.

***

Dadaku bergemuruh kencang saat tak sengaja mata kami bertatapan. Walau letak halte itu sekitar lima meter dari tempat aku duduk sekarang, aku  dapat dengan jelas menatapnya. Kami bertatapan cukup lama. Ia seakan menelanjangiku hanya dengan tatapannya dan itu membuat tubuhku kaku seketika. Ia, perempuan ini, perempuan yang ada di hadapanku saat ini, walau kami terpisah oleh dinding kaca yang melapisi, aku mengenalnya. Aku baru menyadari itu.

Perempuan yang sama. Sepuluh tahun yang lalu. Saat aku baru saja lulus dari sekolah bisnis di Dartmouth, merayakan kelulusanku di sebuah pub kecil khusus mahasiswa di sana dan saat itulah aku bertemu dengannya. Seorang perempuan yang kikuk dan polos yang bahkan tak sanggup menghabiskan satu gelas air soda sementara perempuan di sekelilingnya sibuk meminta bartender untuk menyediakan mereka berbagai minuman yang jelas lebih dari segelas air soda.

Sepuluh tahun membuatnya terlihat lebih kurus. Bahkan aku sempat tak mengenali saat dia datang ke kedai ini dan duduk di sebelah mejaku sekitar lima belas menit. Wajahnya tirus sekarang, sungguh benar-benar berbeda dengan dirinya sepuluh tahun lalu saat aku menghampirinya yang terlihat canggung di dalam pub. Perkiraanku tidak salah saat itu. Ia hanya diajak oleh teman perempuannya yang sama-sama orang Asia itu untuk merayakan kelulusan salah satu temannya yang kebetulan bersekolah di Dartmouth juga.

Aku menyukai sikap kikuk dan canggungnya saat kami mulai berkenalan. Suaranya selembut beledu ketika ia mengucapkan namanya dan terasa menyengat seluruh panca inderaku. I'm Elena, katanya waktu itu.

Aku bangkit dari tempat dudukku dan berlari secepat mungkin yang ku bisa dan mengejar perempuan yang tiba-tiba saja menghilang dari pandanganku. Aku tak menyadarinya karena pikiranku sibuk kembali ke waktu sepuluh tahun lalu. Napasku tiba-tiba tercekat. Ia kini ada di hadapanku, berdiri menghadapku dengan tangan yang masih melingkar erat membalut tubuh kurusnya. Tidak salah lagi. Ia benar-benar Elena.

"Elena,," hanya kata itu yang terucap dari bibirku yang tiba-tiba berasa kelu. 

"N-Nicholas?" 

Aku tergeragap. Tubuhku serasa dihantam martil berulang-ulang. Ada perasaan nyeri dan rasa bersalah yang kucoba kubur sepuluh tahun ini keluar sudah. Aku mengangguk, perasaan sedih kembali melingkupi hatiku. Kejadian sepuluh tahun lalu yang mengoyak hatiku dan membiarkannya mati perlahan-lahan.

Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku sendiri untuk tak terjatuh lagi. Tapi mengapa hanya dengan melihat matanya yang menatapku intens seperti ini meluluhlantakkan perasaanku? Sepuluh tahun adalah masa lalu dan tak ada gunanya untuk mengingatnya kembali kini. Aku memutar tubuhku yang serasa kaku. Mencoba memaksakan kakiku unyuk berjalan menjauh. Menjauh dari sumber kehilanganku sepuluh tahun terakhir. 

Biarkan aku yang kini meninggalkannya. 

***

Selasa, 09 Oktober 2012

Black Confetti 6

Akhirnya aku memutar arah. Pilihan itu benar-benar tidak ada sama sekali. Kalau kau berkata bahwa kembali ke suite merupakan sebuah pilihan, well, itu sebenarnya bukan pilihan. Aku sebenarnya bisa saja melanjutkan langkahku, menyetop taksi lalu pergi entah kemana, yang jelas bukan pulang ke rumah, untuk menjernihkan pikiranku. 

Aku terus melangkah sambil sesekali memandang jalanan yang kini mulai sepi. Sempat kulihat jam di tangan menunjukkan pukul sembilan malam. Tentu ini bukan jam aman bagi seorang perempuan untuk berjalan-jalan menikmati semilir angin dan nyamannya berjalan kaki di pedestrian seperti ini. Maka kuputuskan untuk melangkah lebih cepat menuju hotel, setidaknya aku aman di sana jika dibandingkan berada di jalanan malam-malam seperti ini. 

Langkah kakiku terhenti seketika. Tubuhku berasa kaku dan otakku benar-benar tumpul sekali. Sebuah sosok hitam berdiri sekitar lima meter dihadapanku. Wajahnya benar-benar tak terlihat, terhalang oleh bayangan pohon rimbun di kanan kirinya. Tubuhnya tinggi besar, benar-benar membuatku takut setengah mati. Bagaimana kalau dia itu penjahat? Kriminal? Pembunuh? Atau bahkan pemerkosa?!! Ya Tuhan!! Aku benar-benar takut sekarang! Dapat kurasakan dadaku bergemuruh kencang, ketakutan.

Tanganku bergerak gemetar ke arah kantong celana jeansku dan mencari handphone yang biasa aku taruh di sana. Setidaknya aku akan menghubungi seseorang yang dapat kuminta bantuan. Sial!! Handphonenya ternyata tidak ada! Ya, aku baru ingat ketika aku kabur tadi, tak satupun barang-barang yang ada di dalam suite yang aku bawa, termasuk barang-barang pribadiku. 

Aku berjalan pelan-pelan, menunggu sosok hitam itu menyingkir. Namun jarak antara kami semakin sempit. Dia masih berdiri di sana, diam tak bergerak seperti patung sementara aku berjalan ala siput mencoba melewatinya. Sebetulnya jika aku berhasil melewati sosok itu dan berbelok ke tikungan, tak sampai lima menit, aku dapat langsung sampai di hotel itu, tapi kali ini rasanya seperti berabad-abad.

Jarak kami sekarang hanya tinggal dua meter. Sosok itu semakin jelas terlihat karena dia berdiri tepat di bawah lampu jalan yang temaram. Dia pria, berusia hampir tiga puluh tahun, memakai celana santai berwarna khaki dan jaket hitam membungkus tubuhnya yang atletis. Gemuruh di dadaku lambat laun melemah. Kakiku terasa kaku sekali melangkah, alhasil aku berdiri terpaku menghadapnya. Wajahku pasti terlihat bodoh sekarang.

***

"Kalau mau kabur, pastiin dong handphone-nya dibawa," ucap seseorang yang berdiri tak jauh dari kakiku. Aku diam, tak ingin menanggapi ucapannya yang bernada mengejek itu. Ia berjalan mnghampiriku. Jarak kami sekarang tak lebih dari tiga puluh sentimeter. Dari jarak sedekat ini aku dapat mencium aroma parfumnya. Bukan jenis parfum yang beraroma strong yang biasanya digunakan seorang pria pada umumnya, tetapi ini jenis yang lebih halus, lebih melenakan, dan membuat pikiranmu ikut berhenti sejenak. 

Matanya menatap wajahku. Belum pernah aku menatapnya dari jarak sedekat ini. Ia terlihat memesona, bahkan dalam keremangan lampu jalan sekalipun. Ia tersenyum. Tangannya bergerak membelai wajahku. Sial, sial sial!!! Ini keterlaluan! Tapi kenapa rasa-rasanya seluruh anggota tubuhku menjadi lumpuh seperti ini. Apa yang sebenarnya pria ini lakukan! Tubuhku rasanya ingin meledak saat ia menurunkan kepalanya sehingga bisa sejajar denganku sementara jemarinya masih menelisik setiap inchi wajahku. Matanya tak lepas menatap mataku. 

"Kamu gemetaran," ucapnya singkat kemudian menegakkan tubuhnya dan menciptakan jarak seperti semula, seperti yang selalu ia lakukan. Aku kaget dengan apa yang diucapkannya. Dia menyadari kalau aku gemetaran, gemetar atas tingkahnya yang membingungkan dan gemetar karena dia memandang wajahku dengan begitu intensnya. 
"Ayo pulang. Udah malam, kalau mau kabur ingat ya, pastikan kamu bawa handphone kamu," ujar Aras tiba-tiba meraih tanganku dan kami berjalan bergandengan seperti dua remaja kasmaran melewati keheningan malam. 

***

"Aku lihat kamu diam aja dari tadi. Kenapa?" tanya Aras begitu kami sampai di suite. Ia melepas jaket hitamnya dan melemparkannya begitu saja ke sofa. Ia mendekatiku yang sedari tadi duduk di pinggir tempat tidur. Aku sadar bahwa tindakanku sedari tadi hanya diam, bengong, diam, bengong seperti orang bodoh akibat sikap Aras yang tiba-tiba aneh seperti ini. Apa sebenarnya yang direncanakan Aras? 

Aras berjalan mendekatiku kemudian duduk di sebelahku membuatku waspada. Ia memutar tubuhnya sehingga ia bisa melihatku dengan leluasa. 

"Kamu marah San?" tanyanya lagi. Mau tak mau aku menatap wajahnya. Sejak kapan manusia satu ini peka terhadap perasaanku? Ini aneh!

"Biasanya bibir kamu ini hobi banget ngomong pedes sama aku, udah bosen?" Pria ini jelas-jelas menggodaku. Ia mengangkat jemari kanannya dan menyentuh bibirku. Kali ini aku tidak bisa diam!

"Kamu apa-apaan sih!" sungutku sambil menghentakkan secara kasar sentuhannya pada bibirku.

"Haha, ratu jutek is back! Aku seneng kamu balik kayak gini dari pada diem-diem pasang tampang beloon kayak tadi," Aras tertawa, matanya masih memandang wajahku. 

Aku mendengar suara tawa seorang wanita. Awalnya malu-malu kemudian terdengar lepas. Aku sadar. Itu suaraku sendiri. entah kenapa, tawa Aras begitu menular. Baru kali ini aku mendengar suara tawanya dan aku ikut tertawa mendengar tawanya. Ku rasakan hatiku sedikit menghangat karenanya.

"Kenapa ketawa?" tanyanya iseng. Ia menjawil hidungku, tapi kali ini aku membiarkannya. Terbawa suasana hati yang sedang menghangat sepertinya.

"Karena kamu ketawa," jawabku malu-malu. Ku rasakan aliran darah kini sedang meluncur deras ke wajahku, membuatnya merona.

"Aku tadi nyari kamu," ucapnya tiba-tiba. Menggantikan suasana yang hangat menjadi separuh mencekam. Aras mencariku? 

"Kenapa?" tanyaku. Ku putar tubuh ini supaya bisa kami dapat saling berhadapan.

"Nggak tau, karena kamu nggak ada dan aku kesepian diam di sini sendirian," Aras menggeser duduknya sehingga tak ada jarak lagi yang memisahkan antara aku dan dirinya. Jantungku berdegup tak karuan.

Aras mengulurkan tangannya ke arahku. Menyentuh jemariku dan menggenggamnya kemudian mencium setiap buku-buku jariku. Aku benar-benar ingin pingsan sekarang.
Dering telepon mengagetkan kami berdua. Secepat kilat ia melepaskan genggamannya dan salah tingkah mengangkat telepon yang berada di atas meja sudut. Aku berusaha menetralkan pernafasanku yang tiba-tiba serasa sesak sambil mendengarkannya menerima telepon.

"Hai sayang," sapanya pada seseorang di telepon.
Sayang!! Siapa lagi wanita yang biasa dipanggilnya sayang kecuali Sara! Tiba-tiba aku merasakan cemburu hebat menggerogoti hatiku. Bisa-bisanya dia berlaku romantis kepadaku sementara ia masih memanggil perempuan lain dengan sebutan sayang! Aku bangkit dari tempat tidur, membuka kembali koper-koperku dan mengambil sepasang piyama kuning. Aku akan tidur dan tak sabar menunggu esok hari saat aku pulang ke rumah dan menjauh dari Aras sebelum- sebelum aku jatuh terlalu dalam terhadapnya.

***

Aku meringkuk di atas tempat tidur, dengan piyama kuning dan memeluk guling. Aras pergi satu jam yang lalu. Mungkin ia menemui Sara dan bermalam dengannya entah dimana atau berjalan-jalan berdua atau entahlah, aku benci memikirkannya. Dan aku sudah berusaha setengah mati untuk bisa tidur, tetapi mata ini tidak mau diajak kompromi. Satu tempat tidur ini habis ku jelajahi dan berpuluh-puluh posisi tidur telah ku coba tapi tetap saja tidak ada hasil. Mataku masih terang benderang dan aku benci. 
Suara langkah kaki membuatku siaga. Siapa itu? Apa...

"Kamu belum tidur Cassandra?" tanyanya tepat di atas wajahku. Aku terkesiap sebentar kemudian menggeleng.

"Aku nggak bisa tidur," jawabku terbata-bata.
Sedetik kemudian kurasakan bobot tubuh Aras yang menempel di belakangku. 

Ia melingkarkan tangannya pada tubuhku. Mendekapku erat seakan takut kehilangan diriku. Ya Tuhan!
"Kamu wangi," ucapnya santai di telingaku. Kurasakan wajahnya yang  menempel di rambutku. Tubuh Aras begitu hangat. Dadanya menempel bagai lem dengan punggungku. Tangannya sesekali membelai perutku, kemudian bibirnya menjelajah di sekitar tengkukku. Membuatku bergidik, merasa geli. Detik berikutnya ia melepaskan bibirnya kemudian fokus memelukku erat dari belakang. Ia bersenandung, entah lagu apa yang dinyanyikannya yang jelas di detik berikutnya aku sudah terlelap dengan perasaan nyaman sekaligus penasaran.

***